The Fed hingga Harga Minyak Bakal Jadi Perhatian Pasar Pekan Depan

Kenaikan harga minyak dan rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) mempengaruhi pasar saham AS. Namun, kinerja IHSG melemah dan rupiah stabil.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 13 September 2026, 14:12 WIB
Ekspresi pialang Michael Gallucci saat bekerja di New York Stock Exchange, Amerika Serikat, Rabu (11/3/2020). Bursa saham Wall Street jatuh ke zona bearish setelah indeks Dow Jones turun 20,3% dari level tertingginya bulan lalu. (AP Photo/Richard Drew)

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak melonjak sekitar 12% pekan ini seiring kenaikan eskalasi pertempuran di sekitar Selat Hormuz. Harga minyak Brent sempat menyentuh level tertinggi sejak Mei 2026 di US$ 109,97, dan kembali turun ke bawah US$ 104. Pekan depan, kebijakan suku bunga the Federal Reserve (the Fed) dan perkembangan harga minyak akan dicermati.

Pada saat yang sama imbal hasil atau yield obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) tenor 10 tahun menembus 4,9%, level tertinggi sejak 2023, dan pasar memperhitungkan kemungkinan lebih besar kenaikan suku bunga the Federal Reserve (the Fed) pekan depan. Demikian mengutip riset PT Ashmore Asset Management Indonesia, Minggu, (13/9/2026).

Eskalasi konflik memburuk setelah militer AS menghancurkan lima kapal tanker minyak Iran pada Selasa pekan ini sebagai balasan atas upaya serangan terhadap kapal perang Amerika Serikat. Sementara Iran mengklaim telah menyerang 10 kapal di dekat selat tersebut.

Pasukan Houthi menyerang fasilitas minyak Arab Saudi di empat kota wilayah selatan, melukai 73 orang dan memaksa penghentian operasional sementara, sehingga membuka front kedua yang mengancam infrastruktur energi di kawasan Teluk.

Dampak terhadap aktivitas pelayaran terasa seketika, jumlah kapal yang melintasi selat turun menjadi sekitar enam kapal per hari, jauh di bawah rata-rata dua belas kapal sebelumnya, dan estimasi volume aliran minyak merosot hingga di bawah dua juta barel per hari, padahal sebelumnya sempat pulih ke angka delapan atau sembilan juta barel pada minggu sebelum pertempuran kembali pecah pada 30 Agustus.

Produksi Arab Saudi turun sekitar 1,9 juta barel per hari selama bulan Agustus, dan tarif angkut kapal tanker melonjak hingga mencapai rekor tertinggi.

“Berbeda dengan situasi yang kami bahas pada minggu-minggu sebelumnya, kondisi kali ini bukan lagi sekadar premi risiko yang dipicu oleh ketakutan semata, melainkan gangguan nyata terhadap pasokan fisik,” demikian seperti dikutip dari riset Ashmore Asset Management Indonesia.

 

 

Prediksi Harga Minyak

Ilustrasi Harga Minyak Dunia Hari Ini. Foto: AFP

Perubahan yang terjadi minggu ini terletak pada asumsi pasar mengenai durasi konflik. S&P Global menarik kembali perkiraan sebelumnya yang memprediksi perang akan usai dan kondisi Selat Hormuz kembali normal pada akhir 2027.

“Kini, mereka memperkirakan harga minyak akan bertahan di kisaran US$ 80 hingga US$ 100 sepanjang tahun depan, yang mencerminkan kenormalan baru berupa konflik berkepanjangan dan risiko maritim yang terus menghantui,” demikian seperti dikutip dari riset Ashmore.

Sejumlah laporan juga menyebutkan, para penasihat senior Gedung Putih secara pribadi telah menyampaikan kepada Presiden Trump mengenai kemungkinan konflik berlanjut hingga sisa masa jabatannya, sementara di depan publik, Presiden tetap bersikeras harga akan turun drastis setelah pemilihan umum 3 November berlalu.

Gangguan yang berlangsung singkat dapat disikapi dengan menunggu hingga situasi berlalu, sedangkan gangguan yang berkepanjangan memerlukan perencanaan khusus, dan pasar telah mulai memperhitungkan kemungkinan skenario yang terakhir ini.

 

Dampak Inflasi di AS

Seorang wanita bergegas ke terminal setelah diturunkan di Bandara Internasional Los Angeles, Los Angeles, Amerika Serikat, 19 Desember 2022. Liburan Natal dan Tahun Baru bagi sebagian warga Amerika Serikat dan Eropa tahun ini menghadirkan kekhawatiran karena tekanan ekonomi. (AP Photo/Jae C. Hong)

Di Amerika Serikat, dampak inflasi sudah mulai terlihat. Harga di tingkat produsen naik 0,4% pada Agustus, meningkat dari 0,1% pada Juli, sehingga laju inflasi tahunan mencapai 5,4%, yang didorong oleh kenaikan biaya energi. Biaya pinjaman jangka panjang pun turut meningkat seiring dengan hal tersebut.

Probabilitas kenaikan suku bunga pada pertemuan pekan depan telah bergeser ke angka sekitar 67%, dan pasar mulai mempertimbangkan kemungkinan kenaikan kedua sebelum akhir tahun.

Laporan inflasi Agustus dirilis Jumat pekan ini dan akan menjadi masukan terakhir sebelum pengambilan keputusan pada 16 September. The Fed tidak lagi bertindak sendirian, mengingat Bank Sentral Eropa (ECB) juga telah menaikkan suku bunga kebijakannya pekan ini sebagai respons terhadap tekanan yang sama akibat lonjakan harga energi.

 

Kinerja IHSG Sepekan

Layar yang menampilkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) saat acara Penutupan Perdagangan Bursa Efek Indonesia Tahun 2022 di Jakarta, Jumat (30/12/2022). PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat ada 59 perusahaan yang melakukan Initial Public Offering (IPO) atau pencatatan saham sepanjang 2022. Pada penutupan perdagangan akhir tahun, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup lesu 0,14% atau 9,46 poin menjadi 6.850,62. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Ashmore menyebutkan, kabar baiknya, pasar domestik merespons situasi ini lebih baik dari perkiraan. Adapun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 1,4% ke level 6.541, sementara nilai tukar rupiah bertahan stabil di Rp 17.600 dan imbal hasil obligasi pemerintah hanya mengalami kenaikan moderat.

"Bagi Indonesia sebagai importir minyak, pergerakan harga yang signifikan dan berkelanjutan seperti ini meningkatkan biaya impor, membebani neraca perdagangan, memicu inflasi melalui kenaikan biaya transportasi dan pangan, serta menambah beban subsidi bahan bakar dalam anggaran negara,” demikian seperti dikutip dari riset Ashmore.

Inflasi sudah menunjukkan tren kenaikan pada Agustus ke angka 3,19%, dengan inflasi inti mencapai level tertinggi dalam tiga tahun sehingga kondisi awal saat ini tidak senyaman Juli.

“Kenaikan imbal hasil (yield) obligasi AS turut memperparah situasi dengan menarik arus modal masuk ke aset-aset berbasis dolar,” demikian seperti dikutip dari riset Ashmore.

Oleh karena itu,Ashmore menilai, respons pasar minggu ini cenderung menenangkan alih-alih mengkhawatirkan. Memang, investor asing sempat mengubah arah dengan mencatatkan penjualan bersih sebesar US$ 152 juta atau Rp 2,67 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.610) hingga Kamis setelah melakukan pembelian pada minggu sebelumnya, dan pasar saham melepaskan sebagian keuntungan yang sempat diraih baru-baru ini.

Namun, nilai tukar rupiah justru menguat tipis dan imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun hanya naik sekitar empat basis poin menjadi 7,151%.

Dua data domestik turut menjelaskan stabilitas tersebut: cadangan devisa meningkat menjadi US$ 146,5 miliar memberikan Bank Indonesia bantalan yang lebih kuat untuk menjaga nilai tukar, dan penjualan ritel tumbuh 1,1% pada Juli (berlawanan dengan perkiraan kontraksi lanjutan), yang mengindikasikan pemulihan permintaan rumah tangga.

 

Aset Indonesia Bertahan di Tengah Konflik Timur Tengah Meningkat

Pada penutupan perdagangan hari ini, Selasa (8/4/2025), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 7,9% ke level 5.996,14. (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Secara keseluruhan, minggu ini menandai momen ketika konflik tersebut mulai menjadi risiko ekonomi, tetapi aset-aset Indonesia tetap bertahan dalam kondisi yang cukup baik.

Kendati demikian, dampak dari guncangan harga minyak biasanya muncul dengan jeda waktu (lag), dan Federal Reserve (The Fed) juga belum mengambil tindakan kebijakan apa pun. Argumen untuk memiliki portofolio yang terdiversifikasi lintas wilayah dan kelas aset kini menjadi jauh lebih kuat dibandingkan waktu mana pun sepanjang tahun ini, mengingat guncangan semacam ini berdampak sangat berbeda terhadap berbagai jenis aset investasi.

“Situasi seperti inilah yang menuntut kualitas sebagai prioritas utama; itulah sebabnya kami tetap mengutamakan perusahaan yang likuid, transparan, dan memiliki fundamental kuat, serta obligasi berkualitas tinggi yang menawarkan pendapatan stabil,” demikian seperti dikutip dari riset Ashmore.

Adapun hal-hal utama yang perlu dicermati adalah keputusan The Fed pada 16 September, pergerakan harga minyak serta volume pelayaran melalui Selat Hormuz, dan data perdagangan Indonesia.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya