Cerita di Balik Misi Pencarian Jurnalis Hilang Kontak

Selama 10 hari pencarian, tim SAR menerjang gelombang dan menembus abu vulkanik.

oleh Ardi MuntheDiterbitkan 18 September 2026, 17:54 WIB
Kapal Rigid Inflatable Boat (RIB) 02 Bakauheni, Lampung Selatan yang dipimpin Rezie Kuswara Nunyai mencari rombongan jurnalis hilang kontak

Liputan6.com, Jakarta - Komandan Pos SAR Bakauheni Kantor SAR Lampung, Rezie Kuswara Nunyai, mengungkap pengalaman menegangkan selama operasi pencarian lima jurnalis dan tiga awak kapal yang hilang kontak di perairan Gunung Anak Krakatau (GAK), Selat Sunda.

Selama operasi, Rezie bersama tim harus keluar-masuk perairan sekitar Pulau Sebesi hingga mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau. Kondisi cuaca yang berubah, gelombang tinggi, arus laut hingga aktivitas vulkanik menjadi tantangan tersendiri bagi tim SAR.

Rezie mengatakan, informasi awal mengenai hilangnya delapan orang tersebut diterimanya setelah seorang jurnalis Antara News yang berada di Lampung menghubunginya, Selasa (8/9/2026).

Saat itu, keluarga salah seorang jurnalis mulai mencari informasi karena rombongan yang berangkat dari Carita, Banten, menuju kawasan GAK belum juga tiba di Pulau Sebesi seperti yang telah direncanakan.

"Saya dapat informasi awal dari Riadi, Antara News Lampung. Dia menghubungi saya karena ada tim media, salah satunya fotografer Antara News, yang berangkat dari Anyer menggunakan speedboat untuk mengambil gambar ke arah Krakatau. Sampai saat itu belum ada kontak ataupun informasi," ujar Rezie kepada Liputan6.com, Jumat (18/9/2026).

Rezie kemudian berkoordinasi dengan Kantor SAR Banten. Dari komunikasi tersebut, diketahui bahwa rombongan memang belum kembali dan telah kehilangan kontak.

Salah satu informasi penting yang kemudian menjadi acuan awal pencarian adalah titik lokasi terakhir yang dikirimkan salah seorang jurnalis melalui fitur berbagi lokasi.

"Share location itu menjadi patokan pertama kami. Dari situ kemudian pencarian mulai dilakukan," katanya.

 

10 Hari Menembus Laut dan Abu GAK, Perjuangan Komandan SAR Mencari Jurnalis Hilang Kontak

Masuk ke Area Dekat Gunung Anak Krakatau

Kantor SAR Banten melalui Pos SAR Pandeglang kemudian mengerahkan RIB untuk melakukan pencarian. Namun, hingga sore hari, pencarian di sekitar titik lokasi terakhir belum menemukan tanda keberadaan rombongan.

Pada hari berikutnya, tim SAR dari Lampung turut melakukan penyisiran menggunakan RIB 02 dan RIB 03. Tim dari Pos SAR Bakauheni menyisir perairan dari Pulau Sebesi menuju kawasan Gunung Anak Krakatau.

Rezie mengaku salah satu pengalaman paling menegangkan terjadi ketika timnya memutuskan mendekati kawasan GAK yang saat itu masih menunjukkan aktivitas vulkanik.

"Kami memaksakan masuk ke area depan Krakatau karena harapan kami ada tanda-tanda. Saat itu asap masih mengepul dan debu vulkanik masih terlihat," ungkapnya.

Rezie menyebut tim harus mengesampingkan rasa takut untuk melakukan pencarian. Sebab, ada kemungkinan rombongan yang hilang masih bertahan di sekitar pulau dan membutuhkan pertolongan.

"Takut itu manusiawi. Tidak mungkin tidak takut. Sewaktu masuk, kita tidak tahu beberapa menit atau beberapa jam kemudian gunung bisa meletus lagi. Tapi ketakutan itu kami singkirkan karena harapan kami mereka masih bertahan di area-area Krakatau," tuturnya.

Tim kemudian menyisir sejumlah titik di sekitar Sertung, Rakata Besar hingga Pulau Panjang. Namun, tidak ditemukan speedboat maupun tanda keberadaan delapan orang tersebut.

Menurut Rezie, kapal-kapal besar seperti Basudewa, unsur TNI AL, KN SAR Kamajaya dan sejumlah kapal lainnya juga melakukan pencarian di area yang lebih luas.

Namun, kapal-kapal besar memiliki keterbatasan untuk masuk ke jalur tertentu yang dapat dijangkau RIB berukuran lebih kecil.

Pencarian jurnalis hilang kontak di Selat Sunda

Gelombang hingga 2 Meter, Tim Lawan Arus

Memasuki hari ketiga dan keempat pencarian, tantangan semakin berat. Kondisi cuaca berubah dan gelombang di sejumlah area mencapai sekitar 1,5 hingga 2 meter.

"Yang paling berat itu menghadapi cuaca dan alam. Kami harus melawan arus dan ombak, terutama ketika mendekati kawasan Krakatau," kata Rezie.

Di sisi lain, tim juga harus terus memantau perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau. Setiap pergerakan menuju kawasan tersebut harus memperhitungkan kondisi keselamatan personel.

Memasuki hari-hari berikutnya, kondisi laut relatif membantu proses pencarian. Namun, jarak pandang menjadi kendala karena kabut tebal di sejumlah wilayah.

Temukan Terpal dan Galon, Sempat Muncul Harapan

Salah satu momen yang sempat membangkitkan harapan tim terjadi ketika mereka menemukan terpal dan sebuah galon di tengah perairan.

