Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) naik tipis pada penutupan perdagangan, Senin, (7/9/2026). Analis menilai, kenaikan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dibayangi kenaikan cadangan devisa Indonesia pada Agustus 2026. Namun, penguatan rupiah tertahan sentimen eksternal.
Mengutip Antara, rupiah menguat dua poin atau 0,01% menjadi 17.640 per dolar Amerika Serikat (AS) dibandingkan penutupan sebelumnya di 17.642.
Advertisement
“Rupiah ditutup menguat tipis terhadap dolar AS setelah data menunjukkan kenaikan cadangan devisa Indonesi pada Agustus,” ujar Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong dikutip dari Antara.
Bank Indonesia (BI) menyampaikan posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Agustus 2026 sebesar US$ 146,5 miliar atau sekitar Rp 2.584,26 triliun, meningkat US$ 1,2 miliar atau sekitar Rp 21,17 triliun dibandingkan posisi akhir Juli 2026 sebesar US$ 145,3 miliar atau sekitar Rp 2.563,09 triliun.
Peningkatan tersebut terutama dipengaruhi penerimaan pajak dan jasa serta penarikan pinjaman luar negeri pemerintah, di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah oleh BI.
Namun, Lukman menuturkan, penguatan rupiah masih terbatas karena investor mempertimbangkan eskalasi geopolitik di Timur Tengah serta menantikan sejumlah data ekonomi penting dari dalam dan luar negeri.
“Untuk jangka pendek, walau momentum penguatan rupiah masih kuat, volatilitas eksternal diperkirakan masih akan mendominasi dan berpotensi menahan penguatan lanjutan rupiah,” tutur dia.
Sementara itu, Analis Bank Woori Saudara Rully Nova juga menilai tekanan eksternal terhadap rupiah masih tinggi, terutama akibat kenaikan harga minyak dunia dan potensi arus modal keluar di tengah volatilitas pasar keuangan akibat eskalasi geopolitik.
“Dari global, tekanan terhadap rupiah masih tinggi akibat harga minyak yang naik di atas US$ 95,” kata Rully.
Harga minyak Brent pada perdagangan Senin berada di atas US$ 95 per barel atau sekitar Rp 1,68 juta per barel seiring meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Rupiah Masih Hadapi Arus Modal Keluar
Rully menilai, rupiah masih menghadapi risiko arus modal keluar akibat volatilitas pasar keuangan seiring eskalasi konflik geopolitik saat jangka pendek.
Sementara itu, pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menuturkan, data tenaga kerja AS yang lebih kuat dari perkiraan turut membuat pasar mencermati prospek kebijakan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed).
“Kuatnya penambahan lapangan kerja memungkinkan The Fed untuk lebih fokus pada aspek inflasi dari mandatnya,” tutur Ibrahim.
Ibrahim mengatakann, pelaku pasar selanjutnya mencermati data indeks harga konsumen (CPI) dan indeks harga produsen (PPI) AS yang dapat memengaruhi ekspektasi terhadap arah suku bunga The Federal Reserve (the Fed).