Liputan6.com, Jakarta - Indeks acuan Kospi Korea Selatan kembali bangkit pada penutupan perdagangan saham Senin, (31/8/2026) setelah dibuka anjlok. Kenaikan indeks acuan Kospi Korea Selatan didorong aksi pembelian kembali atau buyback saham Samsung Electronics dan SK Hynix di tengah kekhawatiran mengenai potensi kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS) pada September 2026.
Mengutip the Korea Times, Senin pekan ini, won Korea Selatan terus menguat, dan ditutup di kisaran 1.360 won Korea Selatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) untuk pertama kali dalam 13 bulan.
Advertisement
Indeks Kospi Korea Selatan ditutup naik 0,46% menjadi 6.820,02, dari sesi sebelumnya. Indeks sempat dibuka turun 2,58%, tetapi mendapatkan momentum seiring bangkitnya saham-saham kapitalisasi besar pada perdagangan Senin sore.
Investor asing mencatatkan penjualan bersih saham senilai 640 miliar won atau US$ 467 juta. Nilai itu sekitar Rp 8,30 triliun (asumsi won terhadap rupiah 12.97). Sementara itu, investor institusi melepas saham dengan penjualan bersih 793 miliar won atau Rp 10,28 triliun.
Investor ritel juga menjadi penjualan bersih dengan melepas saham 144 miliar won atau Rp 1,86 triliun.
Investor korporasi mencatatkan pembelian bersih sebesar 1,57 triliun won atau Rp 20,36 triliun, menyerap sebagian besar tekanan jual yang terjadi. Mereka melanjutkan tren pembelian bersih di KOSPI hingga sesi kesembilan berturut-turut.
Aksi beli ini didukung oleh pembelian kembali saham dari perusahaan-perusahaan besar; Samsung Electronics memulai buyback pada 24 Agustus sebagai bagian dari program kompensasi karyawan, sementara SK hynix telah membeli kembali sahamnya sendiri senilai antara 700 miliar won atau Rp 9,08 triliun hingga 1 triliun won atau Rp 12,97 triliun setiap harinya sejak 20 Agustus.
Saham SK hynix naik 1,27 persen menjadi 1.674.000 won, sedangkan Samsung Electronics menguat 1,17 persen menjadi 260.000 won.
Sentimen Pasar
Sentimen pasar terbebani oleh kekhawatiran mengenai potensi kenaikan suku bunga AS. Ketua Federal Reserve, Kevin Warsh, menyampaikan pandangan yang hati-hati terkait inflasi dalam Simposium Ekonomi Jackson Hole di Wyoming, yang memicu kekhawatiran bank sentral AS dapat menaikkan suku bunga acuan pada September.
Pasar juga menghadapi tekanan akibat kekhawatiran bahwa lonjakan pendapatan semester pertama perusahaan China, CXMT, dapat menjadi sinyal tantangan yang kian besar bagi produsen cip memori mapan seperti Samsung Electronics dan SK hynix.
Ketegangan militer yang kembali memanas antara AS dan Iran selama akhir pekan turut meningkatkan sikap menghindari risiko (risk aversion), sehingga mendorong harga minyak global naik lebih dari 1 persen. Indeks Kosdaq turun 0,49 persen menjadi 834,29.
Nilai tukar won terhadap dolar ditutup pada level 1.368,6 won per dolar, turun 3,9 won dibandingkan sesi sebelumnya. Nilai tukar tersebut turun ke level terendah sejak 24 Juli tahun lalu, saat berada di angka 1.367,2 won per dolar.