Bauran Energi Terbarukan Belum Optimal, ESDM: Butuh Dukungan Semua Pihak

Kebutuhan pengembangan transisi energi, tidak sekadar pemenuhan piranti teknis seperti teknologi, investasi dan kebijakan tetapi juga sumber daya manusia (SDM).

oleh Tim BisnisDiterbitkan 08 September 2026, 11:34 WIB
Energi baru dan terbarukan. ©Ilustrasi dibuat AI

Liputan6.com, Jakarta - Pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) atau energi hijau di Indonesia dinilai membutuhkan dukungan semua pihak. Kebutuhan pengembangan transisi energi, tidak sekadar pemenuhan piranti teknis seperti teknologi, investasi dan kebijakan tetapi juga sumber daya manusia (SDM).

Ini diungkapkan Dirjen Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi. 

Eniya mengakui jika hingga saat ini capaian pengembangan energi baru, terbarukan dan konservasi energi masih belum optimal.

Porsi energi hijau di dalam pasokan energi nasional (bauran energi) sempat menyentuh angka 18,3% pada kuartal pertama tahun ini. Namun pada semester I 2026 capaian bauran energi nasional untuk energi baru dan terbarukan (EBT) itu turun jadi 17,3%.

"Dari data kita lihat grafiknya memang naik, capaian investasi dan juga implementasi, tetapi memang kadang-kadang terkoreksi, bahkan triwulan pertama kemarin 18,3 persen, sekarang terkoreksi sedikit," jelas dia melansir Antara di Jakarta, Selasa (8/9/2026).

Orang-orang yang bekerja di garis depan untuk mendorong perubahan menuju sistem energi yang lebih bersih, adil, dan berkelanjutan dinilai sangat dibutuhkan dalam pengembangan energi hijau.

Itu sebabnya, Eniya mengapresiasi para pihak yang ikut mendorong dan terlibat aktif, baik individu maupun korporat, yang memiliki komitmen dalam pengembangan energi baru terbarukan. Seperti beberapa kampus atau lembaga yang terlibat dalam program EBT. 

Seperti para penerima Apresiasi EBTKE 2026 antara lain Novia Utami Putri dari Politeknik Negeri Lampung, Mada Ayu Habsari dari Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) dan Rita Kefi dari Yayasan Humanis.

Mada Ayu mengatakan komitmen pengembangan energi bersih yang selama ini menjadi area dominasi kaum lelaki dengan melibatkan banyak pekerja perempuan.

"Dengan mengakui dan memperkenalkan perempuan yang telah berkontribusi dalam energi bersih dan dekarbonisasi, kita dapat meningkatkan visibilitas mereka sebagai role model, sekaligus mendorong lebih banyak perempuan untuk terlibat dalam sektor energi," ujar Mada.

 

 

 

Prabowo Dorong Energi Terbarukan, Krisis Global Jadi Peluang Indonesia

Presiden Prabowo Subianto . (Istimewa)

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menilai krisis global akibat konflik dan perang justru menjadi peluang bagi Indonesia untuk mempercepat pengembangan energi terbarukan.

“Krisis dunia ini bagi saya adalah peluang untuk mempercepat langkah kita. Ini membuat kita lebih fokus. Berarti strategi kita sudah benar, tetapi kita harus mempercepat bahwa energi kita harus terbarukan,” ujar Prabowo dalam taklimat di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (8/4/2026).

Menurutnya, Indonesia perlu memperkuat kemandirian energi agar tidak bergantung pada pasokan global yang rentan terganggu akibat dinamika geopolitik.

Prabowo juga mendorong pengembangan bahan bakar nabati (biofuel) sebagai alternatif energi. Ia menyebut bahan baku seperti singkong dan jagung dapat dimanfaatkan untuk menggantikan solar maupun bensin.

“Dan kita bisa dari batu bara, kita bisa menghasilkan solar dan bensin dari batu bara, dari singkong, dari jagung,” ucapnya.

Langkah ini dinilai penting untuk menekan impor bahan bakar minyak (BBM) sekaligus memanfaatkan potensi sumber daya alam dalam negeri.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya