Liputan6.com, London - Komentar Yair Netanyahu, putra Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang mendukung klaim Argentina atas Kepulauan Falkland yang dikuasai Inggris memicu perselisihan tak terduga dengan kelompok sayap kanan Inggris. Kelompok ini selama ini menjadi salah satu basis pendukung Israel yang masih kuat di Inggris.
Yair ikut mencampuri sengketa panjang mengenai kepulauan di Atlantik Selatan itu pekan lalu. Dalam unggahan berbahasa Spanyol di X, ia menulis, "Kepulauan Falkland milik Argentina."
Advertisement
Dalam sejumlah unggahan berikutnya, Yair mengatakan Israel seharusnya mendukung klaim Argentina karena pemerintahan negara itu di bawah presiden sayap kanan Javier Milei lebih bersahabat dengan Israel.
Ia menuduh Inggris bersikap munafik dan memusuhi Israel dengan mengakui Palestina. Yair juga menuding Inggris melanggengkan "antisemitisme" dan "blood libel", yakni tuduhan palsu bernuansa antisemit terhadap orang Yahudi.
Komentar Yair muncul beberapa hari sebelum Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang merupakan sekutu dekat Milei, mengatakan AS sedang meninjau kembali sikapnya terkait Kepulauan Falkland.
Meski pernyataan Yair diduga ditujukan untuk menyerang pemerintahan Partai Buruh Inggris yang diisi politikus kiri-tengah dan sayap kiri, komentarnya turut membuat marah sejumlah tokoh sayap kanan Inggris yang selama ini dikenal mendukung Israel.
Rupert Lowe, pemimpin partai sayap kanan jauh Restore Britain, langsung membalas Yair melalui X. Ia menegaskan Kepulauan Falkland akan tetap menjadi milik Inggris dan pemerintahan yang dipimpin partainya akan berperang jika perlu untuk memastikan hal itu.
"Anda punya cukup banyak masalah di Israel yang seharusnya menjadi fokus Anda," kata Lowe.
Ia pun meminta pemerintah Israel memperjelas sikapnya mengenai Kepulauan Falkland.
Menurut YouGov, hanya 3 persen responden yang mengatakan akan memilih Restore Britain jika pemilu digelar besok.
Sir Conor Burns, mantan anggota parlemen dari Partai Konservatif Inggris, menyebut komentar Yair "bodoh". Ia memperingatkan pernyataan itu dapat merusak dukungan terhadap Israel di kalangan sayap kanan (Inggris).
Aktivis sayap kanan jauh Inggris Tommy Robinson, yang sebelumnya dikenal sebagai Stephen Yaxley-Lennon dan merupakan pendukung vokal Israel, membagikan sebuah unggahan di X yang menyebut kedaulatan Inggris atas Falkland sebagai fakta yang sebenarnya. Namun, ia tidak menyebut putra perdana menteri Israel tersebut.
Pendukung Israel Geram
Rob Geist Pinfold, dosen kajian keamanan di King's College London, mengatakan pernyataan itu merupakan contoh terbaru bagaimana Yair menimbulkan "kegelisahan di kalangan mereka yang menyebut diri sebagai sahabat Israel di Eropa".
"Yair Netanyahu telah membuat kelompok di Inggris yang paling cenderung membela Israel menjadi geram," tutur Geist Pinfold kepada Al Jazeera.
Meski bukan pejabat pemerintah Israel, Geist Pinfold menduga Yair memiliki pengaruh besar di balik layar karena gaya kepemimpinan Netanyahu yang semakin otokratis.
James Vaughan, dosen sejarah internasional di Aberystwyth University, menuturkan komentar Yair dapat menjauhkan sebagian kelompok sayap kanan Inggris dari Israel. Namun, ia menekankan bahwa kelompok kanan Inggris bukanlah satu blok yang memiliki pandangan seragam.
Menurut Vaughan, kelompok sayap kanan arus utama Inggris umumnya mendukung Israel. Namun, sejumlah unsur sayap kanan ekstrem secara historis justru menjadi "kekuatan anti-Israel dalam politik Inggris".
