Liputan6.com, Jakarta - Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street akan menerima sejumlah data terkini yang penting mengenai inflasi pada pekan depan.
Mengutip AP, Minggu, (6/9/2026), pada Kamis, Amerika Serikat akan merilis laporan inflasi tingkat grosir untuk bulan Agustus, yang dikenal sebagai Indeks Harga Produsen atau PPI (Producer Price Index). Laporan ini menyajikan rincian harga bagi pelaku usaha sebelum mereka membebankan biaya tersebut kepada konsumen.
Advertisement
Pada Jumat, AS akan merilis Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index atau CPI) untuk Agustus, yang lebih dikenal luas. CPI dipantau secara ketat dan memberikan rincian mengenai perubahan harga untuk berbagai kategori, seperti bahan makanan tertentu, perabotan, dan pakaian. Indeks ini juga merinci perubahan harga jasa, mulai dari perawatan kendaraan hingga perjalanan dan makan di restoran.
Laporan-laporan tersebut akan membantu Wall Street dan Federal Reserve mendapatkan gambaran yang lebih jelas mengenai arah inflasi. Tingkat inflasi masih berada di atas 3% dan membebani rumah tangga serta dunia usaha. Laju inflasi juga melampaui pertumbuhan upah, sehingga semakin menambah tekanan bagi rumah tangga.
Kenaikan harga energi akibat konflik AS dengan Iran turut memicu inflasi. Aktivitas pelayaran terhambat di Selat Hormuz, jalur yang sebelumnya menjadi lintasan bagi sekitar 20% pasokan minyak dunia. Hal ini telah mendorong kenaikan harga bensin dan barang-barang yang dikirim melalui jalur laut.
Konflik tarif yang terus berlanjut antara AS dan sebagian besar negara di dunia juga berisiko mendorong kenaikan harga lebih lanjut.
The Fed sejauh ini mempertahankan suku bunga acuannya tetap stabil, tetapi Wall Street memperkirakan bank sentral tersebut akan menaikkan suku bunga setidaknya satu kali tahun ini sebagai upaya memerangi inflasi. Tujuan yang ditetapkan oleh bank sentral adalah meredam inflasi hingga mencapai tingkat 2%.
Kinerja Wall Street Sambut Akhir Pekan
Sebelumnya, bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street melemah pada perdagangan saham Jumat, 4 September 2026 (Sabtu pagi Jakarta). Indeks Dow Jones melemah seiring data ketenagakerjaan atau data payrolls Agustus 2026 yang lebih tinggi dari perkiraan meningkatkan harapan the Federal Reserve (the Fed) dapat menaikkan suku bunga pada pertemuan berikutnya.
Mengutip CNBC, Sabtu (5/9/2026), indeks Dow Jones melemah 271,86 poin atau 0,51%, dan ditutup ke posisi 53.414,25. Indeks S&P 500 tergelincir 0,38%, dan berakhir di level 7.718,60. Indeks Nasdaq susut 0,29% menjadi 26.506,99.
Namun, secara mingguan, Dow turun 0,3%. Indeks S&P 500 naik 0,1% sepanjang minggu ini, sementara Nasdaq mencatatkan kenaikan 0,4%.
Adapun pada pekan ini data ekonomi AS menjadi perhatian. Nonfarm payrolls naik 162.000 bulan lalu. Nilai itu jauh melampaui perkiraan 53.000 yang diprediksi oleh ekonom dalam survei Dow Jones.
Tingkat Pengangguran AS
Tingkat pengangguran stabil di 4,1%, sesuai perkiraan. Selain kenaikan bulan lalu, angka untuk Juni dan Juli mengalami revisi ke atas.
Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (Treasury) naik setelah laporan tersebut dirilis, dengan imbal hasil tenor 2 tahun mencapai level tertinggi sejak Januari 2025. Ekspektasi The Federal Reserve (the Fed) dapat menaikkan suku bunga dalam beberapa minggu ke depan meningkat, karena para pedagang kontrak berjangka fed funds kini memperhitungkan peluang kenaikan sebesar 58%, menurut alat CME FedWatch. Peluang tersebut berada di angka 49,4% sehari sebelumnya.
"Laporan ketenagakerjaan bulan Agustus yang sangat kuat mengingatkan kita bahwa statistik tenaga kerja ini menjadi sangat fluktuatif, sekaligus sedikit meningkatkan probabilitas kenaikan suku bunga pada bulan September," ujar Manajer Portofolio di Janus Henderson Investors, Bradford Smith.