Kisah 'Dokter Ular' China, Rela Kehilangan Jari Demi Spesies Langka

Chen Yuanhui, 'Dokter Ular' berusia 77 tahun, telah mengorbankan banyak hal, termasuk jarinya, demi Mangshan pit viper.

oleh Nasywa FakhirahDiterbitkan 09 September 2026, 19:00 WIB
Ilustrasi Ular (AP/Robert F. Bukaty, File)

Liputan6.com, Beijing - Meskipun sudah tergigit sembilan kali dan kehilangan satu jarinya akibat racun, “Dokter Ular” bernama Chen Yuanhui yang berusia 77 tahun tetap berada di garis depan untuk penelitian dan perlindungan ular pit viper Mangshan, spesies langka yang ia temukan 37 tahun lalu.

Dikutip dari South China Morning Post, Rabu (9/9/2026), Chen yang berasal dari Provinsi Guangdong, China selatan, lulus dari sebuah perguruan tinggi klinis di Provinsi Hunan, China tengah, di usianya yang ke-19 tahun dan pernah bekerja di sebuah pusat penelitian gigitan ular.

Pusat penelitian itu tutup pada tahun 1982, tapi Chen memilih untuk tidak mengganti kariernya. Sebaliknya, ia menetap dan menjadi dokter spesialis gigitan ular di pedalaman Pegunungan Mangshan.

Di tahun 1984, Chen mengobati seorang pekerja kehutanan yang digigit ular berbisa yang aneh. Ular tersebut, yang dijuluki oleh warga setempat sebagai "naga hijau kecil," digambarkan sebagai ular berwarna kuning dan hijau di seluruh tubuhnya, dengan ekor putih dan pola yang terlihat seperti persegi jika dilihat dari atas dan segitiga kalau dilihat dari samping.

Merasa bahwa ular tersebut adalah spesies yang belum secara resmi diakui oleh komunitas ilmiah, Chen pun mulai mencari tahu tentangnya. Setelah lima tahun mencari, Chen mendengar bahwa ada pekerja yang mengamankan sarang dari 23 ular yang sesuai dengan deskripsi "naga hijau kecil."

Karena ia sembunyikan dari sang istri, ia menggunakan uang tabungan keluarganya selama tiga tahun untuk membeli kulkas agar bisa menyimpan ular-ular tersebut.

Setelah berkonsultasi dengan ahli ular di China dan AS, pada 1990, Chen secara resmi mengumumkan penemuan ular berbisa ke-50 dan menamainya Mangshan pit viper atau ular berbisa Mangshan (Protobothrops mangshanensis).

 

Penangkaran Ular Milik Chen

Ilustrasi Ular (AP/Andres Kudacki)

Saat ditemukan, populasinya hanya ada sekitar 200 ekor. Selama tiga dekade berikutnya, Chen mendedikasikan hidupnya untuk mempelajari dan melindungi spesies tersebut.

Ia dan keluarganya tidak pernah meninggalkan bungalo milik mereka yang seluas 51 meter persegi. Ia pun mengembangbiakkan spesies tersebut secara buatan di rumah.

Pada tahun 1994, ia berhasil mengembangbiakkan Mangshan pit viper di penangkaran untuk pertama kalinya. Lalu di 2017, ia berhasil menetaskan 10 ekor ular dalam kondisi yang menyerupai alam bebas.

Hingga tahun 2022, Chen berhasil menetaskan 160 Mangshan pit viper, yang kemudian dilepaskan ke cagar alam di pegunungan tersebut.

Sampai saat ini, Chen berkata jumlah ular Mangshan masih kurang dari 600 ekor. Spesies ini sudah masuk ke dalam kategori "Terancam Punah" pada Daftar Merah Spesies Terancam Punah IUCN sejak tahun 2011.

Spesies langka endemik di China ini juga dijuluki "panda raksasa di antara para ular."

Setelah masuk daftar IUCN, harga ular tersebut di pasar gelap dilaporkan melonjak hingga lebih dari satu juta yuan (Rp 2,6 miliar) untuk satu ekor. Chen menolak banyaknya tawaran menggiurkan dan bahkan memindahkan ular-ular yang ia tetaskan ke rumah pribadinya setelah sebuah penjual ular mencuri salah satu ularnya.

Istrinya bahkan mengancam akan menceraikan Chen, tapi ia mengurungkan niatnya setelah melihat ambisi Chen terhadap ular yang tak tergentarkan.

 

Jumlah Gigitan yang Chen Miliki

Ilustrasi Ular. (Gambar: Jedi Equester/Unsplash)

Pria tersebut sudah sembilan kali tergigit oleh ular Mangshan dan bahkan sempat menulis surat wasiatnya setelah gigitan kedelapan. Ia kehilangan sebagian jari tengah kirinya setelah tergigit kesembilan kalinya.

Saat gigitan kesembilan itu, ia memilih untuk memfoto bekas gigitannya untuk catatan ilmiah daripada melakukan pertolongan pertama pada menit-menit kritis awal. Chen sempat tak sadarkan diri selama tiga hari tiga malam dan untungnya ia hanya kehilangan satu jari.

Bahkan setelah semua kejadian ini, ia tidak pernah menyesali jalan yang ia pilih.

Kecintaannya kepada ular membuatnya mendapat julukan "Dokter Ular," "Ular Abadi," dan "Snakeaholic (Pecandu Ular)."

Karya luar biasa milik Chen menjadi sorotan setelah Museum Zoologi Nasional China mengecam seorang pria yang memperbolehkan kedua anaknya untuk bermain-main dengan spesimen ular berbisa Mangshan, menyebabkan spesies tersebut rusak.

Chen yang mendonasikan spesimen tersebut berkata ia sedih dan bingung akan kenapa orang dewasa membiarkan anak-anak bermain dengan spesies yang berharga layaknya mainan. Ia percaya bahwa orang tuanyalah yang sepenuhnya bertanggung jawab untuk kerusakan tersebut.

“Anak-anak tidak mengerti, tapi orang dewasa harus,” ujar Chen.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya