Swayasa Prakarsa Tunda IPO, BEI Ungkap Alasannya

Bursa Efek Indonesia (BEI) memberikan penjelasan mengenai penundaan IPO PT Swayasa Prakarsa Tbk.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 02 September 2026, 16:41 WIB
PT Swayasa Prakarsa Tbk, perusahaan yang berfokus pada hilirisasi dan komersialisasi hasil riset di bidang kesehatan siap menggelar IPO. (Dok SWAP)

Liputan6.com, Jakarta - Bursa Efek Indonesia (BEI) menyebutkan PT Swayasa Prakarsa Tbk, perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur produk kesehatan berbasis riset menunda rencana penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO). Hal ini seiring perseroan belum memperoleh pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk menggelar IPO hingga 1 September 2026.

"Bursa telah menerima surat permohonan penundaan pelaksanaan rencana penawaran umum perdana saham dari PT Swayasa Prakarsa Tbk pada 1 September 2026,” ujar Direktur Penilaian Perusahaan BEI Said Didu, Rabu (2/9/2026).

Said Didu menuturkan, berdasarkan surat yang diterima, rencana penundaan dilakukan karena hingga 1 September 2026, PT Swayasa Prakarsa Tbk belum memperoleh pernyataan efektif dari OJK untuk melaksanakan penawaran umum.

"Perseroan menggunakan laporan keuangan per 28 Februari 2026 pada proses penawaran umum sehingga masa berlaku laporan keuangan tersebut hanya sampai 31 Agustus 2026,” kata dia.

Sebelumnya, Swayasa Prakarsa bersiap menggelar IPO di BEI. Pada prospektus, perseroan menawarkan sebanyak-banyaknya 323 juta saham baru, atau setara 30,30 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO. Saham tersebut ditawarkan dalam rentang harga Rp 130-Rp 140 per saham.

Dengan jumlah saham dan harga penawaran tersebut, nilai maksimal IPO SWAP mencapai Rp 45,22 miliar. Saham yang ditawarkan merupakan saham baru yang berasal dari portepel perseroan.

PT Sukadana Prima Sekuritas bertindak sebagai Penjamin Pelaksana Emisi Efek sekaligus Partisipan Admin dalam proses IPO SWAP. Penawaran dilakukan melalui sistem e-IPO dengan skema penjaminan kesanggupan penuh (full commitment).

Setelah IPO, jumlah saham SWAP yang tercatat di BEI mencapai 1,066 miliar saham. Jumlah tersebut terdiri atas 743 juta saham lama dan 323 juta saham baru yang ditawarkan kepada masyarakat.

 

Dana IPO untuk Modal Kerja hingga Bayar Utang

Karyawan melintasi layar yang menampilkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Dari dana yang dihimpun melalui IPO, Swayasa Prakarsa akan mengalokasikan sekitar Rp 15,8 miliar untuk modal kerja. Dana ini antara lain digunakan untuk pembelian bahan baku, operasional, peningkatan sumber daya manusia, sistem informasi, pemasaran, serta pengembangan portofolio produk.

Perseroan juga mengalokasikan sekitar Rp 12,2 miliar untuk belanja modal. Sebagian besar dana tersebut, yakni sekitar Rp 10,7 miliar, akan digunakan untuk pembangunan gedung baru di atas lahan sekitar 1.450 meter persegi.

Gedung tersebut akan difungsikan sebagai pusat distribusi dan kantor manajemen. Pembangunannya direncanakan dimulai pada kuartal II 2027 dan selesai pada kuartal II 2028.

Selain itu, sekitar Rp 500 juta dialokasikan untuk furnitur, pendingin ruangan, interior, dan instalasi gedung. Sekitar Rp 1 miliar lainnya digunakan untuk pembelian kendaraan logistik, operasional, dan armada field sales.

Swayasa Prakarsa juga akan menggunakan Rp 12 miliar untuk pembayaran utang, termasuk Rp 2 miliar untuk membayar sebagian utang kepada PT Gama Multi Usaha Mandiri (GMUM) yang merupakan induk usaha perseroan.

 

Jadwal IPO

Karyawan melintasi layar yang menampilkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Berdasarkan prospektus, masa penawaran awal atau bookbuilding berlangsung pada 24-27 Agustus 2026. Selanjutnya, tanggal efektif dijadwalkan pada 31 Agustus 2026.

Masa penawaran umum perdana saham berlangsung pada 2-8 September 2026, dengan tanggal penjatahan 8 September 2026. Distribusi saham dan pengembalian dana pemesanan dijadwalkan pada 9 September 2026.

Adapun pencatatan saham SWAP di BEI dijadwalkan pada 10 September 2026.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya