Liputan6.com, Beijing - Atlet Australia Joanna Wietrzyk berhasil memenangkan divisi Pro Women dalam ajang Hyrox Beijing pada 12 September. Namun, kemenangannya menjadi sorotan setelah ia mengalami inkontinensia fekal di tengah perlombaan.
Dikutip dari Mothership, Selasa (15/9/2026), Wietrzyk tetap menyelesaikan lomba hingga garis finis. Setelahnya, penyelenggara menutup dan melakukan disinfeksi pada sejumlah bagian lintasan.
Advertisement
“A win is a win”Ketika rekaman kejadian tersebut mulai beredar di internet dan memicu pujian sekaligus kritik, Wietrzyk memberikan tanggapan melalui Instagram Story.
Seperti dikutip ulang oleh Dimsum Daily, unggahan tersebut memperlihatkan Wietrzyk sedang berbaring di ranjang rumah sakit sambil memasang ekspresi cemberut ke arah kamera. Ia menuliskan kalimat, “A win is a win”, sebelum mengucapkan terima kasih kepada para pendukungnya dan berjanji akan “segera kembali”.
Publikasi tersebut juga mencatat bahwa Wietrzyk tidak memberikan penjelasan mengenai apa yang terjadi dan tidak menyampaikan permintaan maaf.
Reaksi Publik Terbelah
Respons terhadap kejadian ini pun terbagi.
Sejumlah pengguna di X menilai Wietrzyk seharusnya langsung didiskualifikasi. Salah satu pengguna menulis bahwa keputusan tersebut “seharusnya menjadi diskualifikasi instan”.
Pengguna lainnya bahkan menyebut tindakan tersebut sebagai sesuatu yang tidak pantas terhadap peserta lain maupun staf penyelenggara.
Di sisi lain, para pendukung Wietrzyk melihat keputusannya untuk terus berlomba sebagai bentuk kegigihan yang justru menjadi bagian dari semangat Hyrox.
“Respect to Joanna Wietrzyk for not letting some incontinence slow her down. The Aussies are just born tougher, y’all,” tulis salah satu pengguna.
Pandangan Berbeda
Fitness YouTuber sekaligus mantan pemilik gym, Andrew Hiller, memiliki pandangan berbeda mengenai siapa yang seharusnya bertanggung jawab.
Menurut Hiller, perlombaan semestinya dihentikan segera setelah kejadian tersebut terjadi.
“This race should have been ruined for everybody in this moment because Hyrox would have said, ‘Yo, Joanna, guess what? You pooped. Now everyone needs to stop,’” katanya.
Hiller kemudian mempertanyakan bagaimana peserta yang berada di belakang Wietrzyk masih bisa melanjutkan perlombaan menggunakan jalur dan peralatan yang sama, sementara pihak Hyrox sendiri menilai kontaminasi tersebut cukup serius hingga harus mengganti permukaan lintasan.
Menurutnya, sebagian besar kesalahan justru berada di pihak penyelenggara, bukan atlet.
Hiller memperkirakan 80 hingga 90 persen tanggung jawab berada pada Hyrox. Ia juga menilai kejadian ini pada akhirnya dapat mendorong lahirnya aturan resmi yang mengatur diskualifikasi dalam kasus buang air besar selama perlombaan.
Pernyataan Hyrox juga Menuai Kritik
Akun global Hyrox kemudian memberikan tanggapan mengenai insiden tersebut. Namun, pernyataan penyelenggara justru kembali mendapat sorotan.
Pihak Hyrox menyatakan bertanggung jawab untuk terus melakukan perbaikan. Akan tetapi, mereka tidak menyampaikan permintaan maaf kepada para atlet yang harus tetap berlomba di lintasan yang telah terkontaminasi.
Seorang pengguna Instagram menanggapi pernyataan tersebut dengan kritik tajam. Ia menilai Hyrox seharusnya meminta maaf kepada seluruh atlet yang bertanding di Beijing sekaligus memberikan komitmen tegas bahwa atlet yang melakukan hal serupa di masa mendatang akan langsung dikeluarkan dari arena pertandingan.
Hiller bahkan menguraikan apa yang menurutnya seharusnya disampaikan oleh penyelenggara.
Karena penyelenggara bertanggung jawab menjaga lingkungan kompetisi tetap aman dan higienis, Hiller menilai respons Hyrox belum cukup. Menurutnya, pernyataan tentang tanggung jawab untuk terus melakukan perbaikan tidak sama dengan mengakui kesalahan dan meminta maaf kepada para atlet yang terdampak.
Yang paling penting, menurut Hiller, Hyrox seharusnya memberikan pengembalian biaya kepada para atlet yang terdampak oleh kejadian tersebut.