IHSG Sepekan Melemah ke 6.518, Harga Emas hingga Aksi Demo Mempengaruhi

Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik arah pada pekan ini meski turun tipis pada perdagangan saham 24-28 Agustus 2026.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 29 Agustus 2026, 10:32 WIB
Aktivitas pekerja di depan layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI, Jakarta (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah tipis pada perdagangan saham 24-28 Agustus 2026. Koreksi IHSG sepekan dipengaruhi sejumlah sentimen internal dan eksternal. Salah satunya arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat (AS) atau the Federal Reserve (the Fed) hingga harga emas.

Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Sabtu (29/8/2026), IHSG turun 0,12% sehingga ditutup ke 6.518,12 dari pekan lalu di posisi 6.525,69. Sementara itu, kapitalisasi pasar terpangkas 0,16% menjadi Rp 11.431 triliun dari Rp 11.449 triliun pada pekan lalu.

Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menuturkan, sepanjang pekan ini, IHSG bergerak terkoreksi 0,12% dan disertai dengan munculnya tekanan jual, tetapi pergerakannya masih mampu berada di atas MA20. Dari sisi sentimen, pihaknya memperkirakan sejumlah faktor.

Pertama, investor mencermati Jackson Hole Symposium yang berlangsung pada pekan ini untuk melihat arah kebijakan The Federal Reserve (the Fed) ke depan, meskipun secara probabilitas The Fed masih cenderung mempertahankan suku bunga acuannya di level 3,50%-3,75%.

Kedua, pergerakan harga emas dan minyak dunia yang masih konsolidasi di tengah menurunnya tensi geopolitik Timur Tengah. Ketiga, rebalancing MSCI diperkirakan masih menjadi perhatian investor yang disebabkan masa efektif per 1 September 2026, di mana dikhawatirkan akan adanya potensi outflow yang besar.

“Adanya gejolak politik dalam negeri yang menyebabkan adanya aksi demonstrasi dari masyarakat, namun sudah berangsur kondusif,” ujar Herditya.

Selain itu, rata-rata nilai transaksi harian juga susut 1,84% menjadi Rp 15,29 triliun dari Rp 15,57 triliun pada pekan lalu. Rata-rata volume transaksi harian BEI terpangkas 28,33% menjadi 36,05 miliar saham dari pekan sebelumnya 50,30 miliar saham. Di sisi lain, rata-rata frekuensi transaksi harian juga terpangkas 2,64% menjadi 2,15 juta kali transaksi dari 2,21 juta kali transaksi pada pekan lalu.

IHSG Sepekan Melambung Hampir 2%, 5 Faktor Ini Mempengaruhi

Pejalan kaki melintas dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di kawasan Jakarta. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat signifikan pada perdagangan saham 18-21 Agustus 2026. Kenaikan IHSG sepekan didorong sentimen eksternal dan internal. Dari sentimen internal yakni Bank Indonesia (BI) yang tetap mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate tetap di level 5,75%.

Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Sabtu (22/8/2026), IHSG melompat 1,93% ke level 6.525,69 dari posisi 6.401,88 pada pekan lalu. Kapitalisasi pasar melambung 1,81% menjadi Rp 11.449 triliun dari Rp 11.243 triliun.

Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menuturkan, selama sepekan IHSG naik 1,93% ke 6.525 dan disertai dengan munculnya volume pembelia, sehingga IHSG mampu ditutup di atas moving average (MA) 20 harian. Ia mengatakan, IHSG sepekan dipengaruhi sejumlah sentimen.

 

 

Sentimen BI Rate

Layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI, Jakarta, Rabu (4/3/2020). IHSG kembali ditutup Melesat ke 5.650, IHSG menutup perdagangan menguat signifikan dalam dua hari ini setelah diterpa badai corona di hari pertama pengumuman positifnya wabah corona di Indonesia. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Pertama, BI Rate diputuskan tetap di level 5,75% sesuai harapan konsensus, di mana diperkirakan hal itu untuk menjaga kestabilan nilai tukar rupiah dan inflasi. Kedua, FOMC Minutes yang terjadi pada pekan ini masih terdapat pendapat hawkish dari tiga gubernur the Federal Reserve (the Fed).

"Namun demikian, secara probabilitas masih menunjukkan Fed Rate akan tetap di 3,5%-3,75%,” kata Herditya saat dihubungi Liputan6.com.

Faktor ketiga, penguatan harga komoditas emas setelah pemerintah Amerika Serikat melakukan buyback sehingga imbal hasil obligasi pemerintah AS turun. Faktor keempat, kenaikan harga minyak mentah dunia akibat kembali memanasnya Timur Tengah. Faktor kelima, defisit transaksi berjalan Indonesia pada kuartal II 2026 yang berada US$ 12,49 miliar atau setara dengan 3,3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Selain itu, rata-rata volume transaksi harian BEI mengalami kenaikan tertinggi 47,90% menjadi 50,30 miliar saham dari 34,01 miliar saham pada pekan lalu.

Selanjutnya, rata-rata frekuensi transaksi harian melambung 5,52% menjadi 2,21 juta kali transaksi dari 2,09 juta kali transaksi. Di sisi lain, rata-rata nilai transaksi harian naik 2,36% menjadi Rp 15,57 triliun dari Rp 15,21 triliun pada pekan lalu.

Selain itu, investor asing melakukan aksi beli saham Rp 2,23 triliun pada pekan ini. Pekan lalu, investor asing melakukan aksi jual saham Rp 1,58 triliun.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya