Liputan6.com, Jakarta - Warga Amerika Serikat (AS) tetap gencar melakukan perjalanan liburan meski harga tiket pesawat, bensin, hingga akomodasi hotel mengalami kenaikan tajam. Antusiasme pelesiran ini terlihat sepanjang musim panas dan diprediksi terus berlanjut hingga musim gugur tahun ini.
Dikutip dari CNBC, Senin (21/9/2026), hasil survei perusahaan asuransi perjalanan Squaremouth terhadap lebih dari 6.200 responden menunjukkan bahwa peningkatan biaya hingga 25 persen hanya akan membuat 47 persen wisatawan menyesuaikan rencana mereka.
Advertisement
Menariknya, lonjakan harga tidak mengubah rencana 55 persen wisatawan AS pada musim panas lalu, dan hanya 3 persen responden yang benar-benar membatalkan perjalanan. Sebagian kecil lainnya memilih berlibur di lokasi yang lebih dekat dari rumah, mengubah destinasi ke tempat yang lebih terjangkau, atau memangkas durasi liburan.
Chief Marketing Officer Squaremouth, Jackie Mondelli, mengungkapkan bahwa liburan kini telah bergeser menjadi komponen pengeluaran wajib dalam rencana keuangan masyarakat, bukan lagi hal opsional.
"Masyarakat menyadari adanya tekanan harga tahun ini. Namun, liburan menjadi hal yang mereka masukkan ke dalam anggaran, bukan dialokasikan dari sisa uang yang ada," ujar Mondelli.
"Daripada tidak berlibur sama sekali, wisatawan cenderung menyesuaikan konsep liburan agar tetap masuk ke dalam anggaran mereka," tambahnya.
Data menunjukkan bahwa perjalanan wisata kini diprioritaskan di atas pengeluaran hiburan harian seperti makan di luar atau berbelanja barang non-esensial. Dalam survei terpisah, lebih dari separuh responden mengaku rela menghemat di sektor lain demi liburan—sebesar 19 persen mengurangi belanja ritel dan 13 persen memangkas anggaran makan di restoran.
Nekat Berlibur demi Kenyamanan Sesaat
Kecenderungan untuk tetap berlibur ini bahkan mulai mengancam stabilitas finansial sebagian masyarakat. Temuan Squaremouth mencatat sebanyak 13 persen wisatawan mengaku nekad memotong dana tabungan atau investasi demi bisa pergi berlibur.
Fenomena ini dinilai berisiko bagi individu yang seharusnya memprioritaskan pembentukan dana darurat atau pelunasan utang.
Terapis keuangan sekaligus pendiri Mind Money Balance, Lindsay Bryan-Podvin, menjelaskan bahwa perilaku ini dipicu oleh fenomena psikologis yang disebut temporal discounting—kondisi ketika seseorang lebih mengutamakan kepuasan saat ini dibandingkan imbalan finansial di masa depan.
"Meskipun harga melonjak, konsumen memprioritaskan pergi berlibur sekarang dibandingkan menyimpan tabungan untuk memenuhi kebutuhan harian seperti bensin dan bahan pangan pada musim gugur serta musim dingin mendatang," jelas Bryan-Podvin.
Musim Gugur Tetap Jadi Pilihan meski Harga Naik
Sementara itu, survei dari perusahaan penyewaan mobil Hertz mencatat sebanyak 46 persen warga AS berencana tetap melakukan perjalanan pada musim gugur ini. Minat berlibur tetap tinggi meski ketegangan geopolitik global ikut memicu kenaikan harga bahan bakar.
Musim gugur yang biasanya menjadi shoulder season (periode transisi antar-musim ramai) dikenal menyajikan tarif lebih terjangkau. Namun, tingginya permintaan pasar dan tekanan inflasi global kini mulai mengikis selisih penghematan tersebut.
Berdasarkan data perusahaan perjalanan Expedia, rata-rata harga tiket penerbangan domestik dan akomodasi untuk destinasi terpopuler di AS pada musim gugur ini tercatat naik masing-masing 2 persen dan 20 persen dibandingkan musim panas. Diskon perjalanan yang ditawarkan pelaku industri pun tercatat lebih minim dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.