Liputan6.com, Jakarta - Ritme Jakarta yang serba cepat menghadirkan panggung luas bagi Budaya Flexing. Di kota dengan pilihan gaya hidup yang berlapis ini, memamerkan hal yang dianggap mewah atau bergengsi tampil dalam beragam bentuk: dari barang bermerek, hotel mewah, hingga rangkaian liburan ke luar negeri. Fenomena ini paling kentara di linimasa, ketika momen pribadi diolah menjadi sajian visual yang mengundang perhatian.
Sejalan dengan itu, dilansir dari Psychology Today, status sosial kerap diisyaratkan melalui simbol seperti barang dan gaya hidup bernilai tertentu. Media sosial membuat isyarat tersebut menjangkau audiens lebih luas; apa yang dulunya hanya terlihat oleh lingkar pertemanan kini dapat hadir di Instagram, TikTok, atau platform lain dan disaksikan ratusan hingga ribuan orang.
Advertisement
Pada titik ini, flexing bukan sekadar urusan membeli barang mahal. Ini juga tentang bagaimana seseorang ingin tampil di mata publik. Tas, mobil, jam tangan, restoran, hingga destinasi liburan menjadi elemen yang dirangkai untuk membentuk citra diri.
Namun tidak setiap unggahan barang mahal atau pengalaman mewah identik dengan pamer. Seseorang bisa saja benar-benar menyukai barang tertentu, sedang merayakan pencapaian, atau sekadar membagikan keseharian. Meski demikian, batas antara berbagi dan pamer kian tipis ketika kehidupan sehari-hari dikemas sebagai konten dan perlahan ikut membentuk identitas di dunia maya.
Lebih Dari Label Harga: Ragam Tanda Flexing
Gambaran umum flexing kerap melekat pada foto barang berharga fantastis. Kenyataannya, tampilannya bisa lebih sederhana. Pakaian dari merek tertentu, makan di restoran yang sedang ramai, hadir di acara eksklusif, menginap di hotel dengan pemandangan ikonik, sampai membeli kopi di kedai yang menjadi perbincangan juga dapat berfungsi sebagai penanda.
Jakarta menyediakan banyak panggung untuk membangun citra tersebut. Ada yang menonjolkan sisi fashionable melalui pilihan busana, ada yang tekun merekam wisata kuliner dan tempat nongkrong, sementara sebagian lain memilih menampilkan perjalanan, konser, olahraga, atau pengalaman yang terasa istimewa. Setiap orang meracik tampilannya sendiri sesuai kebiasaan dan selera bermedia sosial.
Bentuknya pun tidak selalu gamblang. Ada yang sengaja memperlihatkan logo merek, ada pula yang memilih sinyal lebih halus. Potret interior restoran tertentu, selembar boarding pass, akses ke sebuah acara, atau detail kecil dari barang yang dipakai sering kali sudah cukup memberi kesan tanpa perlu menyebutkan merek atau harga.
Arus unggahan tentang liburan, fesyen, tempat makan, dan barang membuat standar tentang apa yang dianggap menarik terbentuk di linimasa. Yang tampak, sejatinya hanya potongan kecil dari kehidupan seseorang. Satu unggahan tidak selalu mencerminkan kondisi finansial, rutinitas, atau cerita utuh di baliknya. Karena itu, yang terlihat mewah di layar belum tentu identik dengan realitas pemilik akun.
Saat Gengsi Ikut Menentukan Cara Kita Tampil di Medsos
Kedekatan istilah flexing dengan media sosial berangkat dari kemampuan platform digital membiarkan penggunanya mengatur sendiri cara ia ingin dilihat. Pilihan foto dan video, kalimat keterangan, hingga lokasi yang dipamerkan menjadi bagian dari narasi tentang diri. Dalam konteks tertentu, gaya hidup yang tampak menarik kemudian bekerja sebagai personal branding.
Dorongan untuk terlihat sukses dapat memunculkan rasa perlu mengikuti standar tertentu. Ketika linimasa dipenuhi unggahan tentang barang baru, restoran mahal, liburan, atau sederet pencapaian, kecenderungan untuk membandingkan diri dengan apa yang terlihat di layar ikut menguat. Padahal, setiap orang memiliki kondisi, kebutuhan, dan prioritas yang berbeda.
Menariknya, gengsi tidak selalu bersumber dari sesuatu yang betul-betul mahal. Nilai sebuah benda atau pengalaman kerap muncul dari popularitasnya. Sebuah tempat bisa terasa lebih memesona karena sedang ramai di media sosial. Begitu pula sebuah produk tampak lebih bergengsi karena sering muncul di unggahan figur tertentu. Alhasil, nilai sosial suatu barang tidak hanya ditentukan oleh fungsi, tetapi juga oleh kesan yang melekat.
Di sisi lain, menunjukkan pencapaian bukan berarti hal negatif. Merayakan keberhasilan, membeli barang yang disukai, atau membagikan pengalaman membahagiakan adalah pilihan yang sah. Yang menjadi perhatian adalah saat kebutuhan untuk terlihat sukses mengambil porsi lebih besar daripada pengalaman itu sendiri.
Pada akhirnya, media sosial hanyalah salah satu cara bercerita tentang hidup. Ingin tampil sederhana, menonjolkan gaya fesyen, atau memamerkan pencapaian, semua kembali pada preferensi masing-masing. Yang patut diingat, yang terlihat di layar hanyalah satu bab dari kisah yang lebih besar.
Penulis: Najwa Maulidina