Hasil Pertemuan Trump dan Xi Jinping di Gedung Putih

Presiden AS Donald Trump dan Xi Jinping bertemu di Gedung Putih, fokus pada perdagangan, AI, dan persaingan strategis.

oleh Septian DenyDiterbitkan 25 September 2026, 16:30 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Ibu Negara Melania Trump, Presiden China Xi Jinping, dan istrinya, Peng Liyuan, menyaksikan atraksi baris-berbaris Silent Drill Platoon di helipad baru dari Balkon Blue Room Gedung Putih, Washington. (Dok. AP Photo/Alex Brandon)

Liputan6.com, Washington, DC - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyambut Presiden China Xi Jinping di Gedung Putih pada Kamis (24/9). Pertemuan tersebut menjadi sorotan di tengah pembahasan mengenai perdagangan, kecerdasan buatan (AI), serta persaingan strategis yang terus berkembang antara kedua negara.

Pertemuan Trump dan Xi juga menghasilkan sejumlah catatan penting, mulai dari perpanjangan kesepakatan perdagangan hingga perbedaan pandangan mengenai Taiwan dan AI.

Kesepakatan Dagang Diperpanjang untuk Sementara

AS berhasil mengamankan perpanjangan gencatan perdagangan pada pekan ini, meski hanya untuk waktu singkat.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan kedua negara sepakat memperpanjang selama dua bulan kesepakatan perdagangan yang mengakhiri perang dagang tahun lalu dan seharusnya berakhir pada November.

Menurut Bessent, perpanjangan tersebut memberikan Washington dan Beijing "lebih banyak waktu untuk melihat apa yang dapat kita lakukan di bidang ekonomi".

Namun, perpanjangan itu belum menyelesaikan persoalan utama. Sejumlah isu seperti tarif, pembelian produk China, pasokan logam tanah jarang, serta pembatasan teknologi masih akan menjadi bahan negosiasi berikutnya.

Bessent mengatakan pada Rabu bahwa Beijing telah memenuhi kewajibannya dalam kesepakatan sebelumnya untuk membeli 25 juta ton kedelai. Namun, China masih tertinggal dari komitmen membeli produk pertanian AS lainnya senilai US$17 miliar.

Pejabat AS juga menyebut pengiriman logam tanah jarang masih berada di bawah target. Kondisi tersebut menunjukkan masih adanya kesenjangan yang signifikan dalam hubungan perdagangan kedua negara.

Bagi perusahaan, situasi tersebut kembali menciptakan ketidakpastian. Tarif masih berada pada tingkat yang lebih rendah untuk saat ini, tetapi keputusan bisnis tetap harus dibuat di tengah kebijakan yang masih dapat berubah.

Trump dan Xi Tampil dalam Jamuan Kenegaraan

Kunjungan Xi ke Gedung Putih juga menjadi kesempatan bagi Trump untuk memperlihatkan Washington yang tengah dibentuk sesuai dengan visinya.

Setelah Xi menjamu Trump di Beijing dengan mengajak Presiden AS itu berkeliling kuil dari era Dinasti Ming dan taman berpagar yang jarang dibuka untuk warga asing, Trump membalasnya dengan pertunjukan berbeda.

Pasukan yang mengenakan wig dan topi tricorne berbaris dalam formasi sambil memainkan musik di Rose Garden yang telah didesain ulang menyerupai klub golf milik Trump.

Pesawat tempur dan pembom juga melintas di atas lokasi dalam rangkaian upacara yang digelar pada Rabu dan Kamis. Salah satu penerbangan bahkan terdengar sangat keras hingga membuat Trump terkejut.

Ketika awak media Gedung Putih dipanggil untuk meliput kedua pemimpin, mereka bukan untuk mendengarkan pembahasan mengenai urusan kenegaraan yang berat. Sebaliknya, mereka menyaksikan Trump dan Xi berkeliling melihat helikopter Marine One serta South Lawn Gedung Putih yang baru didesain ulang, lengkap dengan helipad besar bergambar segel kepresidenan.

Saat berbicara kepada wartawan, Trump justru menghindari pertanyaan mengenai pembahasan kebijakan dengan Xi.

"Dia menyukai granit yang bagus," kata Trump tentang Xi. "Pertemuan yang luar biasa."

 

Xi Minta AS Bijak soal Taiwan

Seperti yang diperkirakan, isu Taiwan turut dibahas dalam pertemuan tersebut.

Menurut kantor berita resmi China, Xi mengatakan China berharap AS "menangani masalah Taiwan dengan bijaksana".

Layanan berbahasa Inggris dari kantor berita tersebut juga menyebut Xi berharap AS menentang kemerdekaan Taiwan.

Pernyataan itu akan menjadi versi yang lebih tegas dibandingkan formulasi Washington selama ini yang menyatakan tidak "mendukung" kemerdekaan Taiwan. Hingga kini, tidak ada tanda bahwa pemerintahan Trump berencana mengubah penggunaan istilah tersebut.

Gedung Putih belum segera merilis keterangan mengenai percakapan tersebut. Namun, pejabat AS selama ini menghindari pernyataan secara eksplisit bahwa Washington menentang kemerdekaan Taiwan.

Perubahan bahasa dalam kebijakan tersebut dapat memunculkan pertanyaan mengenai keteguhan Washington dalam membela Taiwan dan memicu penolakan di Kongres.

Risiko Strategis AS-China

Dalam pertemuannya dengan Trump, Xi kembali mengangkat istilah "Thucydides Trap", sebuah teori akademis yang menyebut persaingan antara kekuatan yang sedang bangkit dan kekuatan yang telah mapan cenderung mengarah pada perang.

Meski Xi mengatakan risiko tersebut "dapat diatasi", penyebutan istilah itu menunjukkan bahwa kekhawatiran mengenai kemungkinan konflik militer AS-China masih membayangi hubungan kedua negara.

Xi mengatakan kedua negara sama-sama dapat memperoleh keuntungan dari kerja sama dan mengalami kerugian jika terjadi konfrontasi. Ia juga menyerukan dialog militer secara rutin serta penguatan mekanisme pencegahan krisis.

Sementara itu, Trump mengangkat sejarah bersama kedua negara untuk menekankan peluang kerja sama. Menurutnya, AS dan China dapat melakukan banyak hal dengan mengejar kepentingan bersama, seraya mengingat kembali aliansi kedua negara pada masa perang melawan Jepang.

 

Trump dan Xi Berbeda Pandangan soal AI

Trump dan Xi juga menunjukkan pandangan yang berbeda mengenai perkembangan kecerdasan buatan atau AI.

Trump, yang menyatakan bahwa AI seharusnya disebut "super intelligence" atau SI, mengatakan dalam unggahan di media sosial bahwa ia ingin "membiarkannya persis seperti sekarang" dan mengandalkan Departemen Kehakiman AS tanpa menerapkan batasan baru.

Trump juga mengatakan China memiliki pandangan yang sama.

Namun, Xi menyampaikan pandangan berbeda. Pada Kamis, ia mengatakan China dan AS sebagai negara terdepan dalam AI memiliki tanggung jawab untuk mengelola perkembangannya.

"Kita memiliki kemampuan dan tanggung jawab untuk mengembangkan dan mengelola AI demi kebaikan, serta memastikan bahwa pengembangan AI selalu berada di bawah kendali manusia dan melayani kesejahteraan masyarakat," kata Xi.

Sejumlah nama besar di industri AI juga diperkirakan menghadiri jamuan makan malam kenegaraan yang digelar Trump di Gedung Putih untuk Xi pada Kamis. Di antaranya CEO Alphabet Sundar Pichai, CEO OpenAI Sam Altman, dan CEO Nvidia Jensen Huang.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya