BNPB Ungkap Kebakaran Hutan Riau Terkini, 4 Titik Api Masih Terdeteksi

BNPB menyebut kualitas udara di Riau mulai membaik, meski empat titik api masih terdeteksi dan upaya pemadaman terus dilakukan.

oleh Devira PrastiwiDiterbitkan 01 September 2026, 21:24 WIB
Kebakaran hutan dan lahan di Riau. (Liputan6.com/M Syukur)

Liputan6.com, Jakarta - Kondisi kualitas udara di Provinsi Riau mulai menunjukkan perbaikan meski kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menyisakan sejumlah titik api. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat masih ada empat titik api yang terdeteksi.

Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan kualitas udara di sejumlah wilayah Riau berada pada kategori sedang hingga tidak sehat. Namun, jarak pandang masih relatif normal, yakni di atas 9 kilometer.

"Penanganan Karhutla di Provinsi Riau, termonitor bahwa ada empat titik api dan menyebabkan juga kualitas udara umumnya sedang dan tidak sehat. Ada pun jarak pandang relatif normal di atas sembilan kilometer," ujar Berton dalam konferensi pers di Gedung BNPB, Jakarta, Selasa (1/9/2026).

Meski masih terdapat titik api, aktivitas masyarakat di Riau sejauh ini tetap berjalan normal. Kegiatan belajar mengajar masih dilakukan secara tatap muka.

"Kegiatan belajar mengajar tetap dijalankan secara tatap muka dan masyarakat tetap beraktifitas seperti biasa," ucapnya.

Berton mengatakan salah satu tanda membaiknya kondisi udara terlihat dari kembali digelarnya kegiatan bebas kendaraan bermotor atau Car Free Day di Kota Pekanbaru pada akhir pekan lalu.

"Kami bisa menyampaikan juga bahwa hari Minggu yang lalu, Car Free Day dilaksanakan di sana, ini menandakan bahwa kualitas udara di Riau, khususnya di Kota Pekanbaru, sudah membaik dan kita berharap dan berdoa senantiasa kualitas ini tetap terjaga dengan baik," tuturnya.

Meski kondisi udara membaik, BNPB belum menghentikan penanganan karhutla. Pemadaman tetap dilakukan melalui Satgas Darat dan Satgas Udara.

Satgas Darat saat ini memprioritaskan penanganan di sejumlah wilayah, antara lain Kabupaten Indragiri Hilir, Indragiri Hulu, Pelalawan, Siak, dan Bengkalis. Hingga 31 Agustus 2026, luas area yang telah dipadamkan mencapai lebih dari 126 hektare.

"Luas yang telah dipadamkan per tanggal 31 Agustus kemarin sebesar 126 hektare lebih. Ini melalui Satgas Darat," kata Berton.

 

Modifikasi Cuaca Masih Dilakukan

Titik panas (hotspot) terpantau dari udara saat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus berlangsung di wilayah Riau. (dok. Biro Humas KLH)

Sementara itu, Satgas Udara menyiagakan dua unit helikopter untuk melakukan patroli, memantau titik panas atau hotspot, serta melihat arah pergerakan angin.

Upaya pemadaman dari udara juga dilakukan melalui water bombing. BNPB mengerahkan tiga unit helikopter dalam lima sorti penerbangan dengan total 516 ribu liter air yang dijatuhkan ke lokasi kebakaran.

"Sudah dilakukan water bombing oleh tiga unit helikopter, sebanyak lima sorti, sehingga air yang disalurkan atau disebarkan melalui udara sebesar 516 ribu liter air. Yang dipadamkan melalui water bombing ini sebesar 8,8 hektare," paparnya.

Adapun Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) belum dilakukan karena belum terdapat potensi awan yang memungkinkan untuk pelaksanaan operasi tersebut.

"OMC tidak dilakukan karena tidak ada potensi awan," terang Berton.

BNPB memastikan pemantauan dan pencegahan karhutla tetap dilakukan meski kondisi udara mulai membaik. Penanganan melibatkan berbagai unsur, mulai dari TNI, Polri, Manggala Agni, petugas pemadam kebakaran, sektor swasta hingga masyarakat.

"Patroli dan sosialisasi pencegahan terus dilaksanakan secara maraton, meluas, dan terstruktur," pungkasnya.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya