Liputan6.com, Washington, DC - Wali Kota New York Zohran Mamdani menyebut hubungannya dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebagai hubungan yang "jujur, langsung dan produktif".
Dikutip dari NBC News, Selasa (22/9/2027), melalui program Meet the Press, sehari sebelum Trump mengkritik kebijakan pajak properti yang diusulkan Mamdani untuk warga New York yang memiliki kekayaan tinggi.
Advertisement
"Dia adalah presiden Amerika Serikat. Saya adalah wali kota New York City, dan kita tahu bahwa banyak hal yang dibutuhkan kota ini juga bergantung pada hubungan dengan pemerintahan federal," kata Mamdani dalam wawancara yang menandai 100 hari pertamanya menjabat.
Mamdani mengatakan hubungan yang terkadang terlihat akrab dengan Trump sebagian disebabkan oleh keduanya yang memiliki keterikatan dengan New York.
"New York City memiliki tempat yang sangat khusus baginya maupun bagi saya. Kami berdua berasal dari kota yang sama," ujarnya.
Menurut Mamdani, komunikasi dengan Trump tidak hanya membahas persoalan dalam skala besar, tetapi juga hal-hal yang sangat spesifik, termasuk perubahan aturan zonasi di kawasan Midtown Manhattan.
"Percakapan kami bukan hanya dalam skala yang biasanya terjadi dengan presiden, tetapi juga sangat rinci, bahkan mengenai hal-hal yang spesifik seperti perubahan undang-undang zonasi di Midtown Manhattan," katanya.
Meski keduanya telah bekerja sama dan setidaknya dua kali bertemu di Ruang Oval Gedung Putih sejak Mamdani terpilih pada November lalu, sang wali kota enggan mengungkapkan seberapa sering dirinya berbicara dengan Trump.
Hubungan keduanya kemudian kembali menjadi sorotan setelah Trump mengkritik rencana Mamdani dan Gubernur New York Kathy Hochul untuk menerapkan pajak pied-à-terre terhadap properti di New York City senilai lebih dari US$ 5 juta yang pemiliknya tidak menjadikan properti tersebut sebagai tempat tinggal utama.
"Sayangnya, Wali Kota Mamdani sedang MENGHANCURKAN New York! Ini tidak akan berhasil! Amerika Serikat seharusnya tidak berkontribusi terhadap kegagalannya. Ini hanya akan menjadi LEBIH BURUK. Kebijakan PAJAK, PAJAK, PAJAK sangat SALAH. Orang-orang melarikan diri. Mereka harus mengubah cara mereka, DAN SECEPATNYA," tulis Trump melalui Truth Social.
Menanggapi pernyataan tersebut, Mamdani mengatakan dirinya dan Trump memiliki tujuan yang sama untuk New York.
"Presiden dan saya sama-sama ingin kota ini berhasil. Inilah cara untuk melakukannya," kata Mamdani.
Targetkan Pajak Orang Kaya
Mamdani sebelumnya menyebut pajak pied-à-terre sebagai salah satu sumber pendanaan untuk sejumlah program prioritasnya. Ia mengatakan kebijakan tersebut dapat menghasilkan US$ 500 juta bagi New York City, yang akan digunakan antara lain untuk memperluas layanan penitipan anak gratis di seluruh kota.
Pajak terhadap warga kaya New York juga menjadi salah satu proposal utama Mamdani selama kampanye.
"Saya selalu mengatakan bahwa saya percaya pada pentingnya mengenakan pajak kepada orang kaya. Ini adalah bentuk pajak terhadap orang kaya," kata Mamdani kepada moderator Meet the Press, Kristen Welker.
Menurut Mamdani, pajak pied-à-terre telah lama diperjuangkan di New York City, tetapi sebelumnya belum berhasil diwujudkan.
"Pajak pied-à-terre telah lama diperjuangkan di kota ini, tetapi belum memungkinkan untuk mencapai tahap akhir. Sangat menyenangkan bisa bekerja sama dengan gubernur untuk mewujudkan sesuatu yang menurut banyak orang tidak akan pernah memiliki peluang," ujarnya.
Pajak tersebut menjadi bagian dari agenda kebijakan Mamdani setelah menjabat, bersama sejumlah program yang menjadi bagian penting dari kampanyenya pada 2025, seperti memperluas penitipan anak gratis, menggratiskan bus umum, dan membuka toko bahan pangan yang dikelola pemerintah.
Perluas Penitipan Anak Gratis
Pada Maret, Hochul dan Mamdani meluncurkan program penitipan anak gratis untuk hingga 2.000 anak berusia 2 tahun di New York City. Program tersebut direncanakan terus diperluas dalam beberapa tahun mendatang.
"Pada hari ke-8 masa jabatan, kami mengumumkan kesepakatan senilai US$ 1,2 miliar dengan Gubernur Kathy Hochul untuk membawa kota kami menuju penitipan anak universal," kata Mamdani.
"Kami tidak hanya menyediakan penitipan anak gratis untuk setiap anak berusia 3 tahun di kota ini, tetapi sekarang juga untuk anak berusia 2 tahun. Pada akhir masa jabatan pertama kami, kami akan melihat setiap anak berusia 2 tahun menerima penitipan anak gratis di lima wilayah New York City," lanjutnya.
Pekan lalu, Mamdani juga mengumumkan pemerintah kota akan membuka toko bahan pangan pertama yang dikelola pemerintah di East Harlem. Langkah tersebut menjadi bagian dari janji kampanyenya untuk membuka setidaknya satu toko serupa di masing-masing dari lima wilayah New York City.
"Kami selalu mengatakan bahwa kami akan memiliki satu toko bahan pangan yang dikelola pemerintah di setiap wilayah dan toko-toko tersebut akan menyediakan bahan pangan yang lebih murah," ujar Mamdani.
Ia mengatakan harga kebutuhan pokok seperti roti dan telur menjadi salah satu perhatian karena mengalami kenaikan.
"Kami berbicara tentang roti dan telur, kebutuhan pokok yang harganya terus melonjak," katanya.
Mamdani mengakui kenaikan harga bahan pangan bukan hanya terjadi di New York City. Namun, ia mengatakan kenaikan tersebut terjadi pada tingkat yang lebih tinggi di kota tersebut.
"Tujuan kami di sini adalah memberikan bahan pangan yang lebih murah kepada warga New York. Itulah hasil yang ingin kami capai," ujarnya.
Soroti Dampak Perang Iran
Mamdani juga mengaitkan kenaikan harga dengan perang di Iran.
"Ketika perang ini memperburuk krisis biaya hidup, krisis tersebut sebenarnya sudah ada bahkan sebelum saya mencalonkan diri sebagai wali kota," katanya.
Ia menyerukan agar masyarakat menentang perang tersebut atas dasar politik, moral, maupun ekonomi.
Ungkap Percakapan soal Mahasiswa Columbia
Mamdani mengatakan hubungan komunikasinya dengan Trump juga terkadang berguna untuk membahas persoalan tertentu.
Ia mencontohkan ketika dirinya menyampaikan kepada Trump mengenai seorang mahasiswa Columbia University, Elmina Aghayeva, yang ditahan Departemen Keamanan Dalam Negeri AS pada Februari.
"Dalam pertemuan tersebut, saya menyebutkan bahwa pagi itu ICE telah menahan seorang mahasiswa Columbia University. Saya mengatakan kepadanya bahwa ini merupakan bagian dari tren yang lebih besar yang kami lihat, dengan lima orang ditahan di dalam atau sekitar Columbia University. Saya memberinya daftar lima orang tersebut," kata Mamdani.
Menurut Mamdani, sekitar 30 menit setelah pertemuan, Trump menelepon dan mengatakan telah memutuskan untuk membebaskan Aghayeva.
"Dan saya pikir kita melihat dalam keputusan tersebut nilai dari sebuah hubungan yang jujur dan langsung," katanya.
Program Bus Gratis Masih Terkendala Anggaran
Janji kampanye lainnya, yakni menggratiskan bus di New York City, masih menghadapi kendala, salah satunya defisit anggaran kota sebesar US$ 5,4 miliar.
"Kami sedang bekerja dengan Albany sekarang, dan kami masih yakin ada bagian dari anggaran yang dapat memulai proses untuk membuat bus gratis," kata Mamdani.
Saat ini, menurut dia, sudah ada satu rute bus gratis di New York City. Mamdani berharap program tersebut dapat diperluas sebelum seluruh rute bus digratiskan.
Mamdani juga menanggapi pertanyaan mengenai kemampuannya memenuhi berbagai janji kampanye.
"Saya selalu berharap mendapatkan dua masa jabatan, dan saya selalu mengatakan kepada warga New York bahwa kami akan menyelesaikan semuanya dengan waktu berapa pun yang kami dapatkan," ujarnya.
Terkait kondisi Partai Demokrat di tingkat nasional, Mamdani mengatakan fokus utamanya tetap pada New York City dan pemilu paruh waktu.
"Di sini pada 2026, saya ingin memberikan hasil bagi warga New York, dan di tingkat nasional, saya ingin memastikan kami memenangkan pemilu paruh waktu dan benar-benar memiliki visi yang kami perjuangkan, bukan sekadar sesuatu yang kami lawan," katanya.
Mamdani mengatakan warga New York lebih membutuhkan hasil nyata dibandingkan perdebatan antarpolitisi.
"Saya pikir warga New York sudah lelah dengan para politisi yang terus berbicara panjang lebar tentang politisi lainnya," ujarnya.
Menurut Mamdani, fokusnya karena itu lebih diarahkan pada persoalan kota.
"Yang ingin mereka lihat adalah hasil, dan itulah mengapa fokus saya lebih pada lubang-lubang di jalan daripada politik," katanya.