30 Tahun Bersahabat, 2 Perempuan Ini Ternyata Saudara Kandung

Terpisah sejak bayi dan diadopsi di Belanda, Meena dan Minal bersahabat selama 30 tahun sebelum tes DNA mengungkap mereka adalah saudara kandung.

oleh Septian DenyDiterbitkan 14 September 2026, 17:00 WIB
Terpisah sejak bayi dan diadopsi di Belanda, Meena dan Minal bersahabat selama 30 tahun sebelum tes DNA mengungkap mereka adalah saudara kandung. (Sumber: Instagram @meenageltink)

Liputan6.com, Amsterdami - Kisah Meena Geltink dan Minal Tijssen bak cerita film Bollywood. Keduanya sama-sama lahir di India pada awal 1980-an, diadopsi oleh keluarga berbeda saat masih bayi, lalu tumbuh berdekatan di Belanda.

Namun, selama bertahun-tahun, mereka tidak pernah tahu bahwa hubungan keduanya jauh lebih dekat dari sekadar persahabatan.

Meena dan Minal ternyata adalah saudara kandung biologis.

Dikutip dari BBC, Senin (14/9/2026), keduanya diadopsi dari dua panti asuhan berbeda di Mumbai, India, hanya beberapa bulan setelah lahir. Mereka kemudian dibesarkan oleh dua pasangan Belanda yang berbeda.

Saat masih remaja, keduanya bertemu dalam sebuah acara yang digelar lembaga adopsi yang digunakan orang tua mereka. Pertemuan itu langsung terasa berbeda.

Meena yang kini berusia 43 tahun masih mengingat jelas momen tersebut.

“Semua anak adopsi dikumpulkan untuk bersantai, menjalin kedekatan, dan makan malam,” kata Meena kepada BBC dari rumahnya di Belanda.

Saat itu, teman-teman mereka justru lebih dulu menyadari kemiripan keduanya.

“Mereka berkata, ‘Lihat diri kalian di cermin.’

“Dan saya seperti, ‘Ya Tuhan, dia punya hidung seperti saya! Kami tertawa dengan cara yang sama.’

“Selama makan malam, saya terus memandanginya sepanjang waktu,” ujar Meena.

Keesokan harinya, Meena dan Minal bertukar nomor telepon serta alamat. Mereka berjanji untuk tetap berhubungan.

Meski tidak ada petunjuk bahwa mereka memiliki hubungan darah, kedekatan keduanya terasa begitu kuat. Selama bertahun-tahun, mereka saling berkirim surat dan bahkan sering memanggil satu sama lain dengan sebutan “Sis” karena “kami merasa seperti itu”.

Mereka bercerita tentang sekolah, teman, laki-laki, jalan-jalan hingga menari. Mereka juga membicarakan olahraga yang dimainkan serta musik yang disukai. Salah satu kesamaan mereka adalah sama-sama menyukai Backstreet Boys.

Namun, sekitar 15 tahun lalu, komunikasi mereka terputus.

Minal pindah ke Prancis, sementara Meena baru saja memiliki anak pertamanya dan mulai sibuk dengan kehidupannya.

 

Tes DNA Mengubah Segalanya

Pada 2017, Meena menghadiri pertemuan lain yang mempertemukan orang-orang yang diadopsi dari India. Di sana, ia mendengar tentang tes DNA dan memutuskan untuk menjalani tes tersebut.

Namun, tidak pernah ada kecocokan yang ditemukan.

Awal tahun ini, Meena bahkan menghapus aplikasi tes DNA itu karena kapasitas penyimpanan ponselnya penuh.

Hingga pada 20 Mei, sebuah pesan dari Minal masuk melalui Facebook.

“Masih ingat aku?” tanya Minal.

Minal ternyata baru menjalani tes DNA pada April ketika mengunjungi orang tuanya di Belanda. Ia kemudian mengirimkan tangkapan layar hasil tes kepada Meena.

Meena pun kembali memasang aplikasi tersebut. Rasa gugup membuatnya sampai 10 kali memasukkan kata sandi yang salah sebelum akhirnya berhasil masuk.

Hasilnya membuat Meena tak percaya.

Keduanya ternyata memiliki kecocokan DNA “100 persen”.

“Saya memiliki ‘saudara perempuan kandung’, yang berarti kami memiliki ibu dan ayah biologis yang sama,” jelas Meena.

“Saya seperti mendapat suntikan adrenalin. Saya menangis. Minal adalah bagian teka-teki yang hilang dan sudah lama saya tunggu. Kami memang sudah saling memanggil saudara perempuan.

“Kecocokan DNA ini menjadi konfirmasi bahwa semua intuisi kami selama ini benar,” lanjutnya.

“Kami Bersaudara Selama Ini, Tapi Tidak Tahu”

Pada suatu hari yang cerah di Agustus, Meena dan Minal akhirnya bertemu kembali untuk pertama kalinya setelah mengetahui bahwa mereka adalah saudara kandung.

Bagi Meena, pertemuan itu terasa seperti pulang ke rumah.

“Itu luar biasa. Rasanya seperti pulang ke rumah,” kata Meena, yang kini menjadi ibu tiga anak.

“Selama bertahun-tahun, Minal dan saya merasa ada lubang besar di hati kami. Kami merasa kini telah menjadi lengkap. Semuanya sekarang terasa seperti memang seharusnya terjadi.”

Reuters menggambarkan reuni emosional keduanya diwarnai tangisan, pelukan dan tawa, sebelum mereka mengambil swafoto bersama untuk pertama kalinya.

Minal, 44 tahun, kini tinggal di Prancis bersama pasangannya dan dua putranya. Ia mengatakan bahwa ketika hasil tes DNA keluar pada April, dirinya awalnya tidak menyadari bahwa kecocokan tersebut adalah dengan gadis remaja yang pernah begitu dekat dengannya saat mereka pertama kali bertemu sekitar 30 tahun lalu.

Kesadaran itu baru muncul ketika Minal melihat kembali foto-foto mereka di media sosial.

“Meena: Saudara perempuan.” Saya tidak bisa mempercayainya. Kami berteman sebelum menjadi saudara perempuan.

“Kami sudah menjadi saudara perempuan sepanjang waktu,” katanya. “Tetapi kami tidak mengetahuinya.”

 

Pernah Mencari Asal-usul di Mumbai

Meena tumbuh di sebuah desa kecil di Belanda bersama orang tua angkatnya yang bekerja sebagai guru di sekolah swasta.

“Mereka juga adalah guru saya,” katanya. “Mereka adalah orang-orang yang sangat penyayang dan sangat dapat dipercaya.”

Ayah Meena meninggal beberapa tahun lalu. Namun, ibunya masih tinggal di desa yang sama.

“Kami berbicara setiap hari. Dia masih menjadi tempat saya merasa aman,” ujar Meena.

Pada 2003, ketika berusia 19 tahun, Meena pernah mengunjungi panti asuhan di Mumbai bersama orang tua dan saudara laki-lakinya yang juga diadopsi dari Goa.

Selama dua minggu, mereka menelusuri berbagai catatan untuk mencari informasi mengenai orang tua biologis Meena.

“Karena bagi saya penting untuk mengetahui dari mana saya berasal. Tetapi panti asuhan tidak mau mengungkapkan informasi apa pun tentang mereka,” katanya.

Kini, setelah menemukan satu sama lain, Meena dan Minal kembali menjalin hubungan yang erat. Sejak Mei, mereka berbicara setiap dua hari sekali.

Keduanya juga telah bertemu pasangan, anak-anak, saudara laki-laki dan orang tua masing-masing.

“Semua orang memperhatikan bagaimana kami menyelesaikan kalimat satu sama lain, bagaimana kami menggerakkan kepala atau berjalan dengan cara yang sama,” kata Meena.

Meski demikian, kenyataan bahwa mereka adalah saudara kandung masih terus mereka cerna.

“Kadang-kadang kami berbicara selama dua jam dan kehilangan jejak waktu, lalu tiba-tiba teringat bahwa kami harus berbelanja atau menjemput anak-anak dari sekolah.”

Ada satu hal yang sangat ingin mereka lakukan bersama: kembali ke tempat semuanya bermula.

“Kami ingin suatu saat pergi ke India bersama, berjalan menyusuri jalan-jalan di Mumbai bersama-sama,” kata Meena.

Ia mengatakan, ada masa ketika mereka berdua merasa sangat kesepian, termasuk ketika Meena kehilangan ayahnya atau mengalami patah hati.

“Saya menyesal kami tidak bisa bersama satu sama lain. Kami seharusnya bisa berbagi kebahagiaan dan saling membantu melewati masa-masa sulit," tutup dia.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya