Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah Provinsi Bali bersama PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI mulai menggarap proyek trem listrik bertenaga baterai. Trem ini digadang-gadang mampu mempercepat waktu tempuh sekaligus mengangkut hingga 60 ribu penumpang per hari pada kapasitas maksimalnya.
Trem tersebut akan dibangun untuk menyambungkan akses dari Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai menuju kawasan Canggu, Kabupaten Badung. Jalur ini setiap harinya menampung sekitar 150 ribu wisatawan dan 80 ribu kendaraan.
Advertisement
Dengan kapasitas 60 ribu penumpang per hari, kehadiran trem diharapkan mampu mengakomodasi sekitar 40% kepadatan mobilitas pada koridor Bandara–Canggu. Pada tahap awal operasional, trem diproyeksikan mengangkut sekitar 15 ribu hingga 20 ribu penumpang secara bertahap, dengan waktu tempuh sekitar 30 menit dan jeda keberangkatan (headway) antartrem sekitar 10 menit.
Kehadiran trem listrik ini diharapkan dapat mengurai kemacetan, meningkatkan mobilitas masyarakat dan wisatawan, memperkuat konektivitas kawasan pariwisata, serta mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi.
Dibangun Mulai Maret 2027
Rencana pengembangan jaringan trem di Bali ini resmi ditandai dengan penandatanganan kerja sama di Gedung Kertasabha, Denpasar, Selasa (1/9/2026). Trem listrik bertenaga baterai tersebut akan membentang sepanjang 12 kilometer (km) dari Bandara I Gusti Ngurah Rai hingga kawasan Canggu.
Peletakan batu pertama (groundbreaking) ditargetkan dimulai pada Maret 2027. Trase pertama diproyeksikan mulai beroperasi pada 2028, sedangkan seluruh jalur Bandara–Canggu ditargetkan rampung dan beroperasi penuh pada 2029.
"Infrastruktur transportasi harus dikembangkan secara hati-hati. Kemajuan teknologi tidak boleh menghilangkan identitas dan harmoni Bali," kata Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, Selasa (1/9/2026).
Solusi untuk Wilayah Padat
Gubernur Bali, Wayan Koster, menyebut kerja sama ini merupakan tindak lanjut atas usulan Kementerian PPN/Bappenas dan Pemprov Bali untuk membenahi fasilitas serta sistem transportasi nasional, khususnya di Kabupaten Badung yang kerap menghadapi kelumpuhan lalu lintas.
"Pengembangan transportasi harus tetap memperhatikan keunikan Bali, menjaga keindahan daerah, mendukung sektor pariwisata, serta tidak mengganggu kehidupan masyarakat," tegas Koster.
Ia menekankan bahwa pembangunan trem tidak boleh merusak ekosistem pariwisata Bali. Penataan jalur wajib memperhatikan keberadaan hotel, fasilitas wisata, lingkungan, pemukiman, hingga tata hidup warga sekitar.
"Kenyamanan wisatawan harus tetap dijaga. Keberadaan trem justru diharapkan dapat menjadi daya tarik baru bagi pariwisata Bali," lanjut Koster.
Dipilih Sesuai Karakteristik Bali
PT KAI memilih konsep trem—bukan MRT atau LRT—karena dinilai paling sesuai dengan karakteristik wilayah Bali. Moda transportasi ini dirancang ramah lingkungan, berbasis baterai tanpa kabel listrik gantung, beroksigen kebisingan rendah, serta berdimensi relatif ringkas.
Penggunaan baterai membuat koridor trem tidak membutuhkan instalasi kabel udara di sepanjang jalan. Jalur sepanjang 12 km ini dirancang menggunakan dua rel (double track) yang dilengkapi area persilangan (crossing line) untuk menjaga kelancaran operasional.
Lebar trase trem disiapkan sekitar 3 meter dengan lebar bodi trem 2 meteran. Dimensi ini relatif ringkas dan lebih ramping dibanding bus biasa, sehingga sangat ideal untuk dipadukan dengan jalanan Bali.