PepsiCo Indonesia dan Bali Waste Cycle Ubah Limbah Plastik Jadi Papan Penunjuk Arah

Kolaborasi PepsiCo Indonesia dan Bali Waste Cycle jadi wujud nyata dalam upaya menjawab tantangan masyarakat Bali.

oleh Teddy Tri Setio BertyDiterbitkan 22 September 2026, 14:58 WIB
PepsiCo Indonesia bersama Bali Waste Cycle mengolah sampah kemasan plastik multilapis dari produk makanan ringan menjadi papan nama dan penunjuk arah di Taman Kota Sewaka Dharma di kawasan Lumintang, Denpasar pada Jumat (19/9/2026). (Dok. Liputan6.com/Teddy Tri Setio Berty)

Liputan6.com, Denpasar - Kemasan makanan ringan yang selama ini berakhir sebagai sampah ternyata bisa memiliki fungsi baru. Di Bali, limbah kemasan plastik multilapis atau multi-layered plastic (MLP) dari produk Lay's, Cheetos, hingga Doritos diolah menjadi papan nama jalan dan penunjuk arah untuk ruang publik.

Inovasi tersebut merupakan hasil kolaborasi PepsiCo Indonesia dengan Bali Waste Cycle (BWC), dengan dukungan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Denpasar. Proyek perdana ini mulai diterapkan di sejumlah lokasi di Kota Denpasar dan Kabupaten Gianyar.

Salah satu hasil pengolahan sampah tersebut digunakan untuk membuat papan nama Taman Kota Sewaka Dharma di kawasan Lumintang, Denpasar.

Sementara itu, papan penunjuk arah berbahan material serupa juga dipasang di sejumlah lokasi publik lainnya, termasuk Kemenuh Monkey River di Kabupaten Gianyar.

Material yang digunakan berasal dari kemasan makanan ringan pasca konsumsi yang dikumpulkan dan dikelola oleh Bali Waste Cycle. Limbah plastik multilapis tersebut kemudian diproses kembali hingga dapat digunakan sebagai material untuk kebutuhan infrastruktur publik.

Pemanfaatan ini menjadi salah satu upaya memperpanjang usia material kemasan yang sulit didaur ulang sekaligus menciptakan nilai guna baru dari sampah yang sebelumnya berpotensi berakhir di tempat pembuangan.

Director of Government Affairs, Corporate Communications and Sustainability PepsiCo Indonesia, Gabrielle Angriani Johny, mengatakan pengelolaan sampah kemasan membutuhkan kerja sama berbagai pihak, mulai dari pemerintah hingga pelaku pengelolaan sampah.

"PepsiCo Indonesia percaya bahwa kolaborasi multipihak sangat penting dalam menghadirkan solusi untuk menangani permasalahan sampah di Indonesia," kata Gabrielle pada Jumat (19/9/2026) di Denpasar.

Menurut dia, pemanfaatan kembali material MLP menunjukkan bahwa kemasan pascakonsumsi masih dapat memiliki fungsi dan nilai apabila dikelola dengan tepat.

"Kami berharap proyek ini dapat menjadi contoh nyata bahwa kemasan plastik MLP pascakonsumsi masih dapat memiliki nilai dan fungsi yang cukup baik," ujarnya.

 

Berawal dari Startup Pengelola Sampah

PepsiCo Indonesia bersama Bali Waste Cycle mengolah sampah kemasan plastik multilapis dari produk makanan ringan menjadi papan nama dan penunjuk arah di Taman Kota Sewaka Dharma di kawasan Lumintang, Denpasar pada Jumat (19/9/2026). (Dok. Liputan6.com/Teddy Tri Setio Berty)

Proyek tersebut juga menjadi bagian dari perjalanan Bali Waste Cycle dalam mengembangkan solusi pengelolaan material yang sulit didaur ulang.

BWC sebelumnya terpilih sebagai salah satu finalis Greenhouse Accelerator Program Asia Pacific pada 2025 dan menjadi satu-satunya startup asal Indonesia yang mengikuti program tersebut. BWC memperoleh pendanaan sebesar US$ 20.000 serta pendampingan untuk mengembangkan solusi pengelolaan sampahnya.

Pada 2026, BWC kembali terpilih dalam Greenhouse Program IMPACT Edition Asia Pacific dan mendapatkan tambahan pendanaan US$ 20.000.

Director of Bali Waste Cycle Olivia Anastasia Padang mengatakan kolaborasi tersebut ingin membuktikan bahwa plastik multilapis yang selama ini dikenal sulit didaur ulang masih dapat dimanfaatkan menjadi produk baru.

"Proyek ini tidak semata tentang keberhasilan mengubah sampah menjadi produk baru, melainkan tentang bagaimana mempertahankan nilai material selama mungkin sekaligus menciptakan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat," kata Olivia.

Bagi PepsiCo, proyek ini juga menjadi bagian dari upaya memperkuat sistem pengumpulan dan pemanfaatan kembali kemasan pascakonsumsi. Perusahaan sebelumnya telah bekerja sama dengan sejumlah mitra, termasuk Indonesia Packaging Recovery Organization (IPRO) dan Bali Waste Cycle.

 

Jadi Fasilitas Publik Sekaligus Edukasi

PepsiCo Indonesia bersama Bali Waste Cycle mengolah sampah kemasan plastik multilapis dari produk makanan ringan menjadi papan nama dan penunjuk arah di Taman Kota Sewaka Dharma di kawasan Lumintang, Denpasar pada Jumat (19/9/2026). (Dok. Liputan6.com/Teddy Tri Setio Berty)

Pemanfaatan sampah kemasan sebagai papan jalan juga mendapat dukungan dari Pemerintah Kota Denpasar. Wakil Wali Kota Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa mengatakan fasilitas publik dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan pengelolaan sampah kepada masyarakat.

Menurut dia, papan informasi dan penunjuk jalan dari material hasil pengolahan sampah tidak hanya memiliki fungsi praktis, tetapi juga dapat menjadi media edukasi.

"Ruang-ruang publik ini dapat kita manfaatkan tidak hanya untuk menjaga kebersihan, tetapi sekaligus mengedukasi masyarakat bahwa sampah dapat diolah menjadi bahan yang produktif," kata Agus.

PepsiCo Indonesia dan Bali Waste Cycle berharap pemanfaatan material pascakonsumsi tersebut dapat diperluas ke lebih banyak fasilitas publik. Dengan meningkatnya penggunaan material hasil pengolahan sampah, permintaan terhadap material daur ulang juga diharapkan ikut tumbuh dan memperkuat rantai nilai pengelolaan sampah di Indonesia.

Inisiatif ini sekaligus menjadi bagian dari penerapan prinsip extended producer responsibility (EPR) dan upaya mendukung target pemerintah dalam mengurangi sampah yang berasal dari produsen sebesar 30 persen pada 2029.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya