Liputan6.com, Tel Aviv - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melontarkan kecaman terhadap Wali Kota New York Zohran Mamdani setelah sang wali kota menyebutnya sebagai penjahat perang.
"Memalukan, Tuan Mamdani. Memalukan karena Anda mendukung Hamas," kata Netanyahu dalam video yang diunggah di platform media sosial X pada Selasa dikutip dari Anadolu.
Advertisement
Netanyahu juga menuduh Mamdani menghasut kerusuhan terhadap warga Yahudi New York.
Mamdani menjadi wali kota Muslim pertama di New York City setelah memenangkan pemilihan pada 2025. Dia membantah tuduhan antisemitisme, sementara sejumlah besar warga Yahudi New York termasuk di antara para pendukungnya.
Berbeda dengan Mamdani, para wali kota New York sebelumnya—yang memimpin kota dengan komunitas Yahudi terbesar di Amerika Serikat—secara tradisional merupakan pendukung kuat Israel dan kerap mengunjungi negara tersebut.
"Saya akan datang ke PBB. Saya akan menyampaikan kebenaran tentang para tentara kami yang heroik," kata Netanyahu.
"Saya akan menyampaikan kebenaran tentang Anda," lanjutnya.
Mamdani Sebut Netanyahu Penjahat Perang
Sebelumnya pada Selasa, Mamdani menyebut Netanyahu sebagai "penjahat perang" dan arsitek genosida terhadap warga Palestina.
"Ketika menyangkut Benjamin Netanyahu, saya telah menggambarkannya sebagaimana saya meyakininya—seorang penjahat perang dan arsitek genosida mengerikan terhadap rakyat Palestina," kata Mamdani kepada CNN.
"Jika Mahkamah Pidana Internasional (ICC) menilai seseorang layak ditangkap karena melanggar hukum-hukum tersebut, lalu siapa kita untuk mengatakan bahwa seseorang harus berada di atas hukum itu?" ujarnya.
"Saya pikir sangat jelas bahwa semua orang harus dimintai pertanggungjawaban atas hal tersebut," tambah Mamdani.
Namun, dia mengakui bahwa New York City tidak memiliki kewenangan hukum untuk menegakkan surat perintah penangkapan ICC terhadap Netanyahu.
Mamdani sebelumnya juga mengatakan Netanyahu "tidak diterima" di New York dan menyerukan pemerintah federal AS menegakkan surat perintah penangkapan internasional terhadapnya.
Israel maupun sekutunya, Amerika Serikat, bukan anggota ICC. Washington telah menjatuhkan sanksi terhadap pejabat pengadilan tersebut terkait upaya mereka terhadap Netanyahu.
Sementara itu, Mahkamah Internasional (ICJ), badan peradilan utama PBB, juga tengah mempertimbangkan perkara yang diajukan Afrika Selatan dan didukung sejumlah negara lain yang menuduh Israel melakukan genosida terhadap warga Palestina di Gaza.
Pesawat Netanyahu Tak Akan Mendarat di JFK
Pada Senin, surat kabar Israel Yedioth Ahronoth melaporkan pesawat Netanyahu tidak akan mendarat di Bandara Internasional John F. Kennedy di New York.
Keputusan tersebut disebut berkaitan dengan kekhawatiran bahwa Mamdani dapat memerintahkan pesawat itu meninggalkan wilayah tersebut sebelum perdana menteri Israel kembali.
Menurut laporan itu, pesawat Netanyahu diperkirakan akan mendarat di sebuah pangkalan militer di New Jersey atau Bandara Newark.
Dengan mengutip sumber yang mengetahui informasi tersebut, surat kabar itu juga melaporkan Netanyahu memutuskan memperpendek kunjungannya dan tidak akan menginap di New York karena kekhawatiran terhadap aksi protes.
Netanyahu diperkirakan tiba di Amerika Serikat pada Kamis pagi, tepat pada hari dia dijadwalkan menyampaikan pidato di Majelis Umum PBB. Setelah itu, dia akan segera meninggalkan AS menuju Tel Aviv tanpa bertemu Presiden AS Donald Trump.
Pemerintahan AS secara berturut-turut telah memberikan dukungan militer, finansial, dan diplomatik kepada Israel. Washington juga berulang kali menggunakan hak vetonya di Dewan Keamanan PBB untuk memblokir berbagai langkah yang menargetkan Israel.
Sejumlah jajak pendapat di AS menunjukkan perubahan sikap publik terhadap Israel dan Palestina, terutama di kalangan warga Amerika yang lebih muda, setelah perang Israel di Jalur Gaza.
Netanyahu telah menjadi buronan ICC sejak 2024 atas tuduhan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan yang dilakukan terhadap warga Palestina di Gaza.
Sejak 8 Oktober 2023, Israel telah menewaskan lebih dari 73.000 warga Palestina dan melukai lebih dari 174.000 lainnya dalam perang di Gaza. Sekitar 90 persen infrastruktur sipil di wilayah tersebut juga hancur.
Meskipun gencatan senjata mulai berlaku pada 10 Oktober 2025, otoritas Palestina mengatakan serangan Israel di Gaza masih berlanjut. Serangan tersebut telah menewaskan 1.399 warga Palestina dan melukai 4.863 lainnya.
Israel juga terus membatasi masuknya makanan, obat-obatan, perlengkapan medis, bahan tempat tinggal, dan rumah prefabrikasi dalam jumlah yang telah disepakati ke Gaza. Wilayah tersebut dihuni sekitar 2,4 juta warga Palestina, termasuk sekitar 2,15 juta orang yang mengungsi.