Laba Asuransi Jiwa Melonjak 75% Tapi Hasil Investasi Minus

Laba asuransi jiwa konvensional mencapai Rp 13,24 triliun hingga Juni 2026, meski hasil investasi tercatat minus Rp 2,6 triliun.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 05 September 2026, 14:05 WIB
tujuan asuransi ©Ilustrasi dibuat AI

Liputan6.com, Jakarta - Laba setelah pajak industri asuransi jiwa konvensional melonjak 75,36% secara tahunan menjadi Rp 13,24 triliun hingga Juni 2026. Menariknya, kenaikan laba tersebut terjadi ketika hasil investasi industri justru tercatat minus Rp 2,6 triliun.

Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan dan Dana Pensiun otoritas Jasa Keuangan Ogi Prastomiyono menjelaskan, pertumbuhan laba asuransi jiwa tidak hanya bergantung pada hasil investasi.

"Kinerja operasional yang membaik, efisiensi beban, serta kontribusi portofolio bisnis yang tetap solid turut menopang profitabilitas industri," jelas dia dalam jawaban tertulis, Sabtu (5/9/2026).

Artinya, tekanan dari sisi investasi tidak serta-merta membuat laba industri asuransi jiwa ikut tertekan.

OJK mencatat penguatan kinerja underwriting dan operasional menjadi salah satu faktor penting di balik pertumbuhan laba tersebut.

Kondisi ini menunjukkan adanya perubahan sumber penopang laba industri. Jika sebelumnya hasil investasi menjadi salah satu pendorong utama, perusahaan kini perlu semakin mengandalkan kinerja bisnis inti untuk menjaga profitabilitas.

OJK menilai kondisi pasar keuangan yang dinamis membuat perusahaan asuransi jiwa perlu lebih berhati-hati dalam mengandalkan keuntungan investasi.

Pengelolaan Investasi secara Prudent

Ilustrasi manfaat asuransi. (depositphotos.com/ivelin)

Ke depan, OJK mendorong perusahaan asuransi jiwa untuk terus mengoptimalkan perolehan premi sekaligus memperkuat kualitas produk dan disiplin underwriting.

Perusahaan juga diminta tetap melakukan pengelolaan investasi secara prudent agar profitabilitas dapat dipertahankan secara berkelanjutan.

OJK menilai strategi tersebut penting di tengah kondisi pasar keuangan yang masih dinamis. Dengan demikian, pertumbuhan laba tidak hanya bergantung pada pergerakan pasar investasi.

Berdasarkan data Juni 2026, OJK menyebut pertumbuhan laba lebih mencerminkan kombinasi perbaikan kinerja operasional, pengelolaan beban yang lebih efisien, serta kontribusi portofolio bisnis yang tetap solid.

Karena itu, industri asuransi jiwa diharapkan tidak sekadar mengejar pertumbuhan premi, tetapi juga memastikan kualitas bisnis tetap terjaga.

Penguatan underwriting, kualitas produk, efisiensi operasional, dan pengelolaan investasi menjadi sejumlah faktor yang akan menentukan keberlanjutan kinerja industri ke depan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya