James Riady Ungkap Tantangan Pariwisata RI: Bukan Kurang Destinasi, tapi Ini Masalahnya

James Riady menilai tantangan pariwisata Indonesia bukan kekurangan destinasi, melainkan bagaimana mengubah potensi menjadi aktivitas ekonomi.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 11 September 2026, 18:00 WIB
Wakil Ketua Umum Koordinator Kadin Indonesia dalam KADIN Friday Breakfast. (Dok Lippo)

Liputan6.com, Jakarta - Indonesia memiliki kekayaan alam dan budaya yang melimpah sebagai modal untuk mengembangkan sektor pariwisata. Namun, Wakil Ketua Umum Koordinator Kadin Indonesia James Riady menilai tantangan utama pariwisata nasional bukan lagi soal ketersediaan destinasi.

Menurut James, Indonesia sudah memiliki pantai, laut, lokasi diving, ombak untuk surfing, gunung berapi hingga hutan. Kekayaan budaya dan kuliner juga menjadi modal besar yang telah tersedia.

“Jadi, mungkin Indonesia tidak benar-benar memiliki ketersediaan aset pariwisata. Tantangan kita terletak pada konversi! Bagaimana kita mengkonversi keindahan alam menjadi aksesibilitas? Aksesibilitas menjadi pengalaman? Pengalaman menjadi pembelanjaan (spending)? Pembelanjaan menjadi investasi? Dan investasi menjadi kemakmuran?” kata James dalam Kadin Monthly Diplomatic Economic Breakfast di Kementerian Pariwisata, Jumat (11/9/2026).

Ia menilai Indonesia perlu lebih fokus mengubah potensi tersebut menjadi aktivitas ekonomi yang memberikan dampak nyata.

Dengan kekayaan aset wisata yang dimiliki, Indonesia dinilai memiliki modal besar untuk mempercepat pertumbuhan sektor pariwisata.

 

Membangun Ekosistem

Wakil Ketua Umum Koordinator Kadin James Riady dalam KADIN Friday Breakfast, di Hotel Aryadutta. (Dok Lippo)

James mengatakan Indonesia masih perlu memperkuat ekosistem pendukung pariwisata agar kekayaan destinasi yang dimiliki dapat menghasilkan manfaat ekonomi lebih besar.

Menurut dia, sejumlah negara mampu membangun ekosistem tersebut secara lebih efektif, mulai dari industri penerbangan, perhotelan, pemasaran, ritel, transportasi publik, penyelenggaraan acara, restoran, kebersihan hingga konektivitas.

Promosi digital dan konsistensi dalam menjalankan strategi pariwisata juga dinilai penting.

“Tantangannya adalah bagaimana mengubah potensi tersebut menjadi angka kedatangan wisatawan, durasi tinggal (length of stay), tingkat pengeluaran, investasi, pembukaan lapangan kerja, dan kunjungan berulang (repeat visitors),” ujar James.

Ia menilai keberhasilan pariwisata tidak cukup diukur dari jumlah wisatawan yang datang. Sektor tersebut juga harus mampu mendorong investasi dan menciptakan lapangan kerja di berbagai daerah.

James menegaskan masa depan pariwisata Indonesia tidak hanya berada di Jakarta atau Bali, tetapi juga di berbagai daerah yang memiliki potensi wisata besar.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya