Liputan6.com, Jakarta - Hakuhodo Institute of Life & Living ASEAN (HILL ASEAN) dalam forum Sei-Katsu-Sha 2026 di Bengkel Space, Jakarta, Kamis (3/9/2026), memperkenalkan rangkaian AI tools yang dibangun dari tujuh tahun data riset kualitatif asli.
Presentasi dibuka dengan kritik terhadap cara industri periklanan memakai AI. Menurut Director of H+ & Innovation Wimala Djafar, ketergantungan pada AI generatif generik berisiko membuat brand kehilangan diferensiasi karena semua orang pada akhirnya "berbicara" dengan model dasar yang sama.
Advertisement
"Although AI gives us speed and scale, but the real meaningful growth comes from humans. Now we saw this, and we thought, what if we can combine AI with real human data? I'm not talking about the quantitative data, I'm talking about the qualitative, the interviews, the home visits, and the seven years of real study," ucap Djafar, dikutip Jumat, (4/9/2026)
Dari sana, lahirlah Virtual Sei-katsu-sha, persona AI yang dilatih dengan data riset pribadi mereka sehingga insight yang dihasilkan lebih unik dan spesifik per klien.
"So rather, we retrain AI models with our own data, Seikatsu-sha data.And in a couple of other projects, we also incorporate clients' data into it, so that having the data is unique. The insight that we get from the AI becomes also unique," jelas Business of Director Kyohei Hasegawa.
H+DGE: Mengukur "Kesiapan AI" Sebuah Brand
Mereka mengklaim telah mengembangkan lebih dari 100 persona Virtual Sei-katsu-sha, lengkap dengan insight hiper-lokal hingga minat yang niche, serta kemampuan berbahasa lokal.
Salah satu implementasinya adalah platform simulasi kota virtual Indonesia, yang memungkinkan dua persona AI (yang merepresentasikan kondisi hari ini dan yang merepresentasikan proyeksi 2051) berdialog demi memunculkan insight yang menghubungkan tren masa kini dengan kemungkinan masa depan.
Sementara itu, perilaku pencarian konsumen kini telah bergeser dari mesin pencari konvensional ke asisten AI. Data menunjukkan 74,6% konsumen Indonesia bertanya kepada AI sebelum membeli sesuatu,membuat brand bertanya apakah mereka masuk daftar rekomendasi yang diberikan AI kepada calon konsumen.
Maka, Hakuhodo memperkenalkan H+DGE (Digital Growth Engine), tools untuk menganalisis kesiapan suatu brand di era pencarian berbasis AI. Berdasarkan hasil asesmen, mereka merancang ulang titik kontak informasi brand, mulai dari restrukturisasi website, konten digital, hingga strategi suara audiens agar brand lebih mudah "ditemukan" dan direkomendasikan AI.
Jika dulu strategi mengandalkan media besar (TVC, billboard) dan media sosial, kini audiens dinilai menyerupai ekosistem dinamis di mana "orang menggerakkan orang". Hakuhodo kemudian memperkenalkan SOSAI, metode pengelolaan influencer marketing yang menggabungkan data digital dan tools pengukuran untuk memetakan komunitas dan tokoh yang memimpin percakapan di dalamnya ketimbang membeli endorsement KOL satu per satu.
Konteks Bisnis: Agency Bertransformasi Jadi Creative-Technology Company
"We're not just buying the voices here. We're investing on community," tegas Hasegawa.
Presentasi ditutup dengan perkenalan Mekari Creative Studio, platform kreatif berbasis AI penuh yang menurut Hakuhodo berbeda dari platform sejenis karena menawarkan dukungan legal dan procurement, sehingga konten atau materi komersial yang dihasilkan aman disiarkan.
Rangkaian tools ini menegaskan arah strategi Hakuhodo yang belakangan mendorongnya sebagai perusahaan creative technology, bukan sekadar agensi periklanan konvensional. Riset konsumen seperti "Decoding the Prime Generation" bukan lagi sekadar materi thought leadership, melainkan bahan baku untuk melatih tools berbayar yang ditawarkan ke klien—model bisnis yang menggabungkan riset kualitatif jangka panjang dengan monetisasi produk AI.