Harga Minyak Melesat 6% di Tengah Konflik AS-Iran Meningkat

Harga minyak Brent dan WTI kompak naik di atas 6% seiring ketegangan konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 11 September 2026, 07:58 WIB
Tampak foto yang menunjukkan sebuah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Aral di Bochum, Jerman (Ina FASSBENDER/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak dunia melonjak melampaui US$ 100 per barel pada Kamis, 10 September 2026 (Jumat pagi Jakarta). Harga minyak mencapai tingkat tertinggi dalam lebih dari tiga bulan seiring eskalasi tajam pertempuran antara Washington, Amerika Serikat (AS) dan Teheran, Iran pekan ini.

Mengutip CNBC, Jumat, (11/9/2026), kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) naik 6,7%, dan ditutup ke US$ 102,48 per barel, angka penutupan tertinggi sejak 19 Mei. Harga minyak Brent mendaki 6,3%, dan ditutup ke US$ 107,63 per barel.

Harga minyak telah naik lebih dari 18% sepanjang September karena pasar bersiap menghadapi kemungkinan perang berkepanjangan di Timur Tengah.

Para penasihat utama Gedung Putih telah membahas dengan Presiden Donald Trump mengenai kemungkinan perang dengan Iran dapat berlarut-larut hingga melewati Hari Pelantikan pada Januari 2029, demikian ungkap para pejabat AS kepada The Wall Street Journal.

Laporan tersebut bertentangan dengan pernyataan Trump pada Rabu yang menyebutkan perang akan berakhir segera setelah pemilihan umum paruh waktu (midterm elections). Selama berbulan-bulan, ia bersikeras konflik tersebut akan segera berakhir, tetapi kenyataannya pertempuran justru semakin memanas.

Trump mengatakan kepada para wartawan pada Rabu, harga minyak dan bensin akan turun setelah pemilu paruh waktu. Harga bahan bakar di SPBU sempat mencetak rekor tertinggi pada Hari Buruh (Labor Day) pada Senin, dan harga solar akan menembus angka US$ 6 per galon untuk pertama kalinya dalam beberapa hari mendatang.

"Iran sangat berambisi untuk memengaruhi pemilu, agar kita mendapatkan kelompok pemimpin yang lemah di sana, sehingga mereka bisa dibiarkan begitu saja dan memiliki senjata nuklir,” tutur dia.

 

 

Konflik AS-Iran Meningkatkan Risiko

Seperti diketahui, lonjakan harga minyak tidak lepas dari kekhawatiran terhadap gangguan jalur distribusi energi, khususnya di Selat Hormuz. Tampak dalam foto, seorang pekerja mengumpulkan oli mesin saat bekerja di stasiun degassing di ladang minyak Zubair, yang operasinya telah dikurangi karena perang Timur Tengah yang dipicu oleh serangan AS dan Israel terhadap Iran, dekat Basra, Irak, Sabtu, 28 Maret 2026. (AP Photo/Leo Correa)

Pertempuran antara Washington dan Teheran kembali meletus bulan ini setelah sempat terjadi ketenangan relatif pada Agustus. Iran telah berulang kali mencoba menyerang kapal perang Amerika, sementara militer AS telah menghancurkan setidaknya delapan kapal tanker Iran sejak hari Sabtu sebagai tindakan balasan.

Kelompok Houthi di Yaman, yang merupakan sekutu Iran, menyerang sejumlah fasilitas energi dan target lainnya di Arab Saudi pekan ini; serangan tersebut melukai lebih dari 70 warga sipil dan memicu kekhawatiran bahwa cakupan perang akan meluas.

Kepala Riset Goldman Sachs, Daan Struyven menuturkan, eskalasi konflik AS-Iran meningkatkan risiko lonjakan harga minyak hingga di atas US$ 120 per barel seiring dengan semakin intensifnya serangan terhadap jalur pelayaran.

Sementara itu, Direktur TFP Software FZCO, Andrei Constantin menuturkan, pasar fisik dapat semakin mengetat akibat penurunan lebih lanjut pada volume transit serta eskalasi yang lebih luas atau ancaman terhadap infrastruktur energi, yang akan memperpanjang tren kenaikan harga minyak.

Analis Trade Nation, David Morrison menuturkan, harga WTI telah sepenuhnya memulihkan penurunan yang terjadi antara awal Juni dan Juli, sementara harga Brent kini berada jauh di atas level yang tercatat pada awal Juni.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya