Harga Bitcoin Anjlok Usai Data Pekerjaan AS Tembus Ekspektasi

Harga Bitcoin anjlok ke US$ 79.200 setelah data pekerjaan AS jauh di atas ekspektasi dan mengubah perkiraan suku bunga The Fed.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 05 September 2026, 18:15 WIB
Ilustrasi Bitcoin (iStockPhoto)

Liputan6.com, Jakarta - Harga Bitcoin anjlok setelah laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) jauh lebih kuat dari perkiraan. Kondisi ini membuat investor kembali menghitung peluang kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed), sehingga menekan aset berisiko seperti Bitcoin.

Dikutip dari CryptoPotato, Sabtu (5/9/2026), harga Bitcoin sempat menembus US$ 81.000 sebelum laporan tersebut dirilis. Namun, setelah data keluar, harganya langsung merosot sekitar US$ 2.000 menjadi US$ 79.200.

Data Bureau of Labor Statistics menunjukkan ekonomi AS menambah 162.000 lapangan kerja pada Agustus. Angka ini hampir tiga kali lipat dari perkiraan pasar yang berada di kisaran 55.000-58.000 pekerjaan baru.

Sementara itu, tingkat pengangguran AS tetap berada di level 4,1%.

Data Juli juga direvisi cukup signifikan. Jika sebelumnya dilaporkan terjadi kehilangan 23.000 pekerjaan, angka tersebut kini direvisi menjadi penambahan 21.000 pekerjaan.

Rata-rata upah per jam juga meningkat 0,3% secara bulanan dan 3,1% secara tahunan.

Laporan tersebut menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja AS masih relatif kuat, sehingga memberikan ruang bagi The Fed untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat.

 

 

 

Menanti Indeks Harga Konsumen

Ilustrasi Bitcoin (Ist)

Kondisi pasar tenaga kerja yang kuat menjadi tekanan bagi aset berisiko seperti Bitcoin. Pasalnya, ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi biasanya mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS dan nilai dolar AS, sekaligus mengurangi daya tarik aset berisiko.

Laporan pekerjaan yang jauh di atas perkiraan juga melemahkan salah satu alasan untuk mempertahankan suku bunga tetap, yakni kekhawatiran bahwa pasar tenaga kerja AS membutuhkan perlindungan dari kebijakan moneter yang lebih ketat.

Meski demikian, data pekerjaan tersebut belum menjadi jaminan The Fed akan menaikkan suku bunga pada September. Inflasi masih menjadi perhatian utama bank sentral AS dalam menentukan kebijakan moneter.

Investor kini akan mencermati data Indeks Harga Konsumen (CPI) yang dijadwalkan dirilis pekan depan. Data inflasi tersebut akan menjadi salah satu indikator penting bagi arah kebijakan The Fed selanjutnya.

Dengan pasar tenaga kerja yang lebih kuat dari perkiraan, pelaku pasar harus kembali memperhitungkan kemungkinan suku bunga AS bertahan lebih tinggi atau bahkan mengalami kenaikan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya