Liputan6.com, Jakarta - Menteri Ekonomi Kreatif (Menekraf) Teuku Riefky Harsya menyebut subsektor aplikasi mencatatkan nilai investasi tertinggi di sektor digital Indonesia pada 2025. Nilainya mencapai Rp 54,18 triliun dari total investasi sektor digital yang sebesar Rp 183,01 triliun.
Besarnya investasi tersebut, menurut Teuku Riefky, menunjukkan bahwa subsektor aplikasi memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan. Indonesia bahkan dinilai memiliki peluang untuk menjadi pusat ekosistem pengembang aplikasi lokal sekaligus memperluas jangkauan karya digital ke pasar internasional.
Advertisement
Untuk mendorong hal tersebut, pemerintah berupaya mempertemukan pelaku industri aplikasi dengan negara-negara sahabat dan investor internasional. Kolaborasi tersebut diharapkan membuka lebih banyak peluang bagi karya digital Indonesia untuk berkembang, tidak hanya di dalam negeri tetapi juga di pasar global.
"Kami ingin mempertemukan para pelaku agar karya anak bangsa dapat berkolaborasi dengan negara-negara sahabat dan investor internasional. Harapannya, tidak hanya menjadi tuan rumah di negeri sendiri, tetapi juga mampu menembus pasar global," kata Teuku Riefky, dalam Indonesia Application Summit (InApps) 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Kabupaten Tangerang, Senin (14/9/2026).
Sejalan dengan meningkatnya potensi investasi dan peluang pasar, pengembangan aplikasi juga tidak bisa berdiri sendiri. Subsektor ini menjadi bagian dari ekosistem ekonomi kreatif yang saling terhubung, sehingga membutuhkan kolaborasi dari berbagai bidang.
"Ekosistem ini menghubungkan developer, desainer, animator, musisi, sineas, hingga kreator konten dan UMKM. Sangat disayangkan jika kita tidak bisa beradaptasi dan bersinergi dalam memanfaatkan momen ini," tegasnya.
Keterhubungan antarsubsektor tersebut menjadi penting karena pertumbuhan ekonomi kreatif tidak hanya ditopang oleh nilai investasi, tetapi juga oleh kemampuan industri menyerap tenaga kerja dan menciptakan peluang ekonomi baru.
Sektor Penyerap Tenaga Kerja Terbesar
Pada kesempatan yang sama, Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni, Raffi Ahmad, mengingatkan agar seluruh pihak tidak memandang sebelah mata kontribusi sektor ekonomi kreatif terhadap perekonomian nasional.
"Dengan ekonomi digital yang diperkirakan mendekati US$ 130 miliar pada 2026, ini angka yang sangat besar dan menjadi salah satu yang tertinggi di Asia Tenggara. Indonesia harus menjadi tempat lahirnya aplikasi kelas dunia," ujar Raffi.
Raffi menyoroti peran ekonomi kreatif sebagai salah satu sektor penyerap tenaga kerja terbesar yang siap mengakselerasi pencapaian Indonesia Emas.
"Ekonomi kreatif ini jangan dianggap sepele karena bisa mengakselerasi kemajuan secara luar biasa. Sektor ini menyerap sekitar 27 juta tenaga kerja, dan yang paling penting, 63 persen di antaranya berasal dari Generasi Z," ungkapnya.
Ia pun menekankan bahwa kunci utama dalam membangun ekosistem digital yang solid adalah sinergi antar-sektor.
"Kuncinya adalah kolaborasi. Tidak ada orang yang sukses sendiri. Di zaman sekarang tidak ada Superman, yang ada Superteam," tutup Raffi.