Mengenal Putri Victoria, Pewaris Takhta Swedia yang Akan Kunjungi Indonesia

Di Indonesia, Putri Victoria tidak hanya akan mengunjungi Jakarta, tapi juga Nusa Tenggara Barat.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 03 September 2026, 21:37 WIB
Goodwill Ambassador UNDP, Putri Mahkota Victoria dari Swedia, saat kunjungan sebelumnya dengan UNDP, berinteraksi dengan komunitas dan mitra yang bekerja untuk memajukan pembangunan berkelanjutan. (Dok. UNDP)

Liputan6.com, Jakarta - Putri Mahkota Swedia Victoria akan berkunjung ke Indonesia pada 4–8 September 2026 dalam kapasitasnya sebagai Duta Besar Kehormatan atau Goodwill Ambassador United Nations Development Programme (UNDP).

Namun, perempuan yang kini menjadi pewaris takhta Swedia itu sebenarnya tidak lahir sebagai putri mahkota.

Victoria Ingrid Alice Desiree merupakan anak pertama Raja Carl XVI Gustaf dan Ratu Silvia. Ketika itu, aturan suksesi kerajaan masih memberikan hak atas takhta hanya kepada laki-laki.

Kedudukannya berubah setelah Swedia mengubah aturan pewarisan takhta. Undang-Undang Suksesi yang disahkan pada 1979 dan mulai berlaku pada 1 Januari 1980 menetapkan bahwa anak tertua menjadi pewaris tanpa membedakan laki-laki atau perempuan.

Perubahan itulah yang menjadikan Victoria sebagai Putri Mahkota Swedia.

Mengutip situs web resmi Kerajaan Swedia, Victoria lahir di Rumah Sakit Karolinska, Solna, pada 14 Juli 1977 pukul 21.45.

Pada 27 September 1977, Victoria dibaptis oleh Uskup Agung Olof Sundby di Kapel Kerajaan, Istana Kerajaan Stockholm.

Wali baptisnya adalah Putri Beatrix dari Belanda, Putri Desiree Baroness Silfverschiold, Putra Mahkota Harald dari Norwegia yang kemudian menjadi Raja Harald V, serta Ralf Sommerlath.

Setelah resmi menjadi putri mahkota, Victoria juga memperoleh gelar Adipatni Vastergotland pada 9 Januari 1980.

Masa kecilnya mula-mula dihabiskan di Istana Kerajaan di Gamla Stan, kawasan kota tua Stockholm.

Pada 1981, raja dan ratu bersama Victoria serta adiknya yang baru lahir, Pangeran Carl Philip, pindah ke Istana Drottningholm di Ekero, tidak jauh dari ibu kota.

Masa Sekolah

Raja Carl Gustaf XVI dan Putri Mahkota Victoria dari Swedia. (AP Photo)

Victoria mulai mengikuti pendidikan prasekolah di Paroki Vasterled pada 1982.

Dua tahun kemudian, pada Agustus 1984, ia masuk kelas satu di Smedslätt School, Bromma, sebelum melanjutkan pendidikan dasar di Alsten School.

Pada 1990, Victoria bersekolah di Carlssons School, Stockholm.

Ia menjalani upacara konfirmasi di Gereja Borgholm, Oland, pada musim panas 1992.

Setahun kemudian, Victoria memulai pendidikan menengah atas di Enskilda Upper Secondary School, Stockholm, dengan mengambil program ilmu alam dan ilmu sosial. Ia lulus pada 1996.

Salah satu momen penting dalam kehidupannya terjadi ketika masih duduk di bangku sekolah.

Pada 14 Juli 1995, tepat saat berusia 18 tahun, Victoria mengikuti upacara di Hall of State, Istana Kerajaan, untuk menandai kedewasaannya.

Dalam pidato yang disiarkan melalui televisi, ia berjanji akan tetap setia kepada Raja dan Riksdag atau Parlemen Swedia, serta menghormati konstitusi negara tersebut.

"Saya akan selalu tetap setia kepada raja dan Riksdag. Saya juga akan dengan sungguh-sungguh menghormati hukum konstitusi Swedia," kata Victoria.

Pada hari yang sama, ia menerima tanda kehormatan Royal Order of the Seraphim.

Dipersiapkan untuk Menjadi Kepala Negara

Selepas sekolah menengah, Victoria menjalani rangkaian pendidikan yang mencakup bahasa, politik, diplomasi, pertahanan, hingga penyelesaian konflik.

Pada 1996, ia pindah ke Prancis untuk belajar bahasa Prancis di International Centre of French Studies, Catholic University of the West, di Angers hingga 1997.

