Mengenal Potrero, Budaya Sepak Bola Jalanan Argentina yang Bentuk Diego Maradona dan Lionel Messi

Potrero merupakan bentuk sepak bola jalanan yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Argentina, khususnya di Buenos Aires.

oleh Liputan6.comDiterbitkan 21 September 2026, 20:00 WIB
Mural Diego Maradona dan Lionel Messi di Villa Fiorito, pinggiran Buenos Aires. (AFP/Luis Robayo)

Liputan6.com, Jakarta - Argentina memiliki tradisi sepak bola yang tidak hanya tumbuh di stadion megah, tetapi juga berkembang di lapangan-lapangan sederhana di tengah permukiman warga. Budaya tersebut dikenal dengan sebutan potrero, sebuah bentuk sepak bola jalanan yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat, khususnya di Buenos Aires.

Potrero menghadirkan permainan sepak bola yang jauh dari kemewahan kompetisi profesional. Lapangan berdebu, rumput yang sudah menghilang, serta fasilitas seadanya menjadi pemandangan yang akrab. Namun, keterbatasan tersebut tidak mengurangi antusiasme para pemain yang menjadikan sepak bola sebagai sarana menyalurkan kecintaan terhadap olahraga ini.

Lebih dari sekadar permainan, potrero juga menjadi ruang berkumpul bagi masyarakat setempat. Warga datang untuk menyaksikan pertandingan, memberikan dukungan kepada tim kebanggaan, hingga merayakan kemenangan bersama. Turnamen lokal bahkan dapat menghadirkan hadiah uang yang membuat persaingan antar tim semakin menarik.

Budaya potrero kembali mendapatkan perhatian setelah gaya sepak bola jalanan Argentina turut diperkenalkan dalam EA Sports FC 27. Tradisi ini juga kerap dikaitkan dengan perjalanan sejumlah pemain legendaris, seperti Lionel Messi dan Diego Maradona, yang dikenal memiliki kemampuan mengolah bola serta kreativitas tinggi di lapangan.

 


Potrero, Sepak Bola Jalanan dengan Nuansa Khas Argentina

Warga bermain sepak bola di El Potrero de D10S di Villa Fiorito, pinggiran Buenos Aires. Diego Maradona mulai bermain sepak bola di sini. (AFP/Luis Robayo)

Pertandingan potrero umumnya berlangsung dengan format tujuh pemain dalam setiap tim. Durasi permainan dapat mencapai 50 menit, yang terbagi menjadi dua babak masing-masing 25 menit. Apabila pertandingan berakhir imbang, sejumlah kompetisi menerapkan tambahan waktu sebelum dilanjutkan dengan adu penalti.

Aturan yang relatif sederhana membuat potrero mudah dimainkan oleh masyarakat. Lapangan tidak selalu memiliki rumput yang memadai, sementara gawang terkadang hanya menggunakan tiang sederhana atau benda-benda yang tersedia di sekitar lokasi. Kondisi tersebut membuat setiap pertandingan berlangsung dengan karakter yang khas.

Daya tarik potrero juga terletak pada suasana di luar lapangan. Musik, makanan, dan kehadiran warga menciptakan atmosfer meriah di sekitar pertandingan. Dalam sejumlah kesempatan, suporter bahkan ikut merayakan gol atau kemenangan dengan memasuki area permainan.

 


Lapangan Sederhana yang Mengasah Kreativitas Pemain

Bersama Timnas Argentina, ia sukses meraih 2 gelar di level yunior, yaitu juara Piala Dunia U-20 edisi 2005 dan 2007. Bersama Timnas Argentina U-23 ia juga sukses meraih medali emas Olimpiade 2008 bersama Lionel Messi. (AFP/Franck Fife)

Kondisi lapangan yang tidak rata membuat pemain potrero harus memiliki kontrol bola yang baik dan kemampuan beradaptasi dengan cepat. Mereka terbiasa menghadapi situasi tidak terduga, mulai dari pantulan bola yang sulit diperkirakan hingga ruang permainan yang terbatas.

Lanjut Baca:

Permainan ini juga menuntut keberanian menghadapi kontak fisik dan kemampuan mempertahankan penguasaan bola. Para pemain dituntut untuk mengambil keputusan dalam waktu singkat, sekaligus mencari cara melewati lawan dengan berbagai improvisasi. Pengalaman tersebut kerap dikaitkan dengan perkembangan kreativitas dan ketangguhan pemain Argentina. Meski demikian, potrero bukan satu-satunya faktor yang membentuk kemampuan seorang pesepak bola. Pembinaan akademi, latihan profesional, serta pengalaman bertanding di level kompetitif juga memiliki peran penting.  

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya