Nyala Lilin dan Doa untuk Jurnalis Hilang Kontak

Sejumlah wartawan di Sulsel menggelar doa bersama untuk lima jurnalis yang hilang kontak.

oleh FauzanDiterbitkan 17 September 2026, 23:16 WIB
Wartawan di Sulsel gelar doa bersama

Liputan6.com, Jakarta - Nyala lilin menerangi pelataran Museum Balla Lompoa, Gowa, Sulawesi Selatan, Kamis (17/9/2026) malam. Di tengah suasana hening, para jurnalis di Sulsel memanjatkan doa untuk lima rekan seprofesi yang hilang saat menjalankan tugas meliput erupsi Gunung Anak Krakatau.

Kegiatan tersebut diinisiasi Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Pengurus Daerah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat (Sulselbar) berkolaborasi dengan Polresta Gowa. Doa bersama dan nyala lilin itu menjadi bentuk solidaritas sekaligus dukungan terhadap proses pencarian lima jurnalis dan tiga awak kapal yang hingga kini masih hilang kontak.

Kelima jurnalis yang masih dalam pencarian yakni M Bagus Khoirunnas dari Antara, Arie Basuki dari Merdeka.com, Yudistiro Pranoto dari iNews, Firdaus Wajidi dari Anadolu Agency, dan Donal Husni yang merupakan jurnalis freelance.

Ketua IJTI Pengda Sulselbar Andi Mohammad Sardi mengatakan kegiatan tersebut sekaligus menjadi bentuk dukungan bagi para jurnalis yang masih dalam pencarian dan keluarga mereka. Dia berharap peristiwa serupa tidak kembali terjadi terhadap jurnalis yang menjalankan tugas.

"Kami berharap ke depannya sudah tidak ada peristiwa ini lagi," ujar Sardi.

Sardi mengatakan doa juga dipanjatkan agar keluarga lima jurnalis tersebut diberi ketabahan dan kekuatan menghadapi situasi yang masih belum pasti. Dia berharap proses pencarian terus dilakukan hingga para jurnalis tersebut ditemukan.

"Kami mendoakan teman-teman jurnalis, terkhusus keluarganya agar tetap tabah dan diberikan kekuatan dalam menghadapi kondisi ini," katanya.

Dia berharap doa bersama tersebut menjadi bagian dari ikhtiar seluruh pihak yang memberikan dukungan kepada keluarga dan proses pencarian. "Semoga doa ini menjadi bagian dari ikhtiar kita bersama dan mudah-mudahan teman-teman kita yang masih dalam pencarian segera ditemukan dalam kondisi apapun," sambungnya.

Peristiwa tersebut juga menjadi pengingat bagi insan pers mengenai pentingnya keselamatan ketika melakukan peliputan di wilayah rawan bencana. Menurut Sardi, penerapan protokol keselamatan atau safety protocol harus menjadi perhatian sejak sebelum jurnalis diterjunkan ke lapangan.

"Teman-teman jurnalis untuk meliput bencana harus bisa lebih mengutamakan safety protocol atau lebih mengutamakan keamanan dalam meliput sebuah bencana," jelasnya.

Sardi mengatakan perusahaan pers perlu memastikan adanya koordinasi dan persiapan sebelum memberikan penugasan peliputan di lokasi berisiko. Kondisi medan, karakter bencana dan kebutuhan peliputan, menurut dia, harus diperhitungkan melalui mitigasi yang matang.

"Harus dipikirkan matang-matang ketika ada perintah dari perusahaan pers, itu harus berkoordinasi dengan baik. Seperti apa medannya, seperti apa bentuknya, peliputannya seperti apa, memang harus dimitigasi dengan lebih baik lagi ke depan," katanya.

Namun, Sardi menilai keselamatan jurnalis bukan hanya menjadi tanggung jawab perusahaan pers. Jurnalis sebagai individu maupun organisasi profesi juga harus memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk mengenali kondisi serta risiko di lapangan.

"Tidak hanya perusahaan pers yang harus berbenah, tapi bagi diri kita sendiri juga, individu profesi, memang karena kita yang di lapangan jadi banyak lebih mengenal atau lebih mengetahui bagaimana medannya di lapangan," ujarnya.

Menurut Sardi, hilangnya lima jurnalis tersebut harus menjadi pembelajaran bagi insan pers, khususnya di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. Pengalaman tersebut diharapkan mendorong peningkatan kesadaran keselamatan tanpa mengesampingkan tugas jurnalistik dalam memenuhi kebutuhan informasi publik.

"Kami juga tidak mengharapkan ada peristiwa seperti yang dialami oleh lima rekan kita itu. Tapi bagaimana dari peristiwa ini kita bisa belajar," katanya.

Dia menegaskan keselamatan tidak boleh dikorbankan demi mendapatkan sebuah berita. "Kita tidak hanya mengejar suatu berita untuk informasi publik, tapi tidak ada berita seharga nyawa," tegasnya.

Karena itu, Sardi mendorong organisasi profesi turut memberikan pembekalan kepada jurnalis terkait mitigasi risiko dan penerapan safety protocol. Pembekalan tersebut dinilai penting karena jurnalis dapat menghadapi berbagai karakter bencana dalam menjalankan tugas, mulai dari wilayah pegunungan, laut hingga udara.

"Bagaimana caranya organisasi profesi ini juga bisa terlibat dalam memberikan pembekalan, pemahaman, bagaimana mitigasinya menerapkan safety protocol saat peliputan bencana, entah itu peliputan bencana di gunung, laut, di udara," ujarnya.

Sementara itu, Kapolresta Gowa Kombes Pol Muh Yusuf Usman mengapresiasi inisiatif IJTI Sulsel menggelar doa bersama dan nyala lilin tersebut. Menurutnya, kegiatan itu menjadi bentuk keprihatinan terhadap para jurnalis yang sedang menjalankan tugas peliputan erupsi Gunung Anak Krakatau.

"Alhamdulillah saya mengucapkan terima kasih atas inisiatif dari rekan-rekan, tentunya berkolaborasi dengan teman-teman kepolisian khususnya Polresta Gowa untuk kita laksanakan kegiatan doa bersama," kata Yusuf.

Yusuf menyampaikan keprihatinan terhadap para jurnalis yang hingga kini masih dalam pencarian setelah menjalankan tugas peliputan. Dia menyebut tugas jurnalistik di tengah bencana memiliki risiko yang harus diperhitungkan dengan baik.

"Sebagai bentuk keprihatinan kita dan rasa belasungkawa kita terhadap saudara-saudara kita yang kemarin melaksanakan tugas, melaksanakan peliputan erupsi Anak Gunung Krakatau, dan sampai mengorbankan jiwa dan raganya," ujarnya.

Selain menyampaikan dukungan terhadap proses pencarian, Yusuf mengingatkan insan pers agar menjadikan keselamatan sebagai perhatian utama ketika berada di lapangan. Jurnalis juga diminta mengenali potensi bahaya yang dapat muncul selama menjalankan tugas.

"Kami juga berpesan kepada teman-teman jurnalis bahwa keselamatan juga menjadi hal yang utama ketika rekan-rekan semua melaksanakan tugasnya," katanya.

Menurut Yusuf, potensi bahaya dalam peliputan harus diperhatikan karena kondisi di lapangan dapat berubah sewaktu-waktu. Karena itu, aspek keselamatan perlu menjadi bagian dari pertimbangan jurnalis sebelum dan saat menjalankan tugas.

"Perhatikan keselamatan dan tentu kita dapat melihat potensi-potensi bahaya yang dapat mengancam kita dengan tugas-tugas yang kita bisa hadapi kapan saja," pungkasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya