Hanung Bramantyo Ajak Generasi Muda Ingat Sejarah Lewat Film 'Lobang Buaya'

Hanung Bramantyo mengungkapkan bahwa film ini relate dengan dirinya yang besar di era orde baru. Mengapa begitu?

oleh Umar Syarifuddien SjadjaahDiterbitkan 27 September 2026, 22:54 WIB
Hanung Bramantyo - © KapanLagi.com/Kinanti Kayla Putriku

Liputan6.com, Jakarta - Sutradara ternama Tanah Air, Hanung Bramantyo, kembali menghadirkan karya personal yang sarat akan pesan mendalam. Melalui film terbarunya yang berjudul Lobang Buaya, Hanung mengajak generasi muda Indonesia untuk tidak melupakan sejarah kelam bangsa, khususnya tragedi kemanusiaan di sekitar tahun 1965.

Film yang diproduksi oleh Adhya Pictures bekerja sama dengan Hanung Bramantyo ini telah memulai proses penulisan skenario sejak tahun 2024, dan diikuti proses syuting pada akhir tahun 2024. Sebelum dijadwalkan tayang di Indonesia pada 1 Oktober mendatang, film ini sudah lebih dulu melaksanakan World Premiere di International Film Festival Rotterdam 2026.


Kembalikan Ingatan Sejarah Lewat Horor

Hanung mengungkapkan bahwa film ini lahir dari kontemplasi pribadinya selama masa pandemi Covid-19. Sebagai seseorang yang tumbuh di era Orde Baru, menurutnya, pemerintah Orde Baru kala itu sengaja mengemas tragedi kemanusiaan 1965 menjadi sebuah horor untuk menakut-nakuti masyarakat terhadap ideologi komunis.

Berangkat dari pengalamannya tersebut, Hanung memilih genre horor sebagai medium untuk mempertemukan fiksi dengan sejarah kelam Indonesia yang hingga kini belum sepenuhnya terungkap secara resmi.

"Peristiwa ini tidak boleh hilang dari ingatan kolektif, apalagi anak-anak muda sekarang," ujar Hanung. Ia berharap film ini dapat memicu masyarakat, terutama generasi muda, untuk mengingat tragedi tersebut dan mendorong adanya investigasi menyeluruh serta rekonsiliasi yang jelas mengenai alasan di balik terjadinya peristiwa 30 September 1965.


atar Belakang 1964 dan Isu 'Tujuh Setan Desa'

Film Lobang Buaya mengambil latar waktu tahun 1964, tepatnya 309 hari sebelum peristiwa 30 September 1965. Hanung menyoroti situasi sosial-politik di sebuah desa pada masa itu, di mana terdapat istilah propaganda "tujuh setan desa". Istilah ini merujuk pada para pejabat yang menghisap rakyat dan petani kecil demi mendukung kepentingan tuan tanah atau korporasi besar.

Hanung menilai situasi ketimpangan sosial dan kehadiran "setan desa" tersebut masih sangat relevan dan tercermin dalam kondisi Indonesia saat ini.

"Pertanyaannya adalah kenapa justru PKI-nya yang dihilangkan dan tujuh setan desanya masih ada sampai sekarang. Enggak cuma di tingkat desa, tapi di tingkat yang lebih gede," tegasnya.


Kolaborasi Aktor Muda dan Senior

Selain menyajikan pesan sejarah yang kuat, film ini juga didukung oleh penampilan dari para aktor muda seperti Baskara Mahendra yang memerankan karakter Sugeng, Carissa Perusset sebagai Arum, Anya Zen sebagai Ningsih dan Khiva Iskak sebagai Suraji.

Selain itu, melengkapi penampilan apik para aktor muda, Mathias Muchus yang sudah memiliki banyak nama di layar lebar juga turut hadir sebagai karakter kunci, Sukarya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya