Nenek di China Gugat Putranya Rp 945 Juta Usai 15 Tahun Merawat Cucu

Kasus nenek di China yang menuntut putranya Rp 945 juta karena pengasuhan cucu selama 15 tahun menjadi sorotan.

oleh Nasywa FakhirahDiterbitkan 09 September 2026, 21:00 WIB
Ilustrasi nenek di China. Foto: AI Generated

Liputan6.com, Beijing - Seorang wanita di China timur mengajukan gugatan hukum dan menuntut putranya ganti rugi lebih dari 360 ribu yuan (Rp 945,9 juta) sebagai kompensasi atas perannya dalam merawat cucu perempuannya.

Dikutip dari South China Morning Post, Rabu (9/9/2026), kasus dramatis ini memicu perdebatan nasional tentang perubahan pandangan terhadap tanggung jawab kakek dan nenek dalam mengasuh cucu.

Di bulan April, sebuah pengadilan di Shanghai mengungkapkan dengan rinci sebuah kasus tahun lalu yang melibatkan Xu, seorang wanita berusia 60 tahun yang menuntut putranya dengan marga Liang.

Bertahun-tahun setelah perceraiannya dengan sang suami, Xu tinggal bersama sang putra. Setelah Liang bercerai pada 2014, ketika putrinya baru empat tahun, Xu mengambil alih sebagian besar tanggung jawab dalam membesarkan anak tersebut. Hal ini mencakup pembiayaan kebutuhan hidup, biaya pengobatan, dan biaya pendidikan dari anak tersebut, menurut laporan Xinming Evening News.

Dalam gugatannya, Xu menuduh putranya tidak memiliki "rasa tanggung jawab terhadap keluarga" dan gagal menjalankan perannya sebagai ayah. Liang membantah dan berkata ia sudah menafkahi putrinya semampunya, mengingat penghasilannya terbatas yaitu 3.000 yuan (Rp 7,8 juta) per bulan.

Konflik tersebut meningkat setelah Liang menikah lagi dan pindah bersama istri barunya, meninggalkan anak perempuannya kepada Xu. Setelah dirawat selama 15 tahun, Xu berkata ia tidak bisa lagi menanggungnya karena tekanan finansial dan meminta kompensasi dari putranya.

Pertengkaran ini menjadi gambaran dan perdebatan yang lebih luas di China tentang "biaya pengasuhan oleh kakek dan nenek."

Kasus lain yang dirilis oleh sebuah pengadilan di Beijing mengungkapkan sepasang kakek dan nenek yang membiayai cucunya sejak umurnya satu tahun menuntut putra dan menantu mereka sebesar 320 ribu yuan (Rp 840,8 juta) untuk biaya perawatan anak.

Ada pula kasus-kasus lain yang menyoroti tantangan yang dihadapi oleh para pengasuh lanjut usia. Di bulan Agustus, seorang wanita berumur 59 tahun di Provinsi Hunan, China selatan, didiagnosis menderita gangguan kecemasan setelah berat badannya turun 20 kilogram saat membantu putranya merawat sang cucu selama enam bulan.

Peran Kakek Nenek dalam Mengasuh Cucu

Ilustrasi Nenek dan Cucu (Unsplash)

Situasi seperti itu memunculkan diskusi tentang apakah pengasuhan anak oleh kakek-nenek seharusnya dipandang hanya sebagai kewajiban keluarga atau diakui sebagai kerja tanpa bayaran.

Keluarga tradisional China sudah lama menghargai dukungan antargenerasi, dengan nilai Konfusianisme yang menekankan kewajiban timbal balik antar generasi. Namun, urbanisasi dan perubahan gaya hidup sudah mengubah dinamika ini secara signifikan.

Ketika pekerja pedesaan migrasi ke kota, kakek-nenek semakin sering menjadi pengasuh utama untuk anak-anak yang tidak dibawa ke kota. Di daerah perkotaan, meningkatnya jumlah rumah tangga dengan penghasilan ganda dan terbatasnya pilihan layanan penitipan anak juga sudah memaksa banyak kakek-nenek untuk turun tangan.

Sempat dianggap sebagai sebuah pengabdian tanpa pamrih, peran kakek-nenek dalam mengasuh cucu sekarang semakin diakui sebagai bentuk kerja pengasuhan yang berharga.

Peningkatan tunjangan pensiun dan perubahan gaya hidup di masa pensiun sedang mengubah ekspektasi para lansia, seperti yang dikatakan oleh seorang akademisi bidang pekerjaan sosial dari Provinsi Hubei Zhang Liyong dalam sebuah wawancara dengan SCMP.

"Kompensasi bisa berbentuk banyak hal," ujar Zhang. "Keluarga bisa berbagi biaya hidup dan memiliki komunikasi yang lebih terbuka, sementara masyarakat harus berupaya memperluas layanan penitipan anak untuk publik."

Para ahli hukum sudah menekankan bahwa perselisihan tentang "biaya pengasuhan oleh kakek-nenek" bukanlah tentang komersialisasi hubungan keluarga. Namun, perselisihan tersebut bertujuan memperjelas tanggung jawab.

Seorang pengacara di Kantor Hukum Shanghai Shentong, Liu Gui’e, berkata kepada media Nanfeng Chuang bahwa orang tua tetap memikul tanggung jawab utama dalam membesarkan anak-anak mereka, sedangkan kakek-nenek hanya ikut membantu ketika orang tua tidak mampu memberikan pengasuhan.

Beberapa pengamat di media sosial berpendapat bahwa masalah ini mengungkapkan kelemahan mendalam dalam sistem penitipan anak di China. “Jika China ingin mendorong tingkat kelahiran yang lebih tinggi, butuh infrastruktur penitipan anak yang lebih kuat, akses layanan yang mudah, dan kebijakan yang mendukung, dibanding mengandalkan generasi yang lebih tua untuk menanggung beban tersebut,” tulis seorang pengguna internet.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya