Liputan6.com, Jakarta - Menjelang liburan akhir tahun, banyak yang bertanya, sebaiknya menyiapkan dana lewat tabungan biasa atau instrumen investasi? Perencana Keuangan sekaligus Founder dan CEO MRE, Mike Rini Sutikno, punya jawaban tegas soal ini.
Menurut Mike, kuncinya ada pada sifat kebutuhan itu sendiri: apakah termasuk prioritas atau tidak. Ia menjelaskan, investasi idealnya digunakan untuk tujuan keuangan yang sifatnya prioritas dan jangka panjang, seperti dana pendidikan anak, DP rumah, dana pensiun, atau dana menikah.
Advertisement
"Kalau investasi itu untuk tujuan yang sifatnya prioritas, contoh mau mempersiapkan dana sekolah anak, mempersiapkan dana DP rumah, jadi investasi dengan tujuan tertentu," ujar Mike, dikutip Minggu (20/9/2026).
Sementara itu, liburan menurutnya masuk kategori kebutuhan yang sifatnya "nice to have" alias bisa ditunda atau disesuaikan, sehingga levelnya berbeda jauh dari kebutuhan-kebutuhan besar tadi.
"Liburan impian saya pengennya Rp 12 juta nih setiap tahun, misalnya mau ke negara mana. Harus enggak? Kan enggak harus," katanya mencontohkan.
Kenapa Bukan Investasi?
Mike menjelaskan, fleksibilitas itulah yang membuat tabungan lebih cocok untuk dana liburan dibanding investasi. Target dana liburan, menurutnya, bisa naik-turun tergantung kondisi keuangan, bahkan bisa ditunda dua atau tiga tahun sekali tanpa mengganggu rencana besar lainnya.
"Untuk menjawab pertanyaan nomor 4, dana liburan itu bukan dari hasil tabungan atau investasinya, tetapi dari kita lihat dari perspektif dia priority atau bukan," jelas Mike.
Metode SMART dan Pilihan Destinasi Liburan
Ia menambahkan, karena sifatnya bukan jangka panjang dan sangat fleksibel, tabungan biasa jauh lebih pas ketimbang instrumen investasi yang idealnya diperuntukkan bagi tujuan-tujuan krusial dan wajib dicapai.
Disiplin Nabung Pakai SMART
Selain soal tabungan versus investasi, Mike juga membagikan cara agar seseorang lebih disiplin menyiapkan dana liburan, yakni dengan menerapkan prinsip SMART (Specific, Measurable, Attainable, Realistic, Time-bound) yang lazim dipakai dalam perencanaan keuangan.
Menurut Mike, kesalahan banyak orang adalah menabung tanpa tujuan yang jelas, sehingga dana yang terkumpul rawan terpakai untuk kebutuhan lain di tengah jalan.
"Kita itu jadi kurang bisa disiplin ketika kita melihat bahwa tujuan kita itu jelas, kapan waktunya, berapa target dananya," ujar Mike.
Ia mencontohkan, alih-alih hanya berniat "mau liburan akhir tahun", seseorang sebaiknya menetapkan detail destinasi, tanggal keberangkatan, hingga estimasi biaya berdasarkan riset itinerary. Setelah itu, barulah target danany dibagi ke dalam jumlah bulan yang tersisa hingga waktu keberangkatan.
Ia mengibaratkan proses ini seperti menuju tempat yang belum pernah didatangi menggunakan penunjuk arah. "Kita enggak takut nyasar," katanya, karena tujuan dan langkahnya sudah terpetakan.
Destinasi Domestik Belum Tentu Lebih Murah
Di luar tabungan dan target, Mike mengingatkan bahwa besar kecilnya dana liburan sangat dipengaruhi oleh pilihan destinasi, dan hal itu tidak selalu berbanding lurus dengan status domestik atau luar negeri.
Persiapan Dana dari September Masih Sempat
Ia mencontohkan, destinasi dalam negeri seperti Raja Ampat di Papua justru bisa lebih mahal dibanding liburan ke Singapura, meski Singapura merupakan destinasi luar negeri.
"Meskipun Singapura itu luar negeri, tapi untuk tiket pesawatnya lebih murah ke Singapura," ujarnya.
Selain destinasi, ia menyebut lama liburan dan jenis aktivitas selama di lokasi turut menentukan besaran dana yang perlu disiapkan, sehingga menurutnya perencanaan itinerary sejak awal menjadi penting agar tidak ada pengeluaran yang meleset dari perkiraan.
Mepet Kuartal Terakhir, Masih Bisa Disiapkan
Ditanya soal apakah dana liburan Desember masih bisa disiapkan meski sudah memasuki September, Mike memastikan hal itu masih memungkinkan, asalkan target disesuaikan dengan kemampuan menabung yang tersisa dalam dua bulan ke depan.
"Insyaallah masih bisa, asalkan kita memang perhitungannya itu sesuai dengan kemampuan kita," ujarnya.
Menurutnya, jika dana belum mencukupi untuk destinasi impian, gaya liburan bisa disesuaikan, misalnya dengan memilih aktivitas di dalam kota bersama teman, memanfaatkan tempat atau event yang gratis, hingga berbagi biaya akomodasi dan transportasi secara patungan agar pengeluaran per orang menjadi lebih ringan.