Bursa Asia Diprediksi Melemah, Harga Minyak Picu Kekhawatiran Inflasi

Bursa Asia diprediksi melemah setelah harga minyak dan imbal hasil obligasi AS naik, memicu kekhawatiran inflasi.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 10 September 2026, 08:40 WIB
kontrak berjangka saham Jepang, Korea Selatan, dan Australia menunjukkan pelemahan.

Liputan6.com, Jakarta - Bursa Asia diprediksi melemah pada Kamis (10/9/2026), mengikuti penurunan bursa saham Amerika Serikat (AS). Pergerakan pasar dibayangi lonjakan harga minyak dan imbal hasil obligasi AS yang memicu kekhawatiran inflasi.

Mengutip The Economic Times, kontrak berjangka saham Jepang, Korea Selatan, dan Australia menunjukkan pelemahan. Kondisi tersebut terjadi setelah indeks S&P 500 turun 0,5%, sedangkan Nasdaq 100 terkoreksi 0,3%.

Penurunan di Wall Street dipimpin saham sektor industri dan konsumer. Saham Nvidia, Amazon, serta Alphabet juga melemah.

Imbal hasil Treasury AS turut meningkat. Imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun bahkan mencapai level tertinggi sejak 2023.

Di pasar komoditas, harga minyak AS melanjutkan kenaikan untuk sesi kedelapan berturut-turut. Minyak mentah AS menembus US$ 97 per barel, sedangkan Brent ditutup di atas US$ 101 per barel.

 

Menunggu The Fed

Logo Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve (The Fed) di Washington. (AP Photo/Mark Schiefelbein)

Lonjakan harga minyak terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran terhadap pasokan energi dan meningkatkan tekanan inflasi.

Situasi tersebut membuat investor memperkirakan Federal Reserve (The Fed) berpotensi mempertahankan kebijakan suku bunga ketat, bahkan membuka peluang kenaikan suku bunga untuk mengendalikan inflasi.

Perhatian bursa Asia kini tertuju pada data inflasi AS yang akan menjadi petunjuk arah kebijakan The Fed.

Data inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan berpotensi memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga. Kondisi itu dapat memberikan tekanan tambahan terhadap saham dan obligasi.

Sebaliknya, jika data inflasi lebih rendah dari perkiraan, pasar dapat kembali berharap The Fed mempertahankan suku bunga.

"Semakin lama harga yang tinggi bertahan, semakin sulit bagi pasar untuk mengabaikan dorongan inflasi tersebut," kata Evelyne Gomez-Liechti, ahli strategi multi-aset di Mizuho International Plc.

 

Ketegangan Geopolitik

Ketegangan geopolitik juga menjadi perhatian bursa Asia. Presiden Donald Trump berupaya meredam kekhawatiran terkait harga minyak dan perang di Timur Tengah.

Namun, seorang pejabat senior Iran mengatakan Teheran akan meningkatkan serangan balasan jika AS terus menyerang wilayah dan infrastruktur Iran.

"Suhu konflik baru saja kembali dinaikkan," kata Kenny Polcari dari SlateStone Wealth.

"Premi risiko masih ada, dan risiko terhadap pasokan energi yang keluar dari kawasan Teluk adalah nyata," lanjutnya.

Dolar AS mengakhiri perdagangan di level terlemahnya dalam sekitar tujuh bulan. Sementara itu, yen relatif stabil setelah menguat pada sesi sebelumnya.

Selanjutnya, investor menanti data Producer Price Index (PPI) AS untuk Agustus yang dirilis Kamis, disusul Consumer Price Index (CPI) pada Jumat.

Data tersebut menjadi penting bagi bursa Asia karena dapat menentukan arah kebijakan The Fed. Inflasi yang kembali tinggi berpotensi meningkatkan tekanan terhadap pasar, sedangkan data yang lebih rendah dapat memperkuat harapan suku bunga tetap.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya