Liputan6.com, Beijing - Kakak beradik berumur 20 dan 15 tahun ini mengungkap perselingkuhan yang sudah berlangsung selama satu dekade antara ayah mereka, seorang mantan profesor di Universitas Wuhan yang bergengsi, dan mahasiswanya yang sekarang menjadi profesor di universitas yang sama.
Dikutip dari South China Morning Post, Jumat (11/9/2026), baru-baru ini mereka memposting 86 halaman dokumen tentang perselingkuhan ini ke internet, memicu banyak diskusi di seluruh platform media sosial.
Advertisement
Kakak beradik ini menargetkan ayah mereka, Fu Lei, seorang mantan profesor dan pembimbing program doktoral yang berusia 47 tahun di Fakultas Kimia dan Ilmu Molekuler Universitas Wuhan, dan saat ini menjabat sebagai wakil rektor di Universitas Anhui sekaligus anggota komite tetap Komite Partai.
Menurut informasi yang beredar, mantan mahasiswa program doktoral Fu, Zeng Mengqi berusia 35 tahun, sudah menjalin hubungan dengan Fu sejak 2016.
Kedua saudari ini mengetahui fakta mengejutkan tentang perselingkuhan sang ayah pada tahun 2018 setelah menemukan avatar online dari anime populer Detective Conan yang dipakai ayah mereka dan Zeng ketika mereka masing-masing masih berusia 12 dan 7 tahun.
Fu diduga menggunakan karakter Conan sebagai avatarnya, sementara Zeng menggunakan karakter Ai Haibara. Dalam laporan tersebut, para penulis berkata “Ai Haibara adalah karakter fiksi, tapi keluarganya yang dihancurkan oleh Zeng itu nyata.”
Dokumen online tersebut mengklaim bahwa Fu selalu cepat menjawab permintaan Zeng, bahkan saat liburan keluarga. Kakak beradik itu juga menyaksikan pesan-pesan provokatif yang dikirimkan Zeng kepada ibu mereka.
Terlebih lagi, meskipun Zeng sudah menikah dengan teman satu universitasnya di tahun 2023, ia tetap melanjutkan perselingkuhannya dengan Fu.
Dua tahun yang lalu, Fu meninggalkan keluarga mereka. Ibu mereka harus mengurus cicilan rumah dan merawat kedua putrinya sendirian. Hal ini mengakibatkan berat badan sang ibu turun 15 kilogram.
Respons Pihak Universitas
Sang kakak mendatangi Fu dalam sebuah rapat pimpinan universitas dan mendesaknya untuk menandatangani kesepakatan pemberian nafkah anak bulanan sebesar 5.000 yuan (Rp 13 juta). Yang harus dicatat adalah gaji tahunan Fu melebihi satu juta yuan (Rp 2,6 miliar).
Laporan ini juga menuduh Fu dan Zeng menyalahgunakan dana penelitian universitas untuk kepentingan pribadi dan mempertanyakan integritas akademik Zeng.
Zeng meraih gelar PhD pada tahun 2018, diangkat menjadi profesor madya di tahun 2020, dan naik pangkat menjadi profesor satu tahun kemudian. Ia pun diakui sebagai salah satu Talenta Muda dalam Program Dukungan Khusus Talenta Tingkat Tinggi Nasional.
Selain itu, ada tuduhan Zeng telah merampas hak penulisan pertama dari mahasiswa lain dalam publikasi atau menggunakan Fu sebagai penulis bayangan untuk artikelnya di jurnal-jurnal terkemuka, termasuk Nature Materials dan Journal of the American Chemical Society.
Hingga saat ini, baik Fu maupun Zeng belum secara publik menanggapi tuduhan ini. Tim SCMP pun sudah menghubungi mereka tapi tidak mendapatkan jawaban.
Pada 3 September, Universitas Wuhan secara resmi mengumumkan bahwa mereka menerima laporan dari seseorang di tanggal 19 Agustus dan akan melakukan investigasi untuk masalah tersebut. Perwakilan dari Universitas Anhui juga berkata mereka sudah melakukan investigasi terhadap Fu.
Kedua institusi tersebut berjanji akan membagikan hasilnya ketika investigasi tersebut sudah selesai. Belum ada pihak yang diberhentikan sementara dari jabatannya.
Walaupun banyak yang bersimpati dengan penderitaan kedua anak perempuan selama satu dekade ke belakang, tapi ada juga yang curiga bahwa dokumen tersebut bisa jadi ditulis oleh istri Fu menggunakan suara anak-anak mereka, jika dilihat dari kata-kata yang digunakan dalam dokumen.
Pengacara bernama Zhou Zhaocheng dari Kantor Hukum Anjian Beijing berkata bahwa jika pihak universitas menemukan bukti pelanggaran etika profesi atau kecurangan akademik, Fu dan Zeng bisa dikenai sanksi pencopotan dari jabatan atau bahkan pemecatan.
Sebaliknya, apabila dokumen tersebut dinilai melebih-lebihkan fakta, pihak pelapor dapat dimintai pertanggungjawaban atas tuduhan pencemaran nama baik.