Bank Mandiri Tebar Dividen Interim 2026 Rp 66, Cek Jadwal Lengkapnya

Bank Mandiri (BMRI) akan membagikan dividen interim 2026 Rp 6,1 triliun. Berikut jadwal lengkap pembagian dividen interim.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 07 September 2026, 18:58 WIB
Gedung Bank Mandiri. (Foto: Istimewa)

Liputan6.com, Jakarta - PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) akan membagikan dividen interim 2026 sebesar Rp 6,15 triliun. Pemegang saham akan mendapatkan dividen interim 2026 Rp 66 per saham.

Mengutip keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin, (7/9/2026), Bank Mandiri membagikan dividen interim sesuai keputusan direksi yang telah disetujui Dewan Komisaris pada 3 September 2026.

Pembagian dividen interim ini juga mempertimbangkan data keuangan per 30 Juni 2026 antara lain laba bersih yang didapat diatribusikan kepada entitas induk sebesar Rp 30,41 triliun, saldo laba ditahan yang tidak dibatasi penggunaannya sebesar Rp 211,8 4 triliun, dan total ekuitas sebesar Rp 293,02 triliun.

Berikut jadwal pembagian dividen interim 2026:

  • Tanggal cum dividen di pasar regular dan pasar negosiasi pada 15 September 2026
  • Tanggal ex dividen di pasar regular dan pasar negosiasi pada 16 September 2026
  • Tanggal cum dividen di pasar tunai pada 17 September 2026
  • Tanggal ex dividen di pasar tunai pada 18 September 2026
  • Tanggal daftar pemegang saham (DPS) yang berhak atas dividen tunai pada 17 September 2026, waktu: 16.00
  • Tanggal pembayaran dividen pada 2 Oktober 2026

Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup turun 0,25% menjadi 6.619,67. Indeks saham LQ45 terpangkas 0,18% menjadi 656,41. Sebagian besar indeks saham acuan tertekan.

Pada awal pekan ini, IHSG berada di level tertinggi 6.667,75 dan level terendah 6.610. Sebanyak 332 saham melemah sehingga bebani IHSG. 281 saham menguat dan 179 saham diam di tempat. Total frekuensi perdagangan saham 2.144.518 kali dengan volume perdagangan saham 37 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 13,7 triliun.

Kinerja Semester I 2026

Ilustrasi Laporan Keuangan atau Laba Rugi. Foto: Freepik/ pch.vector

Sebelumnya, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk mencatatkan laba bersih sebesar Rp 28,5 triliun pada semester I 2026, meningkat 25% secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 22,8 triliun.

Peningkatan laba tersebut terjadi di tengah pertumbuhan penyaluran kredit yang tetap tinggi dan kualitas aset yang terus terjaga.

Dalam paparan publik kuartal II 2026, dikutip dari keterbukaan informasi BEI, Kamis (23/7/2026), Bank Mandiri menyebut kenaikan laba didukung oleh pertumbuhan pendapatan, efisiensi beban operasional, serta membaiknya indikator profitabilitas perusahaan.

Sepanjang Januari-Juni 2026, total pendapatan Bank Mandiri mencapai Rp 60,7 triliun, naik 10,3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 55 triliun. Sementara itu, total beban yang terdiri atas biaya operasional dan pencadangan turun 5,73% menjadi Rp 25,6 triliun dari Rp 27,2 triliun pada semester I 2025.

Kinerja tersebut turut mendorong peningkatan rasio profitabilitas. Return on Equity (ROE) naik menjadi 24,3%, sedangkan Return on Assets (ROA) meningkat menjadi 3,10%. Di sisi lain, rasio kredit bermasalah (NPL) membaik menjadi 0,98%, turun 10 basis poin dibandingkan Juni 2025.

 

Penyaluran Kredit dan Penghimpunan DPK Bank Mandiri

Ilustrasi laporan keuangan (Foto: Isaac Smith/Unsplash)

Pertumbuhan laba juga ditopang oleh ekspansi bisnis yang masih kuat sepanjang semester I 2026.

Bank Mandiri membukukan penyaluran kredit sebesar Rp 1.591,7 triliun, meningkat 19,9% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan tersebut jauh melampaui rata-rata pertumbuhan kredit industri perbankan yang berada di kisaran 11,5%.

Sementara itu, penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) mencapai Rp 1.710 triliun, tumbuh 17,1% secara tahunan. Pertumbuhan DPK tersebut juga berada di atas rata-rata industri yang tercatat sekitar 13,5%.

Dari sisi kualitas aset, Bank Mandiri mampu menjaga rasio NPL tetap rendah di level 0,98%, lebih baik dibandingkan rata-rata industri perbankan yang berada di kisaran 2,17%. Hal ini menunjukkan kualitas penyaluran kredit tetap terjaga meski ekspansi pembiayaan berlangsung cukup agresif.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya