Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak melonjak pada Senin, 31 Agustus 2026 setelah pecahnya kembali pertempuran di Selat Hormuz. Ini menyoroti risiko terhadap pasokan dari Timur Tengah setelah berbulan-bulan konflik berlangsung.
Mengutip Yahoo Finance, Senin, (31/8/2026), harga minyak Brent untuk pengiriman November naik melampaui US$ 90 per barel. Harga minyak Brent berjangka naik 2,52% atau US$ 2,22 menjadi US$ 90,32 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran US$ 86 per barel. Harga minyak WTI naik 2,41% atau US$ 2,01 menjadi US$ 85,41 per barel.
Advertisement
Militer Amerika Serikat (AS) menyerang peluncur roket Iran yang bersiap menebar ranjau di jalur perairan itu pada Minggu, 30 Agustus 2026 waktu setempat. Hal itu berdasarkan Kapten Tim Hawkins, juru bicara Komando Pusat AS, sehingga mengakhiri masa ketenangan relatif yang telah berlangsung selama beberapa minggu.
Minyak mentah menutup bulan yang penuh gejolak, di mana harga kontrak berjangka Brent berfluktuasi dalam rentang hampir US$17 per barel. Harga terombang-ambing oleh upaya yang tersendat-sendat untuk mengakhiri pertempuran, serta janji Washington untuk memaksa Teheran menyerah dengan meningkatkan upaya isolasi dan melumpuhkan ekonomi Iran. Meski demikian, para analis menilai tindakan AS tersebut kurang memberikan dampak signifikan.
Walaupun tanpa kesepakatan damai antara Washington dan Teheran, sekitar 6 juta hingga 8 juta barel minyak mentah per hari tetap mengalir melalui Selat Hormuz, menurut para pedagang yang memantau pergerakan kargo. Secara terpisah, kantor berita semi-resmi Iran, Mehr, melaporkan bahwa lalu lintas kapal di sepanjang rute yang disetujui oleh Republik Islam tersebut "berlangsung secara terbatas," dengan kapal-kapal yang dikabarkan membayar biaya lintas (tol).
Aktivitas perdagangan kontrak berjangka Brent mungkin lebih rendah dari biasanya pada sesi Senin, mengingat sebagian wilayah Inggris termasuk Inggris Raya sedang merayakan hari libur nasional.
Harga Minyak Pekan Lalu
Sebelumnya, harga minyak mencatat penurunan mingguan pada Jumat, 28 Agustus 2026. Tekanan harga minyak dunia ini terjadi seiring pelaku pasar menimbang situasi pembicaraan diplomatik Amerika Serikat (AS)-Iran yang ‘macet’ terhadap arus pengiriman minyak mentah yang mulai kembali mengalir melalui Selat Hormuz.
Mengutip CNBC, Sabtu (29/8/2026), harga minyak Brent turun 39 sen dan ditutup di US$ 89,31 per barel. Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) susut 13 sen ke posisi US$ 83,40. Dua harga minyak acuan itu mengakhiri pekan ini dengan penurunan yang ditunjukkan harga minyak Brent susut lebih dari 5%. Harga minyak WTI terpangkas 4%.
"Kombinasi antara taktik AS yang beralih ke sanksi ekonomi alih-alih tekanan militer, serta wacana mengenai koridor bersama Oman-Iran telah menyebabkan penurunan premi risiko,” ujar Kepala Riset DBS Bank, Suvro Sarkar.
Arus Minyak di Selat Hormuz
Awal pekan ini, AS mengumumkan apa yang mereka sebut sebagai "sanksi terberat dalam sejarah" terhadap Iran. Teheran menyatakan bahwa sanksi tersebut merupakan "tindakan tidak manusiawi dan bermusuhan" yang sudah tidak lagi efektif.
Perdana Menteri Qatar bertemu dengan para pemimpin senior Iran di Teheran pada Kamis, menekankan pentingnya kembali ke status pra-perang di mana pelayaran melalui jalur air internasional tersebut berlangsung terbuka.
Namun, pemulihan arus minyak melalui Selat Hormuz, jalur yang dilewati oleh 20% pasokan minyak dunia berlangsung tidak stabil.
Data awal pelayaran pada Jumat menunjukkan tujuh kapal komoditas melintas pada Kamis; angka ini turun dari 17 kapal sehari sebelumnya dan berada di bawah rata-rata 10 hari terakhir yang sebesar 15 kapal.
Sentimen Harga Minyak Lainnya
Di Bab el-Mandeb, titik sempit (chokepoint) maritim utama lainnya, tercatat 17 kapal komoditas melintas, dengan rincian enam kapal masuk dan 11 kapal keluar.
Pada Kamis, Goldman Sachs memperkirakan total ekspor dari kawasan Teluk baru-baru ini berkisar antara 15 juta hingga 16 juta barel per hari; angka ini 7 juta hingga 8 juta barel per hari di bawah tingkat pra-perang, tetapi 5 juta hingga 6 juta barel per hari di atas titik terendah pada Maret.
"Sikap kami adalah bersiap menghadapi segala kemungkinan namun tidak membuat prediksi apa pun," kata Analis di PVM Oil Futures, John Evans.
"Dampaknya terkait siapa yang akan bergabung atau keluar dari OPEC, bagaimana permintaan China terpengaruh, serta apakah masalah kilang global dapat teratasi semuanya sangat bergantung pada situasi perang yang penuh ketidakpastian ini,” ujar dia.
Para pejabat pemerintahan Trump sedang mengupayakan kesepakatan untuk mendapatkan akses jangka panjang terhadap sebagian cadangan minyak mentah Venezuela, menurut sumber-sumber yang mengetahui perundingan tersebut pada hari Kamis; langkah ini pada akhirnya dapat menurunkan biaya impor minyak.