Kronologi Demo Kader NU Ricuh, Minta Bertemu Gus Ipul

Aksi unjuk rasa kader Nahdlatul Ulama di Gedung Graha Serbaguna Pondok Pesantren Bahrul Ulum berujung ricuh saat massa mencoba menerobos rapat pleno.

oleh Erwin yohanesDiterbitkan 30 Agustus 2026, 14:41 WIB
Kader NU ricuh di rapat pleno Muktamar ke-35. (merdeka.com/Erwin Yohanes)

Liputan6.com, Jakarta - Situasi di area rapat pleno Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) yang berlangsung di Gedung Graha Serbaguna Pondok Pesantren Bahrul Ulum memanas pada Minggu (30/8/2026).

Massa yang mengaku sebagai kader NU menggelar aksi unjuk rasa yang berujung pada kericuhan di lokasi Muktamar.

Pantauan merdeka.com, ketegangan bermula ketika massa aksi berusaha menerobos masuk ke dalam ruang rapat pleno. Aksi tersebut sempat menembus barikade keamanan lapis pertama yang dijaga oleh personel Banser, sebelum akhirnya berhasil melintasi pintu pengamanan kedua.

Kericuhan memuncak saat massa mencoba menembus pintu keamanan terakhir yang berada tepat di depan gedung serbaguna. Petugas keamanan terus berupaya menghalangi massa, yang mengakibatkan terjadinya aksi baku pukul di lokasi kejadian.

Aksi Saling Dorong dan Tuntutan Massa

Dalam upaya mempertahankan posisinya, seorang petugas keamanan dari tim "SIGAP" melaporkan bahwa dirinya sempat terkena pukulan pada bagian leher. Meski merasakan sakit, petugas tersebut tetap bertahan di pintu pengamanan terakhir untuk mengamankan jalannya rapat.

Di tengah kerumunan, orator massa yang memegang megaphone terus melayangkan tuntutan agar panitia menghadirkan Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, selaku ketua panitia muktamar. Mereka memberikan waktu kepada panitia untuk memenuhi permintaan tersebut.

"Mana Ipul (Gus Ipul/Saifullah Yusuf), mana. Kita minta pada panitia agar menghadirkan Ipul," ujar pimpinan massa.

Protes Aturan Muktamar

Selain menuntut kehadiran Gus Ipul, orator aksi juga menyampaikan keberatan terkait aturan muktamar yang dinilai tidak adil. Mereka menganggap terdapat perubahan aturan yang merugikan kelompok tertentu.

"Ketua panitia yang mendzalimi kami. Kami sama sama punya hak untuk menyampaikan aspirasi. Siapa yang bisa mendatangkan Gus Ipul," ungkapnya.

Ia juga menyoroti adanya perubahan kebijakan secara mendadak yang dinilai menguntungkan pihak tertentu.

"Saya minta sidang di skors sampai Gus Ipul datang. Ada perubahan tiba - tiba oleh pak Nuh, ini merugikan sebagian orang dan menguntungkan sebagian kelompok," tegasnya.

Hingga pukul 14.30 WIB, petugas keamanan panitia dan massa aksi masih terlibat aksi saling dorong serta terus berhadapan di lokasi rapat pleno.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya