Liputan6.com, Jakarta - PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) akan membagikan dividen interim 2026 sebesar Rp 6,16 triliun. Seiring hal itu, pemegang saham akan mendapatkan dividen interim Rp 66 per saham.
Pembagikan dividen itu dengan jumlah saham beredar perseroan 83,33 miliar saham. Dividen yang dibagikan itu berdasarkan persetujuan dewan komisaris atas keputusan direksi perseroan pada 3 September 2026. Demikian mengutip dari keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat, (4/9/2026).
Advertisement
“Perseroan akan mengumumkan jadwal pembagian dividen interim sesuai dengan ketentuan Surat Keputusan Direksi PT Bursa Efek Indonesia No. Kep-00077/01- 2021 tentang perubahan ketentuan pelaksanaan pembagian dividen saham, pembagian saham bonus, dan pembagian dividen interim,” demikian seperti dikutip dari keterbukaan informasi BEI.
Perseroan menyatakan, pembagian dividen interim untuk tahun buku 2026 kepada para pemegang saham Perseroan ini tidak memberikan dampak secara material terhadap kegiatan operasional, hukum, kondisi keuangan maupun kelangsungan usaha perseroan.
Berdasarkan data RTI,saat dipantau pukul 14.53 WIB, harga saham BMRI melemah 0,67% menjadi Rp 4.430 per saham. Harga saham BMRI dibuka naik 10 poin ke Rp 4.470 per saham. Saham BMRI berada di level tertinggi Rp 4.480 dan terendah Rp 4.440 per saham. Total frekuensi perdagangan 19.054 kali dengan volume perdagangan saham 694.626 saham. Nilai transaksi Rp 308,9 miliar.
Kinerja Semester I 2026
Sebelumnya, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk mencatatkan laba bersih sebesar Rp 28,5 triliun pada semester I 2026, meningkat 25% secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 22,8 triliun.
Peningkatan laba tersebut terjadi di tengah pertumbuhan penyaluran kredit yang tetap tinggi dan kualitas aset yang terus terjaga.
Dalam paparan publik kuartal II 2026, dikutip dari keterbukaan informasi BEI, Kamis (23/7/2026), Bank Mandiri menyebut kenaikan laba didukung oleh pertumbuhan pendapatan, efisiensi beban operasional, serta membaiknya indikator profitabilitas perusahaan.
Sepanjang Januari-Juni 2026, total pendapatan Bank Mandiri mencapai Rp 60,7 triliun, naik 10,3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 55 triliun. Sementara itu, total beban yang terdiri atas biaya operasional dan pencadangan turun 5,73% menjadi Rp 25,6 triliun dari Rp 27,2 triliun pada semester I 2025.
Kinerja tersebut turut mendorong peningkatan rasio profitabilitas. Return on Equity (ROE) naik menjadi 24,3%, sedangkan Return on Assets (ROA) meningkat menjadi 3,10%. Di sisi lain, rasio kredit bermasalah (NPL) membaik menjadi 0,98%, turun 10 basis poin dibandingkan Juni 2025.
Penyaluran Kredit dan Penghimpunan DPK Bank Mandiri
Pertumbuhan laba juga ditopang oleh ekspansi bisnis yang masih kuat sepanjang semester I 2026.
Bank Mandiri membukukan penyaluran kredit sebesar Rp 1.591,7 triliun, meningkat 19,9% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan tersebut jauh melampaui rata-rata pertumbuhan kredit industri perbankan yang berada di kisaran 11,5%.
Sementara itu, penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) mencapai Rp 1.710 triliun, tumbuh 17,1% secara tahunan. Pertumbuhan DPK tersebut juga berada di atas rata-rata industri yang tercatat sekitar 13,5%.
Dari sisi kualitas aset, Bank Mandiri mampu menjaga rasio NPL tetap rendah di level 0,98%, lebih baik dibandingkan rata-rata industri perbankan yang berada di kisaran 2,17%. Hal ini menunjukkan kualitas penyaluran kredit tetap terjaga meski ekspansi pembiayaan berlangsung cukup agresif.