Makanan Rendah Gula Makin Populer, 54 Persen Konsumen Indonesia Jalani Polanya

Selain selera konsumen, Cagill menilai, tren makanan rendah gula juga dipengaruhi regulasi yang kian menyoroti kandungan gula dalam produk.

oleh Nurri Indah KholillahDiterbitkan 18 September 2026, 15:00 WIB
Tren makanan rendah gula semakin diperhatikan, seiring konsumen yang mulai melek ingredient saat memilih makanan dan minuman, Jumat (17/9/2026) (Liputan6.com/Nurri Indah)

Liputan6.com, Jakarta - Tren makanan rendah gula semakin berkembang seiring meningkatnya kesadaran konsumen terhadap apa yang mereka konsumsi. Pilihan makanan dan minuman kini turut dipengaruhi oleh kandungan bahan, komposisi, serta kadar gula dalam produk, selain rasa dan harga.

Perubahan preferensi konsumen turut mendorong industri pangan melakukan reformulasi produk. Senior Director Go to Market Food Manufacturing Southeast Asia Cargill Food SEA & ANZ, Stephanie Sajuti, mengatakan upaya tersebut juga mengikuti perkembangan regulasi yang kian menyoroti kandungan gula dalam produk makanan dan minuman.

"Regulasi juga telah menerapkan Front of Pack (FOPL), yang salah satunya mengatur pencantuman informasi terkait kadar gula pada produk minuman," kata Stephanie saat jumpa pers di Jakarta, Kamis, 17 September 2026.

Gambaran mengenai perubahan preferensi konsumen tersebut tercermin dalam studi Cargill APAC IngredienTracker 2025. Riset yang memetakan persepsi konsumen terhadap bahan makanan di sejumlah negara Asia Pasifik, termasuk Indonesia, menunjukkan 54 persen konsumen Indonesia mengaku mengikuti pola makan rendah gula.

Minat terhadap pilihan yang dinilai lebih sehat juga terlihat dari kesediaan konsumen mengeluarkan biaya lebih. Lebih dari 80 persen responden menyatakan bersedia membayar lebih untuk produk dengan bahan makanan yang lebih sehat.

"Studi IngredienTracker menunjukkan bahwa konsumen Indonesia semakin memperhatikan bahan makanan, yang turut memengaruhi produk yang mereka pilih mengenai aspek kesehatan makanan dan minuman," sebut Stephanie.

Perubahan tersebut membuat informasi mengenai bahan dan kandungan produk semakin relevan dalam keseharian. Konsumen pun memiliki lebih banyak pertimbangan saat menentukan makanan dan minuman yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

Manis Tidak Selalu Berarti Gula

Tren makanan rendah gula turut membuat pemahaman tentang sumber rasa manis menjadi penting, Jumat (17/9/2026) (Dok. Cargill)

Rasa manis tidak selalu identik dengan penggunaan gula. Hal ini menjadi salah satu pemahaman yang perlu diperhatikan ketika membahas formulasi makanan dan minuman rendah gula.

Menurut Stephanie, stevia menjadi salah satu alternatif yang dapat digunakan untuk menghasilkan rasa manis. Pemanis yang berasal dari daun tersebut memiliki tingkat kemanisan jauh lebih tinggi dibandingkan gula.

"Kemanisannya itu 100 sampai 400 kali gula. Makanya, enggak perlu pakai sebanyak gula, sudah bisa manis. Tapi sesungguhnya itu bukan sukrosa, ya. Gula itu sukrosa," jelasnya.

Kandungan alami dalam bahan pangan juga dapat memberikan sensasi serupa. Susu, misalnya, memiliki laktosa, sedangkan mangga mengandung fruktosa yang membuat keduanya terasa manis.

Mengurangi Gula Bukan Sekadar Menghilangkan Rasa Manis

Dalam tren makanan rendah gula, mengurangi gula ternyata dapat memengaruhi rasa, Jakarta, Jumat (17/9/2026) (Dok. Cargill)

Mengurangi gula dalam makanan dan minuman bukan sekadar menghilangkan rasa manis. Perubahan tersebut dapat memengaruhi karakter produk secara keseluruhan, sehingga produsen perlu mencari formulasi yang tetap memberikan pengalaman konsumsi yang seimbang.

"Jadi ketika manisnya dikurangi, sebenarnya bukan cuma rasa manisnya yang hilang. Kadang ada after taste tertentu yang muncul, bahkan bisa terasa pahit, misalnya kalau ada teh," ujar Stephanie.

Menurutnya, perubahan juga dapat terasa pada mouthfeel dan body minuman. Pada minuman dengan cita rasa asam, misalnya, kadar gula yang terlalu rendah dapat membuat rasanya menjadi kurang seimbang.

"Kalau minum minuman misalnya es jeruk yang gulanya sangat rendah, kan jadi nggak balance. Asem banget, tapi manisnya enggak," jelasnya.

Karena itu, reformulasi membutuhkan lebih dari sekadar mengurangi jumlah gula. Produsen juga perlu mempertahankan cita rasa dan karakter yang membuat produk tetap nyaman dikonsumsi.

Tawarkan Solusi Produk Rendah Gula di Fi Asia 2026

Tren makanan rendah gula mendorong inovasi formulasi, salah satunya melalui yogurt ini, Jakarta, Jumat (17/9/2026) (Liputan6.com/Nurri Indah)

Solusi tersebut menjadi salah satu hal yang diperkenalkan Cargill dalam Food Ingredients Asia (Fi Asia) 2026 melalui berbagai contoh aplikasi bahan.

Selama event berlangsung di JIExpo Kemayoran, 16─18 September 2026, pihaknya memperlihatkan bagaimana bahan-bahan tertentu dapat dikembangkan untuk menyesuaikan formulasi produk. Salah satunya hadir dalam bentuk yogurt premium yang dibuat tanpa penggunaan gula.

Untuk menghasilkan karakter yang diinginkan, Cargill menggunakan Sweetmix dalam formulasi yogurt tersebut. Bahan ini menggabungkan high intensity sweetener, seperti stevia, dengan campuran bahan lain.

"Ada campuran lainnya juga kayak vanilla custard untuk membantu tekstur dan lain-lain," sebut Stephanie.

Ia juga mengatakan, kerja sama dengan pelanggan menjadi salah satu bagian penting dalam menjawab tantangan pengembangan produk makanan dan minuman.

 

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya