Liputan6.com, Jakarta - Pencarian lima jurnalis dan tiga kru speedboat yang hilang kontak di Selat Sunda memasuki hari keempat, Jumat (11/9/2026). Berbagai upaya dikerahkan untuk mencari keberadaan mereka.
Tim SAR menyisir kompleks Krakatau, melakukan pemantauan visual termasuk di Pulau Sertung. Namun belum juga menemukan tanda-tanda keberadaan kelima jurnalis.
Advertisement
Kepala Kantor SAR Banten, Al Amrad mengungkapkan alasan mengapa pencarian secara langsung di Pulau Sertung belum dapat dilakukan.
Menurutnya, pulau tersebut berada dalam radius tiga kilometer dari Gunung Anak Krakatau, artinya pulau tersebut masuk dalam kategori rawan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
"Untuk Pulau Sertung, itu memasuki radius 3 km ya, sebagaimana kita ketahui bersama data dari PVMBG menyatakan bahwa itu masih daerah rawan, tetapi kami akan tetap berupaya bagaimana kita bisa masuk ke situ dari data BMKG," papar Amrad.
Pulau Sertung merupakan bagian dari kompleks Krakatau. Dia adalah dinding sebelah barat Anak Krakatau.
Informasi yang dihimpun, Sertung awalnya fragmen bibir kaldera yang ikut terbentuk akibat letusan dahsyat Krakatau di masa lalu.
Aktivitas vulkanik tersebut yang membentuk wajah Krakatau saat ini. Yaitu Krakatau kecil yang berada di tengah, dikelilingi oleh Krakatau Besar, Krakatau Kecil dan Sertung.
Pada zaman Hindia Belanda, pulau ini disebut verlaten berarti tertinggal atau terbuang.
Daratan tertinggi di Pulau Sertung berkisar 182 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Sertung berstatus sebagai pulau tak berpenghuni. Sering terdampak material vulkanik dan hujan abu setiap kali Anak Krakatau erupsi.
Pulau Sertung juga dimanfaatkan sebagai laboratorium alam bagi para peneliti botani, geologi dan ekologi karena suksesi vegetasi dan keanekaragaman hayatinya.