Penembakan Massal Guncang Afrika Selatan, 11 Orang tewas

Motif penembakan itu hingga kini belum diketahui. Meski demikian, polisi mengatakan kemungkinan adanya perseteruan antarkelompok belum dapat dikesampingkan.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 23 September 2026, 15:25 WIB
Lokasi penembakan massal di sebuah rumah di kawasan permukiman dekat Durban, Afrika Selatan, pada Selasa (22/9/2026) malam. (Dok. Kepolisian Afrika Selatan/SAPS)

Liputan6.com, Pretoria - Sedikitnya 11 orang tewas dalam penembakan massal di sebuah rumah di kawasan permukiman dekat Durban, Afrika Selatan.

Sejumlah pria bersenjata menyerbu sebuah rumah di kawasan KwaMakhutha pada Selasa (22/9/2026) malam dan menembaki 14 orang yang berada di dalamnya. Polisi mengatakan, 10 orang tewas di tempat, sedangkan empat lainnya dilarikan ke rumah sakit. Satu dari empat korban tersebut kemudian meninggal akibat luka yang dideritanya.

Polisi menyebut beberapa korban sebelumnya telah dipantau karena diduga terkait dengan aktivitas ilegal. Namun, polisi belum mengungkapkan aktivitas yang dimaksud demi kepentingan penyelidikan yang sedang berlangsung.

"Informasi yang kami peroleh sejauh ini menunjukkan bahwa 13 pria dan seorang perempuan yang diduga sedang hamil tengah berpesta di dalam sebuah rumah ketika tiga pria datang dan melepaskan tembakan ke arah mereka," kata polisi seperti dilaporkan BBC.

Perempuan tersebut termasuk di antara korban yang tewas.

Seorang reporter stasiun televisi lokal eNCA yang berada di lokasi melaporkan bahwa para pelaku membakar kendaraan milik salah satu korban sebelum melarikan diri. Rekaman dari lokasi memperlihatkan kendaraan tersebut dalam kondisi hangus terbakar.

Polisi kini memburu para pelaku.

Afrika Selatan merupakan salah satu negara dengan tingkat pembunuhan tertinggi di dunia. Data kepolisian menunjukkan, jumlah kasus pembunuhan di negara itu setara dengan lebih dari 60 korban tewas setiap hari.

Dalam beberapa pekan terakhir, kekhawatiran masyarakat meningkat setelah sedikitnya sembilan perempuan ditemukan tewas dibunuh. Beberapa jasad korban ditemukan dibuang di tepi jalan.

Tahun lalu, sembilan orang tewas dalam penembakan massal di sebuah bar di Johannesburg.

Persaingan antargeng kriminal dalam memperebutkan wilayah, perdagangan narkoba, dan pertambangan ilegal kerap terjadi di Afrika Selatan. Konflik semacam itu sering memicu kekerasan di tengah masyarakat.

Pada Februari, Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa menyebut kejahatan terorganisasi sebagai ancaman paling langsung terhadap demokrasi, masyarakat, dan pembangunan ekonomi kita.

Pernyataan itu disampaikan saat Ramaphosa mengumumkan pengerahan militer untuk membantu kepolisian.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya