Liputan6.com, Jakarta - Aksi unjuk rasa Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) di depan Kantor Bank Mandiri KCP Pati berlangsung panas, Selasa (15/9/2026).
Massa melempari bank yang berada di Jalan Diponegoro Pati dengan telur busuk. Selain itu, mencorat-coret halaman dengan mural bernada kecaman, hingga membakar ban dan mengepulkan asap hitam.
Advertisement
AMPB berencana menggelar aksi maraton selama empat hari berturut-turut. Aksi itu merupakan bentuk protes keras atas pemblokiran rekening milik aktivis AMPB, Supriyono alias Botok pada Agustus 2026.
Rekening Botok disebut diblokir menjelang aksi unjuk rasa di Gedung DPR RI, Jakarta. Saat itu, pihak bank menyampaikan bahwa tindakan tersebut dilakukan atas permintaan aparat penegak hukum.
Namun, kepolisian kemudian memberikan klarifikasi bahwa permintaan kepada pihak bank bukan berupa pemblokiran rekening. Alasannya penundaan transaksi. Rekening Botok selanjutnya kembali dapat diakses pada 26 Agustus 2026.
Koordinator AMPB, Botok menilai, persoalan tersebut bukan sekadar urusan administrasi perbankan. Pemblokiran rekening yang menampung akumulasi dana pribadi dan donasi publik senilai Rp 80,9 juta, merupakan bentuk upaya sistematis untuk membungkam gerakan kritis masyarakat.
"Ini bukan sekadar pemblokiran. Ini adalah bentuk pembungkaman terhadap suara rakyat dan bentuk perlawanan terhadap perjuangan kami untuk bangsa ini," tandas Botok di sela-sela aksi.
Dana yang tersimpan di rekening Bank Mandiri tersebut, kata Botok, berasal dari penggalangan donasi masyarakat. Dana itu rencananya digunakan untuk membiayai aksi pengawalan RUU Perampasan Aset Koruptor dan hukuman mati koruptor di DPR.
Botok menyebut, pemblokiran dilakukan sejak 21 Agustus 2026 tanpa adanya konfirmasi maupun klarifikasi kepadanya sebagai nasabah.
Menurut dia, dampaknya tidak hanya menghambat persiapan aksi AMPB. Namun juga mengganggu transaksi usaha pribadi serta pemenuhan kebutuhan keluarganya.
Botok juga menilai terdapat ketidakadilan dalam penerapan kebijakan pemblokiran rekening. Ia mempertanyakan mengapa rekening yang berkaitan dengan aktivitas ilegal dan dugaan korupsi tidak diperlakukan dengan cara yang sama.
"Judi online yang sangat merusak kehidupan masyarakat kenapa tidak diblokir? Rekening koruptor triliunan kenapa tidak diblokir? Kami berjuang untuk bangsa ini, tapi Bank Mandiri dengan sewenang-wenang melakukan pemblokiran," tegasnya.
Botok mengaku bahwa tekanan yang diterima kelompok AMPB tidak hanya berupa persoalan finansial. Intimidasi juga terjadi secara fisik, salah satunya berupa pelemparan batu terhadap bus rombongan aksi serta tekanan terhadap pemilik jasa penyewaan bus.
Pada hari pertama aksi, massa AMPB juga menolak ajakan untuk berdiskusi atau melakukan audiensi dengan manajemen Bank Mandiri KCP Pati.
Botok mengatakan, kedatangan massa pada hari pertama memang tidak ditujukan untuk berdialog dengan pihak bank. Mereka ingin terlebih dahulu menyampaikan kekecewaan dan kemarahan atas kebijakan yang dinilai merugikan.
"Hari ini kami tidak mau diskusi. Hari ini kami meluapkan kemarahan. Apa yang dilakukan Bank Mandiri sangat melukai teman-teman dan rakyat Indonesia. Nanti pada saat audiensi pada akhir aksi baru kami tanyakan regulasinya," tuturnya.
AMPB sebelumnya telah melayangkan surat pemberitahuan kepada Polresta Pati. Yakni terkait rencana aksi maraton selama empat hari berturut-turut. Massa menyatakan siap memperpanjang aksi hingga mendapatkan kejelasan mengenai persoalan tersebut.
"Aliansi Masyarakat Pati Bersatu menjaga marwah, harkat, dan martabat rakyat Pati. Apapun risikonya, kami tidak akan mundur satu langkah pun," pungkas Botok.
Koordinator AMPB lainnya, Teguh Istiyanto, turut melontarkan kritik keras terhadap Bank Mandiri. Ia menyebut bank pelat merah tersebut sebagai "antek koruptor" karena dinilai menghambat gerakan masyarakat sipil yang mendukung pemberantasan korupsi.
"Makanya kami lempari telur busuk. Itu simbol kebusukan perbankan yang menjadi 'antek koruptor'," tandas Teguh.
Wartawan telah berupaya meminta keterangan dari pihak Bank Mandiri terkait aksi tersebut.
Upaya konfirmasi dilakukan melalui petugas keamanan yang berjaga di lokasi, dengan meminta agar wartawan dapat dihubungkan dengan pihak manajemen.
Namun, petugas keamanan menyampaikan bahwa memberikan keterangan maupun menghubungkan wartawan dengan manajemen bukan merupakan kewenangannya.
Saat aksi berlangsung, pintu masuk Bank Mandiri KCP Pati ditutup. Sejumlah polisi bersama petugas keamanan bank berjaga di sekitar lokasi.