Ia menambahkan, ada tanda-tanda Restore Britain kembali pada tradisi antisemitisme lama.
Pejabat Israel Bungkam
Belum ada pejabat pemerintah Israel yang secara terbuka mendukung sikap Yair mengenai Kepulauan Falkland.
Namun, Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar sebelumnya pernah menyinggung kepulauan itu ketika membela kebijakan permukiman ilegal Israel di Tepi Barat yang diduduki.
Dalam debat Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa pada Februari, Saar mengatakan permukiman Israel di Tepi Barat berada di tempat lahir peradaban kami sendiri. Ia kemudian membandingkannya dengan Kepulauan Falkland.
"Ini negara kami. Bukan tempat yang berjarak 13.000 kilometer dari negara kami, seperti Kepulauan Falkland," kata Saar kepada Menteri Luar Negeri Inggris saat itu, Yvette Cooper.
"Orang Argentina menyebutnya Kepulauan Malvinas, sebuah sengketa yang sampai hari ini belum Anda selesaikan dengan Argentina."
Vaughan mengatakan persoalan Falkland sejak lama menjadi isu pelik dalam hubungan Inggris-Israel, termasuk pada awal 1980-an karena Israel menjual senjata kepada Argentina.
"Fakta bahwa pemerintah Israel saat ini kembali 'memainkan kartu Falkland' pada dasarnya tidak terlalu berarti. Hal itu mungkin lebih menggambarkan eratnya hubungan Israel dan Argentina saat ini dibandingkan hal lainnya," ungkap Vaughan kepada Al Jazeera.
Pejabat Israel juga pernah menyinggung sengketa wilayah lain ketika menanggapi kritik terhadap pendudukan ilegal Israel atas wilayah Palestina.
Pada 31 Juli, ketika pemerintah Spanyol menghadapi gelombang orang yang berusaha masuk ke wilayah Ceuta dari perbatasan Maroko, Duta Besar Israel untuk PBB Danny Danon menyindir Spanyol terkait penguasaannya atas wilayah kantong tersebut di Afrika.
"Mungkin sebelum terus menguliahi kami, sudah waktunya mereka menjelaskan kepada dunia mengapa (Spanyol) masih mempertahankan wilayah kantong kolonial di Afrika," tulis Danon di X.
Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez telah menegaskan bahwa Israel melakukan genosida di Gaza. Madrid kemudian mengambil sejumlah langkah terhadap Israel, termasuk memberlakukan embargo senjata total.
Seperti Inggris dan sejumlah negara Eropa lainnya, Spanyol mengakui Palestina sebagai negara.
Ketegangan Inggris-Israel
Meski secara tradisional memiliki hubungan erat, tanda-tanda ketegangan antara Israel dan Inggris mulai terlihat sejak Partai Buruh berkuasa pada 2024.
Di bawah mantan Perdana Menteri dari Partai Buruh Keir Starmer, Inggris menghentikan sementara perundingan perdagangan bebas dengan Israel dan menangguhkan sejumlah izin ekspor senjata.
Inggris juga menjatuhkan sanksi terhadap dua anggota kabinet sayap kanan Israel, Itamar Ben-Gvir dan Bezalel Smotrich.
Pemimpin baru Inggris, Andy Burnham, saat ini sedang mempertimbangkan langkah lebih lanjut terkait permukiman ilegal Israel.
Seiring memburuknya hubungan kedua negara, para pejabat Israel semakin terbuka melontarkan sindiran terhadap Inggris. Netanyahu baru-baru ini menyebut negara itu sebagai "Republik Islam Inggris".
Vaughan mengatakan mencuatnya kembali persoalan Kepulauan Falkland menunjukkan adanya ketegangan mendasar dalam hubungan Inggris-Israel yang jelas lebih berakar pada perbedaan pandangan mengenai Gaza, Tepi Barat, dan konflik yang lebih luas di Timur Tengah.