Anak Krakatau Masih Erupsi, BMKG Sebut Abu Tak Mengarah ke Jakarta

Gunung Anak Krakatau hari ini terpantau meletus lagi, namun BMKG memprakirakan abu yang keluar tidak mengarah ke Jakarta.

oleh Ady AnugrahadiDiterbitkan 08 September 2026, 16:51 WIB
Sekretaris Utama BMKG Guswanto saat ditemui wartawan usai Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi V DPR dengan Sestama BMKG dan Sestama BNPP/Basarnas dalam pembahasan RKA K/L 2027, Selasa (8/9/2026). (Liputan6.com/ Ady Anugrahadi)

Liputan6.com, Jakarta - Abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) diprakirakan tidak mengarah ke Jakarta. BMKG menyebut arah sebaran abu dipengaruhi pergerakan angin pada berbagai lapisan atmosfer.

Sekretaris Utama BMKG Guswanto mengatakan pemantauan sebaran abu vulkanik merupakan bagian dari tugas BMKG, sementara informasi terkait erupsi disampaikan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).

"Jadi begini untuk terkait erupsi itu teman-teman PVMBG sudah menyampaikan. Sedangkan BMKG itu memiliki tugas bagaimana dampak daripada abu vulkanik itu sebarannya seperti apa," kata Guswanto seusai Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi V DPR dengan Sestama BMKG dan Sestama BNPP/Basarnas dalam pembahasan RKA K/L 2027, Selasa (8/9/2026).

Guswanto menjelaskan, beberapa hari sebelumnya BMKG menemukan dua klaster pergerakan abu vulkanik pada ketinggian berbeda. Pada ketinggian sekitar 50.000 kaki, abu bergerak ke arah barat.

Sementara pada ketinggian 12.000 hingga 15.000 kaki, abu bergerak ke arah timur. Pergerakan inilah yang menurut Guswanto sempat mengganggu sejumlah bandara akibat sebaran abu vulkanik.

Untuk kondisi terbaru, Gunung Anak Krakatau kembali erupsi. Namun, berdasarkan pemantauan BMKG, abu yang keluar saat erupsi tersebut diprakirakan tidak mengarah ke Jakarta.

"Nah, hari ini itu juga meletus. Tetapi barangkali abu yang keluar sudah tidak ada lagi, sehingga kalau kita lihat daripada signifikasi meteorologi arahnya itu tidak sampai ke Jakarta," ujarnya.

Meski demikian, Guswanto mengatakan BMKG tidak bisa memastikan secara mutlak arah sebaran abu untuk erupsi berikutnya. Sebab, kondisi atmosfer memiliki perlapisan dengan arah dan kecepatan angin yang dapat berbeda.

Ia menjelaskan, saat ini Indonesia memasuki musim kemarau yang secara umum ditandai angin timuran, yakni angin dari Benua Australia menuju Asia.

Dengan kondisi tersebut, abu dari Gunung Anak Krakatau secara umum diprakirakan bergerak ke wilayah barat atau sedikit ke utara.

“Namun kita bahwa atmosfer itu sangat kompleks. Jadi perlapisan kami punya,” katanya.

Untuk mengetahui kondisi angin pada berbagai lapisan atmosfer, BMKG menggunakan radiosonde. Alat tersebut digunakan untuk mengukur arah dan kecepatan angin berdasarkan lapisan atmosfer.

“Nah itu kami melepaskan alat yang namanya radiosonde. Dia perlapisan itu dicek arah dan kecepatan anginnya. Nah kemarin kita mendapatkan dua klaster tadi,” tutur Guswanto.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya