BNPB Sebut Kualitas Udara Berbahaya Imbas Kebakaran Hutan

Kualitas udara akibat kebakaran hutan di Kalimantan kian mengkhawatirkan.

oleh Devira PrastiwiDiterbitkan 02 September 2026, 07:16 WIB
Kualitas udara menurun akibat kabut asap kebakaran hutan.. (AFP/ Reina)

Liputan6.com, Jakarta - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan kualitas udara di sejumlah wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Pulau Kalimantan telah mencapai kategori sangat tidak sehat hingga berbahaya. Kondisi tersebut antara lain terjadi di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat.

Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan, di Kalimantan Tengah terpantau 63 titik api dengan jarak pandang yang kini terbatas sekitar 2 kilometer.

"Di Kalimantan Tengah termonitor ada 63 titik api, kualitas udara umumnya sangat tidak sehat, jarak pandang sekitar 2 km. Tapi proses belajar-mengajar tetap berjalan secara biasa, masyarakat tetap beraktivitas secara normal," ujar Berton dalam konferensi pers di Gedung BNPB, Selasa (1/9/2026).

Dia menjabarkan, Satgas Darat telah dikerahkan ke 13 kabupaten/kota, yakni Palangkaraya, Kotawaringin Timur, Seruyan, Katingan, Kapuas, Barito Utara, Pulang Pisau, Lamandau, Kotawaringin Barat, Barito Selatan, Murung Raya, Gunung Mas, dan Barito Timur.

"Luas wilayah yang bisa dipadamkan sebesar 87 hektare lebih melalui Satgas Darat. Kemudian OMC dilakukan 1 sorti di Kota Waringintimur, di bagian selatan sebanyak 800 kilogram, dan hasilnya memang sulit mendapatkan hujan. Jarak pandang yang sangat rendah, ini juga menghambat bagaimana operasi udara dilaksanakan," papar Berton.

"Fokus pengarahan kekuatan personel dan peralatan Satgas Darat saat ini diprioritaskan pada penanganan 23 lokasi yang belum padam di Kota Pelangkaraya, secara khusus di wilayah prioritas yaitu Kota Waringintimur, Siruan, dan Kapuas," sambung dia.

Namun, menurut Berton, karakteristik lahan gambut menjadi salah satu tantangan terberat bagi petugas di lapangan.

"Karakteristik gambut juga yang terbakar, ini ditambah dengan angin yang kencang menyebabkan api mudah menyebar, dan ini perlu juga pendinginan yang berulang-ulang, jadi butuh air yang banyak," ucap dia.

 

Situasi di Kalimantan Barat

Selain itu, Berton menyebut terdapat 30 titik api di Kalimantan Barat dengan kualitas udara kategori berbahaya dan jarak pandang di bawah 1 kilometer.

Meski demikian, kinerja Satgas Darat di Kalimantan Barat patut diapresiasi karena berhasil memadamkan api di area yang cukup luas.

"Luas daerah yang bisa dipadamkan ini luar biasa sebesar 262 hektare. Jadi luar biasa pekerjaan yang dilakukan oleh Satgas Darat di Kalimantan Barat," tutur Berton.

Dari sisi operasi udara, sebanyak lima helikopter water bombing telah mengguyur wilayah Kalimantan Barat dengan 724 ribu liter air. BNPB kini menunggu rekomendasi BMKG terkait potensi hujan sporadis pada 1-7 September untuk mengoptimalkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

Berton mengakui rendahnya visibilitas dan terbatasnya sumber air menjadi hambatan utama dalam operasi pemadaman terpadu.

"Operasi masih menghadapi kendala berupa tingkat daya lihat yang masih rendah, visibilitas yang rendah, kemudian lahan gambut yang sulit dipadamkan dan keterbatasan sumber air," tambahnya.

Di sisi lain, pemerintah juga mulai memperketat pengawasan terhadap pelaku pembakaran lahan.

Berton menegaskan, langkah penegakan hukum telah dilakukan oleh Kementerian Lingkungan Hidup bersama instansi terkait lainnya.

"Ini mencakup pengawasan kepatuhan korporasi, penyegelan lokasi lahan terbakar, penerapan sanksi administratif hingga evaluasi dan ancaman pencabutan izin usaha bagi pelaku pembakaran," pungkas Berton.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya