Liputan6.com, Reykjavík - Pemerintah Islandia memanggil Duta Besar Amerika Serikat (AS) pada Selasa (8/9/2026) setelah Presiden Donald Trump mengunggah sebuah peta yang tampaknya menampilkan Islandia sebagai bagian dari Amerika Serikat.
Dikutip dari Channel News Asia, Kamis (10/9/2026), Kementerian Luar Negeri Islandia mengatakan Menteri Luar Negeri Thorgerdur Katrin Gunnarsdottir memanggil Duta Besar AS untuk menyampaikan pesan tegas bahwa gambar tersebut sepenuhnya tidak pantas.
Advertisement
Kontroversi bermula setelah Trump mengunggah gambar ke media sosial pada Senin. Gambar itu menampilkan peta Amerika Utara dengan Kanada, Greenland, Meksiko, sebagian besar Amerika Tengah dan Karibia, serta Islandia, yang seluruhnya diberi warna menyerupai bendera AS.
Seluruh wilayah daratan dalam peta tersebut diberi label “United States of America”. Trump mengunggahnya tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut.
Islandia Andalkan AS untuk Keamanan
Islandia memiliki hubungan keamanan yang erat dengan Washington. Negara pulau di kawasan subarktik itu tidak memiliki militer sejak memperoleh kemerdekaan pada 1944.
Islandia juga merupakan anggota pendiri NATO dan memiliki perjanjian pertahanan bilateral dengan AS yang dibuat pada 1951.
Unggahan Trump muncul ketika Islandia sudah menghadapi kekhawatiran akibat sejumlah kebijakan dan pernyataan AS. Trump berulang kali mengancam akan mengambil alih Greenland, wilayah otonom Denmark yang berjarak kurang dari 300 kilometer dari Islandia.
Di saat yang sama, perselisihan perdagangan Trump dengan Kanada juga telah membuat Islandia merasa tidak tenang.
Denmark Tegaskan Sikap soal Greenland
Persoalan Greenland turut mendapat sorotan setelah Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen menanggapi peta yang diunggah Trump.
Berbicara kepada media pada Senin malam saat melakukan kunjungan ke Greenland, Frederiksen mengatakan pemerintah dan rakyat Greenland telah berulang kali menyampaikan bahwa mereka tidak ingin menjadi bagian dari Amerika Serikat.
“Kita tentu dapat mengulangi pesan itu hari ini,” kata Frederiksen kepada kantor berita Ritzau ketika mengomentari peta tersebut.