Liputan6.com, Jakarta - Tim SAR gabungan belum berencana membuka kembali operasi pencarian besar-besaran terhadap lima jurnalis dan dua awak kapal yang belum ditemukan. Hari ini, Polda Banten memastikan satu jenazah di Pulau Enggano, Bengkulu, atas nama Surakman, ABK kapal.
Meski demikian, proses koordinasi dan pencarian dengan melibatkan Basarnas Lampung dan Bengkulu untuk menyisir pantau dan pulau terus dilakukan di wilayahnya.
Advertisement
"Jadi kalau untuk perpanjangan dan hingga saat ini, kami sudah melakukan koordinasi dengan Kantor SAR Bengkulu dan Kantor SAR Lampung untuk wilayah pesisir dan para nelayan yang ada di sekitar," ujar Kepala Basarnas Banten, Al Amrad, Rabu, (23/09/2026).
Tim SAR Gabungan Banten juga terus menyebar informasi melalui menara VTS Merak agar memberitahu ke seluruh kapal yang berlayar di Selat Sunda, jika menemukan material identik Arupadhatu 1 agar bisa dilaporkan. Komunikasi dengan nelayan hingga masyarakat pesisir juga terus dilakukan, untuk mendapatkan informasi terbaru.
"Pemapelan termasuk e-broadcast terhadap instansi terkait, termasuk nelayan dan para masyarakat yang di pesisir, termasuk yang di sekitar Pulau Enggano," terangnya.
Dalam peraturan Basarnas menjelaskan bahwa, proses pencarian korban dilakukan selama tujuh hari, namun bisa diperpanjang jika menemukan korban, material atau lokasi pastinya.
Saat Arupadhatu 1 hilang kontak pada Senin, 07 September 2026, Tim SAR Gabungan sudah menyusuri wilayah Banten, Lampung hingga Bengkulu, namun tidak menemukan para korban. Total, ada 24 alat utama (alut) SAR dikerahkan, mulai dari KRI, kapal Basarnas, Kapal Polairud hingga helikopter.
"Dengan luasan kurang lebih 16.840 nautical mile. Ini menyangkut wilayah Lampung, Banten, termasuk sampai ke Bengkulu. Ini dimulai dari hari pertama dan hari ke-10 itu tidak ada objek-objek yang kita tunggu," jelasnya.
Nasib 7 Orang Hilang Kontak
Dalam kesempatan yang sama, Kapolda Banten, Irjen Pol Hengki, belum bisa memastikan kondisi tujuh orang lainnya. Tim SAR Gabungan hanya akan mengungkapkan data dan fakta yang sudah mereka temukan. Agar tidak membuat kegaduhan dan menghargai keluarga korban.
"Bagaimana korban yang lain, saya belum tahu apakah mereka selamat atau enggak. Saya berdasarkan data-data yang ada seperti yang kita temukan sekarang," ujar Kapolda Banten, Irjen Pol Hengki.
Begitupun mereka tidak ingin berandai-andai, jika kapal Arupadhatu 1 beserta penumpangnya terbawa arus ke liang negeri, seperti ke Australia. Untuk diketahui, bagian Selatan Pulau Jawa, berbatasan langsung ke Pulau Natal yang masuk ke dalam wilayah Australia.
"Kalau korban-korban yang lain atau yang belum ditemukan, ternyata mereka mungkin selamat, mungkin terbawa ke luar negeri, saya tidak tahu dan tidak saya jawab itu," terangnya.
Termasuk penyebab hilangnya para jurnalis dan awak kapal Arupadhatu 1, apakah kapal tenggelam atau karena faktor lainnya. Tim SAR Gabungan tidak bisa menyimpulkan panyebabnya, karena hingga saat ini belum ditemukan serpihan atau bangkai kapalnya.
"Kepastian kapal itu tenggelam, terbakar, hilang, dan sebagainya, saya tidak menjawab itu," jelasnya.