Pada musim gugur 1997, Victoria mengikuti program khusus untuk memahami lebih dalam cara kerja Parlemen dan Pemerintah Swedia.

Musim semi berikutnya, ia pindah ke Amerika Serikat (AS) untuk mempelajari ilmu politik dan sejarah di Yale University.

Selama berada di AS, Victoria mempelajari kegiatan Kedutaan Besar Swedia di Washington DC serta Perwakilan Tetap Swedia untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York.

Setelah kembali ke Swedia, ia mengambil sejumlah mata kuliah tentang penyelesaian konflik dan perdamaian internasional di Uppsala University.

Pada musim semi 2001, Victoria terlibat dalam kegiatan selama Swedia memegang kepresidenan Dewan Uni Eropa.

Ia kemudian menjalani program khusus di Kantor Pemerintah Swedia pada musim gugur 2001. Musim semi berikutnya, ia berada di Sida, Badan Kerja Sama Pembangunan Internasional Swedia.

Pada musim gugur 2002, Victoria mempelajari kegiatan Dewan Perdagangan Swedia melalui praktik di kantor perdagangan Swedia di Paris dan Berlin.

Pengalamannya berlanjut ke bidang pertahanan. Pada 2003, ia mengikuti pelatihan dasar militer di Swedish Armed Forces International Centre atau SWEDINT.

Pada tahun yang sama, Victoria turut menjalani program pendidikan dan pengalaman kerja di bidang pertanian dan kehutanan.

Pada 2004, ia bergabung dengan delegasi resmi Swedia dalam kunjungan ke Arab Saudi dan Hongaria. Ia mengunjungi sejumlah badan PBB di Roma dan Jenewa, serta melakukan kunjungan studi ke berbagai perusahaan di Swedia.

Pada musim gugur tahun itu, Victoria belajar di Swedish Defence University dengan fokus pada ilmu politik, hubungan internasional, dan penyelesaian konflik.

Perjalanan ke luar negeri atas nama Swedia berlanjut pada 2005. Victoria mengunjungi Australia, Jepang, dan Turki.

Ia juga mendatangi sejumlah proyek bantuan di Bangladesh dan Sri Lanka. Pada musim gugur tahun tersebut, Victoria menghabiskan satu bulan di Kedutaan Besar Swedia di Beijing.

Sepanjang 2006 dan 2007, ia mengikuti program diplomatik di Kementerian Luar Negeri Swedia.

Victoria kemudian melanjutkan studi ilmu politik di Stockholm University pada musim gugur 2007 dan musim semi 2008. Ia sempat mengikuti kegiatan di Perwakilan Tetap Swedia untuk Uni Eropa di Brussels.

Pada musim semi 2009, Victoria menyelesaikan pendidikan sarjana di Uppsala University dengan bidang utama studi perdamaian dan konflik.

 

Tugas sebagai Putri Mahkota

Pernikahan Putri Mahkota Victoria dari Swedia dengan Daniel Westling membuktikan bahwa cinta tak mengenal kedudukan (dok.instagram/@hkhprinsdaniel/https://www.instagram.com/p/CLRks12lpSS/Komarudin)

Sebagai putri mahkota, Victoria memiliki peran dalam kehidupan kenegaraan Swedia.

Bab 5 Pasal 4 Instrument of Government Swedia mengatur bahwa apabila raja atau ratu yang menjadi kepala negara tidak dapat menjalankan tugas, anggota keluarga kerajaan berikutnya dalam urutan suksesi yang memenuhi syarat akan mengambil alih sebagai wali raja sementara.

Dengan ketentuan tersebut, Victoria dapat menggantikan raja ketika kepala negara berhalangan menjalankan tugas, misalnya saat melakukan kunjungan ke luar negeri ke wilayah yang jauh atau sulit dijangkau.

Dalam persiapannya menjalankan peran sebagai kepala negara, Victoria bekerja bersama raja untuk mengikuti perkembangan berbagai persoalan nasional dan internasional.

Ia menghadiri pertemuan berbagai dewan, termasuk Dewan Penasihat Urusan Luar Negeri, serta mengikuti acara kenegaraan seperti penyambutan kunjungan kenegaraan, pembukaan sidang parlemen, dan perayaan Hari Nasional Swedia.

Bersama suaminya, Pangeran Daniel, Victoria mewakili Swedia dalam berbagai kunjungan resmi ke luar negeri yang dilakukan melalui konsultasi dengan pemerintah.

Victoria merupakan anggota Gereja Swedia.

Menikah dengan Daniel Westling

Pertunangan Victoria dengan Daniel Westling diumumkan pada 24 Februari 2009.

Keduanya menikah di Katedral Stockholm pada 19 Juni 2010.

Beberapa bulan setelah pernikahan, Victoria dan Pangeran Daniel pindah ke Istana Haga.

Istana tersebut sebelumnya telah digunakan Pemerintah Swedia sejak dekade 1960-an. Kepindahan Victoria dan Daniel pada musim gugur 2010 membuat Haga kembali menjadi kediaman keluarga kerajaan.

Anak pertama mereka, Putri Estelle, lahir pada 2012. Anak kedua pasangan tersebut, Pangeran Oscar, lahir pada 2016.

Lingkungan, Laut, dan Perdamaian

Putri Mahkota Swedia, Victoria, dan suami saat menghadiri royal wedding Yordania, Kamis (1/6/2023). (Dok. Royal Hashemite Court)

Di luar tugas kenegaraan, Victoria sejak lama menaruh perhatian pada lingkungan, perubahan iklim, dan keberlanjutan. Laut dan perikanan termasuk isu yang menjadi fokusnya.

Kedekatannya dengan alam sudah tumbuh sejak kecil. Victoria dan saudara-saudaranya sejak dini diperkenalkan pada pentingnya menjaga alam dan keanekaragaman hayati.

Perhatian tersebut terlihat ketika Victoria merayakan ulang tahunnya yang ke-40 dengan berjalan kaki di seluruh provinsi Swedia.

Kegiatan itu memberinya kesempatan mengenal berbagai wilayah negaranya pada musim yang berbeda sekaligus memperlihatkan kekayaan alam Swedia kepada masyarakat. Perjalanan tersebut menyoroti pentingnya olahraga dan kegiatan di luar ruangan.

Perhatian Victoria terhadap lingkungan dan perubahan iklim kemudian membawanya ke tingkat internasional.

Sekretaris Jenderal PBB saat itu, Ban Ki-moon, menunjuknya sebagai salah satu dari 17 pendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB untuk periode 2016–2019.

Victoria kini berstatus Advocate Emerita untuk Global Goals dan tetap memberi perhatian khusus pada isu keberlanjutan, terutama laut dan perikanan.

Komitmennya terhadap dua bidang itu turut berperan dalam pembentukan Seafood Business for Ocean Stewardship atau SeaBOS.

Melalui inisiatif tersebut, sepuluh perusahaan perikanan dan makanan laut terbesar di dunia bekerja sama dengan dukungan para peneliti untuk mendorong industri yang lebih berkelanjutan.

Victoria juga menaruh perhatian khusus pada penanganan krisis dan konflik, kegiatan bantuan, serta perdamaian internasional.

Ia beberapa kali mengikuti inisiatif dan konferensi PBB yang berkaitan dengan bidang tersebut.

Perhatian pada Kesehatan Anak dan Generasi Muda

Bidang lain yang menjadi perhatian Victoria adalah kesehatan dan kesejahteraan anak-anak serta generasi muda.

Untuk menandai pernikahan mereka pada 2010, Victoria dan Pangeran Daniel mendirikan The Crown Princess Couple's Foundation.

Yayasan tersebut bertujuan mendorong kesehatan sekaligus mencegah pengucilan sosial di kalangan anak-anak dan generasi muda di Swedia.

Visinya adalah agar seluruh anak dan generasi muda di negara itu, apa pun keadaan mereka, dapat tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri serta memiliki harapan dan keyakinan terhadap masa depan.

Pada 2016, Victoria dan Daniel mendirikan Generation Pep.

Inisiatif tersebut berangkat dari keyakinan bahwa seluruh anak dan generasi muda di Swedia harus memiliki kesempatan sekaligus keinginan untuk menjalani kehidupan yang aktif dan sehat.

Ada pula Crown Princess Victoria's Fund yang telah berdiri sejak 1997.

Dana tersebut ditujukan untuk membantu anak-anak dan generasi muda dengan disabilitas dan/atau penyakit kronis agar dapat menjalani kehidupan yang aktif. Pengelolaannya dilakukan oleh Swedish Radio Appeal.

Di luar kegiatan resminya, Victoria senang menikmati alam Swedia dan perubahan musimnya.

Ia gemar berjalan kaki dan bermain ski ketika memiliki kesempatan.

Sejak kecil, Victoria terbiasa menghabiskan musim panas di Oland. Tradisi tersebut kini tetap ia jalankan bersama keluarganya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya