Liputan6.com, Jakarta - Seorang investor kripto kehilangan 11.272 XRP setelah menjadi korban serangan phishing yang mengatasnamakan Google. Pelaku menggunakan peringatan keamanan palsu dan panggilan telepon untuk meyakinkan korban.
Dikutip dari coin-turk, Minggu (6/9/2026), kasus tersebut terungkap setelah anggota komunitas kripto Paulatalkscrypto membagikan video di X. Dalam video itu, korban menceritakan kronologi kejadian sekaligus mengingatkan investor aset digital lainnya agar lebih waspada.
Advertisement
Korban mengatakan kejadian bermula sekitar pukul 19.09 ketika menerima email yang tampak berasal dari Google. Pesan tersebut memberitahukan adanya upaya login ke akunnya.
Email itu dibuat sedemikian rupa sehingga terlihat meyakinkan dan menyertakan tautan menuju situs yang diyakini korban sebagai laman resmi Google.
Setelah menolak upaya login tersebut, korban menerima panggilan dari nomor Amerika Serikat dengan kode area California. Penelepon mengaku sebagai layanan dukungan Google dan membahas dugaan pelanggaran keamanan yang baru saja terjadi.
Pelaku kemudian memandu korban melakukan sejumlah langkah yang diklaim bertujuan mengamankan akunnya. Meski korban sempat merasa ada beberapa hal yang tidak biasa, komunikasi tersebut secara keseluruhan tampak meyakinkan.
Sekitar 20 menit kemudian, korban kembali menerima email yang berkaitan dengan dompet perangkat keras Ledger miliknya.
Disimpan di Dompet Ledger
Korban menjelaskan bahwa aset kriptonya disimpan dalam perangkat Ledger, yang umumnya dianggap lebih aman dibandingkan dompet yang terhubung langsung ke internet.
Ia juga mengetahui pentingnya frasa pemulihan 24 kata yang digunakan pada dompet Ledger. Frasa tersebut memberikan akses penuh terhadap aset pengguna sehingga harus dijaga kerahasiaannya.
Namun, meski telah menggunakan perangkat keras dan memahami pentingnya frasa pemulihan, korban mengatakan pelaku berhasil mendapatkan informasi yang berkaitan dengan akses ke akun Ledger miliknya.
Dalam waktu singkat, pelaku menguras XRP yang tersimpan di dompet tersebut.
Total kerugian mencapai 11.272 XRP, yang disebut korban merupakan tabungannya. Dalam video yang dibagikan Paulatalkscrypto, korban terlihat emosional ketika menceritakan kehilangan tersebut.
Ia mengatakan dana itu menjadi cadangan keuangannya sambil menunggu pembayaran klaim asuransi yang terpisah.
Korban juga menceritakan pernah mengalami masalah kesehatan serius hingga kehilangan jari tangan dan kaki setelah mengalami kondisi darurat medis.
Kejadian tersebut membuat kehilangan XRP terasa semakin berat. Ia sebelumnya memiliki keyakinan jangka panjang terhadap XRP dan memandang token tersebut sebagai bagian penting dari sistem pembayaran lintas negara di masa depan.
Karena itu, pencurian tersebut tidak hanya berdampak pada kondisi keuangannya, tetapi juga rencana masa depannya.
Ancaman social Engineering Meningkat
Kasus tersebut memicu pembahasan di komunitas aset digital mengenai meningkatnya ancaman social engineering, serangan siber, dan aksi penyamaran yang semakin canggih.
Pelaku kini dapat meniru perusahaan atau platform ternama sehingga komunikasi palsu semakin sulit dibedakan dari pesan resmi.
Belum diketahui secara pasti bagaimana pelaku memperoleh informasi pribadi korban. Namun, kasus ini menjadi pengingat penting agar investor tidak mudah percaya pada pesan keamanan, panggilan telepon, atau tautan yang datang secara tiba-tiba.
Pengguna aset kripto disarankan tidak memberikan informasi sensitif, termasuk frasa pemulihan, kepada pihak lain. Setiap komunikasi mencurigakan juga sebaiknya diverifikasi melalui kanal resmi sebelum pengguna melakukan tindakan apa pun.
Korban mengakhiri ceritanya dengan mengingatkan komunitas kripto agar selalu waspada. Menurutnya, setiap upaya tidak terduga untuk memperoleh informasi akun atau frasa pemulihan harus dianggap sebagai potensi ancaman, meskipun sumbernya terlihat meyakinkan.
Kasus ini menunjukkan bahwa keamanan aset kripto tidak hanya bergantung pada teknologi penyimpanan. Kewaspadaan pengguna juga menjadi lapisan perlindungan penting untuk mencegah aset jatuh ke tangan pelaku penipuan.