Benda tersebut ditemukan di area pertemuan perairan sekitar Sebesi, Krakatau dan arah Sangiang.

Saat melihat terpal yang mengapung, Rezie langsung meminta anggotanya mengangkat benda tersebut untuk diamankan dan dilaporkan ke posko.

"Harapan terbesar kami saat melihat terpal itu adalah salah satu tanda dari barang-barang teman-teman jurnalis. Saya bilang kepada teman-teman, angkut. Ini bisa menjadi penemuan awal atau tanda awal," jelasnya.

Tidak jauh dari lokasi tersebut, tim juga menemukan sebuah galon yang menurut pengamatan Rezie masih dalam kondisi baru.

Temuan tersebut kemudian dikumpulkan dan diserahkan kepada Posko Carita untuk ditindaklanjuti.

"Kami berharap dari titik itu ada barang lain yang bisa menjadi acuan atau fokus pencarian. Kami putar-putar sekitar setengah mil di area tersebut, tetapi hanya dua barang itu yang ditemukan," katanya.

Meski sempat menumbuhkan harapan, temuan tersebut belum mampu mengungkap keberadaan delapan orang yang dicari.

Pencarian jurnalis hilang kontak di Selat Sunda

17 Tahun Jadi Basarnas, Operasi Ini Disebut di Luar Dugaan

Rezie yang telah bergabung dengan Basarnas sejak 2009 mengaku operasi pencarian kali ini menjadi salah satu pengalaman yang paling membekas selama bertugas.

Menurut dia, selama hampir 17 tahun menjalani operasi SAR, dirinya telah menghadapi berbagai pencarian, mulai dari kecelakaan pesawat hingga orang hilang di gunung dan laut.

Namun, pencarian di Selat Sunda kali ini dinilainya berbeda karena hingga operasi berlangsung berhari-hari, hampir tidak ada tanda keberadaan delapan orang tersebut.

"Kalau pengalaman saya selama 17 tahun, ini bisa dibilang di luar dugaan. Serapat apa pun pencarian dan sebanyak apa pun alutsista yang dikerahkan, satu pun tanda tidak ditemukan," ungkap Rezie.

Menurut dia, tim bahkan melakukan pencarian berdasarkan berbagai kemungkinan. Tidak hanya menyisir laut, tetapi juga melakukan pencarian di wilayah pesisir Pulau Sebesi.

"Di darat pun kami sisir. Kami bermalam bersama Polair Polres Lampung Selatan. Pesisir Sebesi sampai kebun-kebun warga kami coba cari, siapa tahu ada tas atau barang yang terbawa arus," terangnya.

Dia mengatakan, tim berusaha menggunakan seluruh kemungkinan logis yang dapat dilakukan untuk menemukan petunjuk keberadaan delapan orang tersebut.

Harapan Rezie: Delapan Orang Masih Bisa Ditemukan

Meski operasi SAR resmi telah dihentikan setelah diperpanjang hingga 10 hari, Rezie mengatakan harapan untuk menemukan delapan orang tersebut tetap ada.

Dia berharap kemungkinan seperti kerusakan mesin, kehabisan bahan bakar atau speedboat terbawa arus masih dapat terjadi sehingga rombongan bisa saja berada di wilayah lain.

"Harapan itu tetap ada. Kami tidak mau mengklaim mereka mengalami kecelakaan dan sudah meninggal karena kami tidak tahu. Kita tidak pernah tahu keajaiban," katanya.

Rezie berharap delapan orang tersebut masih dalam kondisi selamat dan suatu saat dapat ditemukan oleh kapal yang melintas atau terdampar di wilayah tertentu.

"Harapan terbesar saya ada suatu keajaiban, ada informasi bahwa mereka selamat, ditemukan kapal kargo yang melintas, atau mungkin terdampar. Kita tidak tahu areanya seperti apa," tuturnya.

Dia juga menyampaikan pesan kepada keluarga yang hingga kini masih menunggu kabar mengenai keberadaan orang-orang yang mereka cintai.

"Semoga keluarga lebih tabah dan bersabar. Harapan itu masih ada. Kami tetap berdoa semoga setelah ini ada kabar baik," kata Rezie.

Meski operasi SAR telah ditutup, Rezie memastikan informasi mengenai hilangnya delapan orang tersebut telah tersebar kepada nelayan maupun kapal-kapal yang melintas di Selat Sunda.

"Radio-radio kapal besar yang melintas di Selat Sunda tetap memantau. Informasi sudah tersebar. Itulah harapan kami, semoga ada kabar," pungkasnya.

Kronologi Hilangnya 8 Orang

Speedboat yang membawa delapan orang tersebut diketahui bertolak dari Dermaga Pagedongan, Carita, Banten, pada Senin (7/9/2026) sekitar pukul 14.00 WIB.

Salah seorang jurnalis sempat mengirimkan titik lokasi terakhir sekitar pukul 14.42 WIB. Sementara komunikasi terakhir dengan rombongan dilaporkan terjadi sekitar pukul 15.04 WIB.

Sejak saat itu, rombongan tidak lagi dapat dihubungi.

Delapan orang yang masih dalam pencarian tersebut terdiri dari tiga awak kapal dan lima jurnalis, yakni:

Warta (55), kapten kapal;

Surakman (60), ABK;

Heriyanto (49), guide;

M Bagus Khoirunnas, jurnalis Antara;

Ari Basuki, jurnalis Merdeka.com;

Yudhis, jurnalis iNews;

Daus, jurnalis Anadolu;

Donal, jurnalis lepas (freelance).

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya