Liputan6.com, Oslo - Pada 1999, Mette-Marit masih berusia 25 tahun. Ia merupakan seorang ibu tunggal yang belum menikah dan tidak memiliki status bangsawan.
Namun, hidupnya berubah setelah bertemu Putra Mahkota Norwegia saat itu, Haakon, di festival musik Quart di Kristiansand, kota kelahirannya.
Advertisement
Dikutip dari Independent, Sabtu (29/8/2026), Haakon, yang baru saja resmi menjadi Raja Haakon VIII setelah ayahnya, Raja Harald V, meninggal dunia, kemudian mengenang pertemuan tersebut dalam autobiografinya.
“Saya hanya memandangnya. Dia seperti cahaya,” tulis Haakon.Keduanya menjalani hubungan secara diam-diam selama beberapa bulan sebelum akhirnya diketahui publik.
Mette-Marit kemudian menolak upaya media menggambarkan kisah cintanya sebagai kisah Cinderella di dunia nyata.
“Apa yang terjadi antara Haakon dan saya terjadi antara dua orang biasa,” ujarnya.Namun, hubungan tersebut sejak awal tidak berjalan mudah. Pemberitaan media ketika itu banyak menyoroti masa lalu Mette-Marit, termasuk kehidupannya di lingkungan musik house Norwegia. Muncul pula pertanyaan mengenai kepantasannya bergabung dengan keluarga kerajaan.
Haakon dan ayahnya, Raja Harald, yang juga pernah menikahi seorang perempuan biasa, tetap mendukungnya. Meski demikian, tekanan publik tersebut menjadi awal dari serangkaian benturan antara kehidupan pribadi dan status publik Mette-Marit.
“Ketidaknyamanan dari tahun itu masih bersama saya. Merasa diburu adalah perasaan yang luar biasa berat,” demikian Mette-Marit dikutip dalam buku Haakon.
Ia juga menggambarkan pengalaman tersebut sebagai sesuatu yang sangat menyakitkan karena kehidupan masa lalunya seolah dibersihkan dari kesalahan di hadapan publik.
Masa Lalu yang Tak Mudah
Mette-Marit Tjessem Hoiby lahir di Kristiansand pada 19 Agustus 1973. Ia merupakan putri seorang jurnalis dan pegawai bank. Kedua orang tuanya bercerai ketika ia masih kecil dan Mette-Marit kemudian tinggal bersama ibu serta saudara-saudaranya.
Mengenang masa mudanya, Mette-Marit mengakui bahwa ketika itu ia sengaja menjalani kehidupan yang berlawanan dengan norma yang berlaku.
“Pada saat itu, penting bagi saya untuk hidup melawan apa yang diterima. Itu juga membuat saya menjalani kehidupan yang cukup liar,” katanya kepada wartawan pada 2001.
“Saya berada di lingkungan tempat berbagai hal dicoba dan kami melewati batas.”
Pada tahun yang sama, Mette-Marit menikah dengan Haakon. Pada awalnya, ia kesulitan menyesuaikan diri dengan posisi barunya sebagai anggota keluarga kerajaan.
Namun, seiring waktu, ia mulai merasa lebih nyaman dengan perannya dan mampu menunjukkan dirinya sendiri.
Sejarawan sekaligus penulis sejumlah buku tentang monarki Norwegia, Trond Noren Isaksen, menilai kekuatan Mette-Marit terletak pada “kehangatan pribadinya yang luar biasa” serta kemampuannya terhubung dengan orang lain.
Setelah menikah, ia hanya menggunakan nama Mette-Marit karena keluarga kerajaan Norwegia tidak menggunakan nama belakang.
Menemukan Peran di Keluarga Kerajaan
Antara 2000 dan 2002, Mette-Marit mempelajari etika di University of Oslo. Pada 2003, ia mengikuti sejumlah kursus di School of Oriental and African Studies di London, dengan fokus pada pembangunan internasional, HIV/AIDS, dan isu pengungsi.
Ia kemudian menaruh perhatian besar pada bidang sastra. Mette-Marit turut mempromosikan penulis Norwegia seperti Karl Ove Knausgaard ke luar negeri dan mendorong anak-anak untuk gemar membaca.
Perlahan, ia menemukan tempatnya sebagai pasangan anggota kerajaan. Ia menjadi patron sejumlah badan amal, menghadiri berbagai acara, sekaligus membesarkan anak-anaknya.
Mette-Marit memiliki putra sulung, Marius Borg Høiby, serta dua anak bersama Haakon, yakni Ingrid Alexandra yang berada dalam garis berikutnya menuju takhta dan Sverre Magnus.
Di luar negeri, ia aktif mengampanyekan isu kesehatan global, dengan perhatian pada pemberdayaan perempuan dan kesehatan reproduksi. Ia juga menjadi duta niat baik untuk program PBB mengenai HIV/AIDS.
Aktivitas tersebut mempertemukannya dengan berbagai donor, penggalang dana, dan tokoh internasional, termasuk Jeffrey Epstein, terpidana pelaku kejahatan seksual asal Amerika Serikat.
Kembali Jadi Sorotan karena Epstein
Pada Januari 2026, Mette-Marit kembali berada di bawah sorotan media setelah email pribadinya dengan Epstein dirilis oleh Departemen Kehakiman AS.
Korespondensi tersebut ternyata berlanjut setelah Epstein menjalani hukuman atas kasusnya.
Dalam salah satu email yang dirilis, tertanggal Oktober 2011, Mette-Marit mengatakan kepada Epstein bahwa ia telah mencarinya melalui Google dan setuju bahwa reputasinya “tidak terlihat terlalu baik”, diikuti emotikon senyum.
Mette-Marit kemudian meminta maaf kepada keluarga kerajaan. Skandal tersebut turut berdampak pada dukungan terhadap monarki Norwegia.
Dalam jajak pendapat pada Februari 2026, sekitar 60 persen warga Norwegia menyatakan mendukung monarki, turun dari 70 persen pada bulan sebelumnya.
Dalam jajak pendapat lain yang dilakukan untuk stasiun televisi TV2, sebanyak 47,6 persen responden mengatakan Mette-Marit seharusnya tidak menjadi ratu, sementara 28,9 persen mengatakan ia seharusnya menjadi ratu.
Tujuh minggu setelah kabar tersebut mencuat, Mette-Marit mengatakan kepada penyiar publik NRK bahwa dirinya berharap tidak pernah bertemu Epstein.
Dalam wawancara emosional tersebut, ia mengatakan dirinya telah dimanipulasi dan ditipu.
Cobaan Keluarga Belum Berakhir
Skandal Epstein muncul ketika putra sulung Mette-Marit, Marius, 29 tahun, sedang menjalani persidangan atas kasus pemerkosaan dan kekerasan dalam rumah tangga.
Marius membantah tuduhan tersebut, tetapi mengakui sejumlah pelanggaran yang lebih ringan.
Pada Juni, ia dinyatakan bersalah atas dua dari empat dakwaan pemerkosaan serta satu dakwaan kekerasan dalam rumah tangga. Ia kemudian dijatuhi hukuman empat tahun penjara.
Baik Marius maupun jaksa telah mengajukan banding atas putusan tersebut.
Mette-Marit tidak memberikan pernyataan publik mengenai persidangan itu. Haakon kemudian menjadi pihak yang berbicara kepada media.
Di tengah berbagai persoalan tersebut, Mette-Marit juga menghadapi masalah kesehatan yang membuatnya harus mengurangi beban pekerjaannya.
Ia menderita fibrosis paru kronis, kondisi yang membuatnya lebih sulit bernapas dan menyebabkan tubuhnya mudah kelelahan.
Perjalanan Mette-Marit dari seorang ibu tunggal tanpa status bangsawan hingga menjadi bagian dari keluarga kerajaan Norwegia telah dipenuhi perubahan besar. Dari kisah cinta yang sempat menuai kontroversi, upaya membangun peran sebagai anggota kerajaan, hingga berbagai persoalan keluarga dan kesehatan, kehidupannya terus menjadi sorotan publik.