Rupiah Melemah ke 17.744 Tersengat Lonjakan Harga Minyak

Sentimen global terutama harga minyak membebani nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Selasa, (1/9/2026).

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 01 September 2026, 19:00 WIB
Petugas menunjukkan mata uang dolar AS (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) loyo pada penutupan perdagangan Selasa, (1/9/2026). Analis menuturkan, tekanan rupiah itu didorong lonjakan harga minyak dunia yang didorong eskalasi konflik Amerika Serikat (AS) dengan Iran.

Mengutip Antara, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS turun 22 poin atau 0,12% menjadi 17.744 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di 17.722 per dolar AS.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia bergerak menguat di level 17.727 per dolar AS dari sebelumnya 17.746 per dolar AS.

Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova menuturkan, koreksi rupiah terhadap dolar AS dibayangi lonjakan harga minyak menjadi US$ 91 per barel karena ketegangan konflik AS dengan Iran.

“Rupiah pada perdagangan hari ini melemah dipengaruhi oleh global kenaikan harga minyak seiring meningkatnya eskalasi konflik AS dan Iran,” tutur Rully.

Pasukan AS menghantam dua peluncur rudal Iran di Pulau Larak pada Minggu (30/8/2026), yang menandai serangan pertama terhadap wilayah Iran sejak akhir Juli.

Operasi tersebut, yang dilakukan setelah periode jeda selama sebulan dalam keterlibatan militer langsung, menargetkan sistem yang disinyalir sedang disiapkan untuk meluncurkan roket bermuatan ranjau laut ke Selat Hormuz.

Sebagai respons, Sputnik mengungkapkan bahwa pasukan bersenjata Iran dilaporkan melancarkan serangan terhadap posisi militer AS di Yordania.

Sentimen lain berasal dari meningkatnya ekspektasi inflasi dan kenaikan yield obligasi pemerintah AS.

"Ekspektasi inflasi AS bulanan 0,39 persen dan 3,6 persen tahunan. Yield obligasi pemerintah AS 10 tahun naik 5,8 bps (basis points) menjadi 4,77 persen dan 20 tahun naik 6,7 bps menjadi 5,27 persen," ujar Rully.

 

Rupiah Menguat ke 17.715 per Dolar AS, Investor Tunggu Data Inflasi

Dolar AS (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat tipis pada pembukaan perdagangan Selasa (1/9/2026). Pergerakan rupiah dipengaruhi koreksi dolar AS, sementara investor domestik memilih menunggu rilis data inflasi dan perdagangan Indonesia.

Rupiah dibuka menguat 7 poin atau 0,04 persen ke level 17.715 per dolar AS. Pada perdagangan sebelumnya, rupiah berada di posisi 17.722 per dolar AS.

Analis Doo Financial Lukman Leong mengatakan penguatan rupiah tidak terlepas dari pelemahan dolar AS.

"Rupiah diperkirakan dibuka datar dengan potensi menguat terbatas terhadap dolar AS yang terkoreksi," ucapnya mengutip Antara.

Koreksi dolar AS salah satunya dipengaruhi kekhawatiran pasar terhadap rencana pemerintah AS untuk meningkatkan pembelian kembali atau buyback obligasi jangka panjang.

Departemen Keuangan AS sebelumnya mengumumkan peningkatan nilai buyback obligasi jangka panjang menjadi sedikitnya US$ 4 miliar per operasi mulai 9 September 2026. Nilai tersebut meningkat dari sebelumnya sebesar US$ 2 miliar.

Kebijakan buyback tersebut menjadi salah satu sentimen yang dicermati pelaku pasar karena dapat memengaruhi pergerakan pasar obligasi dan nilai tukar.

Di dalam negeri, perhatian investor kini beralih ke sejumlah data ekonomi yang akan dirilis hari ini.

 

Investor Tunggu Data Inflasi dan Perdagangan Indonesia

Teller menunjukkan mata uang rupiah di bank, Jakarta (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Investor di pasar domestik cenderung mengambil sikap wait and see sambil menunggu data inflasi dan perdagangan Indonesia yang dijadwalkan dirilis siang ini.

Lukman memperkirakan data perdagangan Indonesia kembali menunjukkan defisit, terutama akibat meningkatnya impor yang dipengaruhi tingginya harga minyak mentah.

"Data perdagangan diperkirakan akan kembali menunjukkan defisit sekitar 300 juta dolar AS oleh lonjakan impor (dari harga minyak mentah yang tinggi) yang diperkirakan naik 24 persen, sedangkan inflasi yoy (year on year) diperkirakan naik dari 2,88 persen ke 3,13 persen," ungkap Lukman.

Perkembangan inflasi menjadi perhatian karena dapat memberikan gambaran mengenai tekanan harga di dalam negeri. Sementara data perdagangan akan menunjukkan kondisi ekspor dan impor Indonesia.

Selain sentimen domestik, pergerakan rupiah juga masih akan dipengaruhi kondisi dolar AS dan perkembangan pasar global.

Dengan mempertimbangkan berbagai sentimen tersebut, Lukman memperkirakan rupiah pada perdagangan hari ini bergerak dalam rentang 17.650 hingga 17.800 per dolar AS.

Dengan demikian, pelaku pasar masih akan mencermati perkembangan data ekonomi serta pergerakan dolar AS sebelum menentukan arah transaksi berikutnya.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya