Liputan6.com, Jakarta - Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuwangi mencatat lonjakan signifikan kasus Influenza-Like Illness (ILI) atau penyakit mirip influenza. Sepanjang tahun ini, rata-rata kasus ILI mencapai 8.500 pasien per bulan, dengan rekor tertinggi terjadi pada Januari 2026 yang melampaui 10.000 kasus.
Kondisi ini kian menjadi perhatian seiring masuknya masa transisi cuaca menuju kemarau ekstrem yang disebut memicu penurunan daya tahan tubuh masyarakat.
Advertisement
Plt Kepala Dinas Kesehatan Banyuwangi, Amir Hidayat, mengonfirmasi peningkatan kasus terpantau di berbagai fasilitas kesehatan. Memasuki September, Dinkes menerbitkan instruksi siaga bagi seluruh faskes untuk memperketat pelaporan dan menggencarkan langkah pencegahan.
“Kemenkes mengategorikan infeksi ini sebagai ILI. Namun, untuk derajat yang lebih berat—ditandai demam tinggi dan penurunan kondisi fisik yang drastis—kategori statusnya meningkat menjadi Severe Acute Respiratory Infection (SARI),” tegas Amir, Sabtu (12/9/2026).
Masyarakat diminta mewaspadai sejumlah gejala klinis ILI yang berpotensi memburuk jika diabaikan. Di antaranya, demam tinggi dengan suhu tubuh di atas 38 derajat Celsius. Selain itu, batuk parah, radang tenggorokan hebat, hingga sesak napas akut.
“Perubahan suhu ekstrem menuntut adaptasi tubuh yang berat, memicu anjloknya imunitas harian,” tambah Amir.
Guna menekan laju penularan yang makin masif, Dinkes Banyuwangi menerbitkan sejumlah imbauan protokol kesehatan. Di antaranya, membuka jendela dan pintu setiap pagi agar sinar matahari serta udara segar masuk. Ruangan tertutup dan lembap menjadi kondisi yang mendukung penyebaran virus.
“Gunakan masker saat beraktivitas di luar rumah atau ketika mengalami gejala flu, serta terapkan etika batuk yang benar. Selain itu, tingkatkan asupan cairan, konsumsi vitamin, dan pastikan durasi istirahat tercukupi,” paparnya.